al-quran

Pada surat Al Haaqqah ayat ke 38 serta ke-39, Allah berfirman, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” Ada beberapa pendapat dari para ulama mengenai tafsir ayat tersebut, khususnya mengenai kalimat “apa yan{jcomments on}g kamu lihat dan yang tidak kalian lihat.” Adapun pendapat yang ada tidak saling bertentangan, sebaliknya pendapat-pendapat yang ada tersebut saling melengkapi dan dapat menyebutkan contohnya masing-masing. Pendapat yang tidak saling bertentangan dan bertolak belakang ini disebut sebagai ikhtilaf tanawu’.

Dalam tafsir karya Imam as Salaby disebutkan beberapa pendapat mengenai makna dari ayat yang telah disebutkan di atas. Pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Makna dari kalimat “apa yang kamu lihat” adalah dunia, sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” memiliki makna akhirat.

[2] Makna dari kalimat “apa yang kamu lihat” adalah segala sesuatu yang ada di permukaan bumi atau di langit yang masih bisa kita saksikan. Sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” memiliki makna sebaliknya, yakni segala sesuatu yang ada di dalam perut bumi dan itu tidak nampak oleh kita.

[3] Makna dari kalimat “apa yang kamu lihat” adalah segala sesuatu yang bersifat fisik dan nampak oleh mata kita. Adapun kalimat “apa yang tidak kamu lihat” bermakna ruh, artinya tidak nampak oleh mata kita.

[4] Kalimat “apa yang kamu lihat” bisa bermakna nikmat-nikmat yang nampak oleh kita. Sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” bermakna sebaliknya, yakni segala nikmat yang tidak tampak oleh kita

[5] Ja’far ash Shodiq mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kalimat “apa yang kamu lihat” adalah apa yang Allah perbuat dari semua yang menjadi kekuasaan Allah, seperti penciptaan-Nya akan matahari, langit, bumi, gunung dan sebagainya. Sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” memiliki makna kebaikan Allah terhadap wali-Nya.

[6] Tafsiran yang lain mengatakan bahwa makna dari kalimat “apa yang kamu lihat” adalah semua yang Allah tampakkan kepada para malaikat. Sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” bermakna semua yang Allah rahasiakan mengenai ilmu-Nya, atau apa yang tidak Allah berikan kepada makhluk-Nya.

[7] Juga disebutkan bahwa kalimat “apa yang kamu lihat” memiliki makna manusia. Sedangkan kalimat “apa yang tidak kamu lihat” bermakna jin dan manusia.

Kesemua pendapat dari para ulama mengenai tafsiran ayat ke-38 serta 39 surat Al Haaqqah, jika diringkas, seperti yang dikatakan oleh Imam as Salabi, akan merujuk kepada semua yang ada di alam semesta beserta makhluk-Nya. Selanjutnya syaikh Abdurrahman as Salabi dalam tafsirnya menyebutkan juga bahwa termasuk dalam pengertian kalimat “apa yang tidak kamu lihat” adalah Dzat Allah Yang Maha Suci. Makna dari kedua ayat di atas secara keseluruhan jika dikaitkan dengan ayat selanjutnya adalah bahwa Allah bersumpah dengan seluruh makhluk-Nya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, bahkan bersumpah dengan Dzat-Nya Yang Maha Suci untuk menegaskan bahwa Rasul yang diutus-Nya benar-benar utusan Allah yang mulia.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa sumpah Allah dengan semua makhluk-Nya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, memperlihatkan ksempurnaan Allah dalam Asma’ dan Sifat-Nya.

Sumpah tidak perlu dilakukan/diucapkan oleh orang yang dikenal jujur. Jika hal tersebut dilakukan, maka itu menunjukkan bahwa apa yang diucapkan itu penting. Jika suatu pernyataan yang dikeluarkan oleh seseorang dengan didahului sumpah saja menunjukkan bahwa apa yang diucapkannya itu penting, apalagi jika sumpah itu diucapkan oleh Allah, yang mana tidak ada satupun dzat yang lebih benar ucapannya dari Allah. Maka, jika ada suatu ayat di dalam Al Quran yang didahului dengan sumpah, hal ini menunjukkan bahwa ada suatu hal yang ingin ditegaskan di sana.

Pada ayat ke-40, Allah berfirman, “Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” Penjelasan posisi Rasul di sini adalah sebagai penyampai. Adapun perkataan yang diucapkannya bersumber dari Allah.

Sedangkan pada ayat ke-41, Allah berfirman, “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” Dalam ayat ini Allah menolak tuduhan orang-orang musyrik bahwa Muhammad adalah seorang penyair. Bahkan mereka juga mengatakan bahwa orang romawilah yang mengajarkan kepada Rasulullah mengenai apa yang yang diucapkannya (Al Quran). Padahal semua orang tahu di masa itu bahwa orang Romawi bukanlah orang Arab. Bahkan Rasulullah tidak dikenal sebagai seorang penyair di masanya dan tidak seorangpun yang mengatakan bahwa Al Quran merupakan syair.

