Mengintai Pagi

pagi

Aku telah lama merindukan suasana seperti ini, menikmati dingin kabut putih yang terus memberikan kesejukan tersendiri dalam dekapan pagi. Celotehan jangkrik yang malam tadi memenuhi seisi desa sekarang sudah tak terdengar lagi. Cahaya redup bidadari malam dan rangkaian menakjubkan dari bintang bintang tergantikan oleh cahaya putih pangeran matahari.Beningnya embun menandakan betapa sucinya ia. Menghiasi tiap helai dedaunan tuk memberikan efek warna pelangi indah kala mentari menerpa. Kusadari keindahan itu hanya sesaat, mentari  harus kembali mengantarnya kelangit dan menjadi awan putih berlapis harapan para petani tuk mengubahnya menjadi hujan suatu hari nanti.

Kedatangan mentari disambut meriah oleh nyanyian burung burung kecil yang telah bersiap tuk berburu rizki dari Sang Maha Pemurah. Burung-burung yang selalu yakin akan rizkinya yang telah diberi kadar masing-masing oleh Tuhan mereka, tak kurang, dan tak lebih. Ia yakin Tuhannya kan memberikan apa yang selama ini dia butuhkan, bebepa butir biji-bijian sebagai sumber energi tuk mempertahankan nafas di hari ini. Mereka mulai mengembangkan sayap dan terbang riang dengan diiringi kicauan merdu tuk menyanyikan melodi pagi yang tertulis dalam lirik-lirik syair alam gubahan penghuni bumi. Berkejar-kejaran diantara deras panas mentari dan desahan angin pagi.

Tawa renyah anak-anak berseragam putih merah terdengar begitu bebas tanpa beban. Begitu ceria, tak nampak di wajahnya guratan pikiran akan nasibnya sekarang. menggendong tas ransel kecil yang sudah mulai lusuh berisikan buku-buku pelajaran yang sampulnya sudah agak sobek dan lembarannya banyak yang terlepas. Tapi aku melihat luapan semangat yang begitu tinggi dari mereka tuk belajar dan menjadi pemimpin dari bangsa ini suatu saat nanti.

Lelaki setengah baya yang memanggul cangkul di pundaknya dan sabit terselip di celananya berkjalan beriringan dengan beberapa ekor sapi telah dipersiapkan sebelumnya untuk membajak sawah. Senyum khas penduduk desa terlintas di bibirnya saat dia menoleh kearahku. Warna kulit yang sudah menghitam akibat setiap hari bermandikan panas matahari. Dia tak peduli tentang apa yang diperdebatkan oleh orang yang mengaku sebagai “wakil” mereka di sana. Harapan mereka sederhana, mereka hanya ingin agar bisa tetap makan hari ini.

Mimpi indah yang terputus seolah tergantikan oleh indahnya hari ini. Tinggal kita sendiri yang memutuskan tuk menulis kisah apa hari ini. Karena hidup kita adalah sebuah buku, tidak peduli seburuk apa cerita di halaman yang lalu karena kan selalu ada halaman baru yang masih putih tuk kita berikan goresan indah cerita tentang kehidupan yang penuh dengan makna dan perbaikan.

Selamat menikmati hari ini.

Dalam kedamaian suasana pedesaan,  juli 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X