Al Quran memang memiliki kesamaan dengan syair dari sisi sastra, akan tetapi dari sisi makna, tidak ada satupun syair yang mampu mengalahkan Al Quran. Hal ini dikarenakan kedalaman makna yang ada dalam Al Quran itu sendiri selain karena keindahan bahasanya. Saat Musailamah al Kadzab, seorang nabi palsu, membuat ayat-ayat yang digunakan untuk menandingi Al Quran, maka hal ini dengan serta merta ditolak oleh semua penyair Arab. Sebab mereka bisa membedakan mana yang merupakan bahasa Al Quran dan mana yang merupakan bahasa syair. Dan seperti yang telah disebutkan di awal, tidak ada satupun bahasa syiar yang mampu menandingi kedalaman makna Al Quran, walaupun bisa jadi memiliki akhiran sajak serta keindahan bahasa yang sama.

Selanjutnya pada ayat ke-42 Allah berfirman, “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.” Dalam ayat ini Allah juga membantah bahwa nabi merupakan seorang tukang tenung/tukang sihir. Ketika itu setiap orang di masanya diperingatkan oleh kaum musyrik untuk menjauhi seorang tukang sihir bernama Muhammad. Peringatan semacam ini justru membuat/mengakibatkan orang-orang semakin penasaran. Sebab tukang sihir pada waktu itu sudah dianggap biasa oleh masyarakat. Begitu pula dengan tuduhan gila yang dilontarkan kepada Rasulullah. Yang mana tuduhan semacam ini semakin membuat rasa penasaran bagi orang-orang di masanya, sebab Rasulullah tidak memiliki kesamaan sifat seperti halnya orang gila di masa itu. Masyarakat Arab dapat membedakan pula mana yang gila dan mana yang tidak.

Dr. Yahya bin Ibrahim Al Yahya menjelaskan bahwa Rasulullah tidak pernah menjawab tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kaum musyrik. Beliau tidak pernah menjawab bahwa beliau bukan tukang sihir, juga tidak pernah mengatakan bahwa beliau bukan orang gila seperti yang dituduhkan oleh orang-orang musyrik di zamannya. Sebaliknya dengan keyakinan dan manhaj yang dimilikinya, tuduhan-tuduhan itu berbalik menjadi kemenangan bagi dienul Islam. Tuduhan-tuduhan semacam ini bisa dikatakan sebagai upaya orang-orang musyrik untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap diri Nabi. Tindakan orang-orang musyrik untuk menghentikan dakwah Nabi dengan cara-cara tersebut merupakan upaya untuk membentuk opini di masyarakat, suatu hal yang lazim kita temui di masa sekarang.

Walaupun demikian, banyak diantara orang-orang musyrik yang masih memiliki hati nurani dan mau menerima ajaran Nabi di tengah derasnya tuduhan-tuduhan yang ditujukan oleh orang-orang musyrik kepada diri Nabi.

Selanjutnya pada ayat ke-43 Allah berfirman, “Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Hal ini merujuk pada kata turun pada kalimat di atas. Secara logika kata turun pasti berasal dari atas dan bukan berasal dari bawah. Tidak pernah ada orang mengatakan bahwa ia turun dari lantai 2 ke lantai 3. Dalil semacam ini menjadi penguat dan bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah berada di mana-mana. Jika yang demikian itu benar adanya (bahwa Allah berada dimana-mana) maka ayat tersebut salah karena mengatakan bahwa Al Quran diturunkan karena antara Allah dengan makhluk-Nya sejajar. Ada banyak dalil yang menyebutkan bahwa Allah berada di atas, berada di arsy-Nya. Dan diantara dalil-dalil yang ada itu salah satunya adalah dalil yang memberitakan peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah. Wallahu’alam

Pertanyaan kajian

Allah itu di atas, tapi saya pernah mendengar bahwa Allah itu dekat, sedekat tenggorokan ketika beribadah, maksudnya bagaimana?

Jawaban

Kedekatan Allah bisa bermakna kedekatan ilmu-Nya. Artinya Allah selalu mengetahui setiap gerak-gerik kita di manapun berada. dapat pula bermakna bahwa pertolongan Allah dekat, atau dekat dengan pengawasan-Nya. Yang jelas apa yang sebenarnya kita lakukan pada hakikatnya tidak lepas dari pengawasan Allah. yang demikian ini tidak kontradiksi dengan dalil yang mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, karena Allah tidak sama dengan makhluk-Nya.

Ketika kita beribadah, kita bisa merasakan kedekatan kia dengan-Nya. akan tetapi bukan berarti Allah harus mendekat dan turun ke kita sehingga arsy-Nya kosong. karena seperti yang telah dikemukakan di atas, Allah berbeda /tidak sama dengan makhluk-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *