Mbak Intan

muslimah

“Maaf, Akhi(panggilan untuk lelaki)…. Tak sepantasnya antum(kamu)berbicara demikian”, ucapnya disalah satu siang saat kesibukan di organisasi mulai memuncak. Orang wara- wiri mencari sesuatu tuntuk diselesaikan, atau justru mereka mencari sesuatu untuk sekedar menutupi keluangan waktunya.

“Kaya nggak pernah ngaji aja”, begitu singkat dan cepat membuat diriku berat untuk lepas dari tempat duduk. Melekat marah tertumpu pada badan, mengumpul dan tak segera lepas.

Kidung murottal dari iPod keluaran terbaru menemaniku sesaat sebelum dhuhur, setelah dia begitu keras membentakku dan hatiku kaku takut bertatap muka dengannya. Ar-rahman surat ke-55 menjadi pelepas kesal dan lelahnya badan. Surat ini yang selalu mengantarkanku kembali menemui titik terang semangatku. Makin lama lelap namun lelah menyergap setiap senti dari tubuhku memaksaku tetap terjaga. Serambi kubayangkan betapa hebatnya Bilal, diantara kerasnya tempaan pada dirinya masih begitu keras memperjuangkan keyakinan kebenaran dalam sanubari hatinya.

Seonggok daging akan mudah sekali terlirik oleh anjing saat ia terbungkus dalam- dalam oleh kesepian diatas piring. Keliahaian mata anjing mencari sela waktu si empu, hingga koyak daging menjadi serpihan daging bagai Soto Pak Narto menu makan siang ini selepas dhuhur. Melihat soto, terbayang pikiran manusia yang memang bermacam- macam rasa dan warna. Ada tawar bagaikan air kuahnya, kadang sedap berbumbu pedas tajam. Ada keras namun nikmat seperti daging ayam yang ku kunyah saat ini. Ya memang beraneka ragam jiwa manusia itu.

Kemeja lengan pendek yang melekat sejak pagi tadi. Basah kuyup oleh keringat karena panas warung tenda dan pedasnya soto bercampur pedasnya kata- kata Mbak Intan. Tutur kata yang meski lembut khas para akhwat (wanita) berjilbab namun pedas dan menyakitkan bak pedang gladiator. Itulah kata- kata julukanku kepada Mbak Intan.

“Mbak Intan, kenapa dengan aku? Salah ya dengan ini”, saat aku mencoba menceritakan semua yang kualami dalam pikiranku. Segala ide yang bercampur dengan gelora darah muda mencoba membuka gerbang kebiasaan dan terlepas dari belenggu rantai rutinitas.

“Tak ada satupun dalil yang melarangnya Mbak”, begitu timpuk dan alasan penyangkalku. Aku bukan anak filsafat ataupun anak hukum yang pandai berkilah. Seandainya fakultas hukum tidak ada pasti tidak ada yang mempermainkan hukum. Melemparkan kasus kaya bola ping pong. Kesalahan bisa diundi dan penjara menjadi pesta kenikmatan. Kasur busa, TV layar besar dan fastfood sampah menjadi hidangan.

“Mbak Intan, kenapa antum? Apa tak ada alasan dalam diri antum?”, aku mencoba mencari sebenarnya gerangan apa penghalang ide besarku ini.

“Kita adalah lembaga dakwah kampus, Dek. Apa jadinya kalau kita menganggkat isu ini. Pembina, masyarakat dan ummat akan mencap negatif lembaga kita, Dek”

“Aku tak mau menerima jawaban itu. Apa gunanya cap? Mau dapat Cap nomor satu?”, kesalku diantara diskusi panas. Sepanas Jogja di bulan Agustus.

Dia diam tak menjawab kekesalan. Jilbab birunya berkelebat menghilang, diantara hijab dan tiang masjid kampus. Kecantikan paras memang tak sebanding dengan tegas dan kerasnya sikapnya. Bahkan tak sedikit rekan- rekan yang tersakiti. Mencoba mencari jawaban kenapa ia tak menerima ideku. Padahal isu ini adalah isu tenar. Mendatangkan artis yang sedang terjerat kasus porno untuk seminar pronografi. Kan langsung dapat mendapatkan sumber langsung. Jilbabnya semakin hilang ditelan kegalauan mencari jawaban pertanyaan. Kalau boleh diumpamakan aku seperti kerbau dipatuk hidungnya, kalau sudah marah Mbak Intan, diam membungkam semuanya. Pengacarapun seperti ini, dipatuk uang diam akan kebenaran.

***

“Kenapa ya Mbak Intan itu pedas sekali memberi kritik, kaya itu ”, begitu saja tanpa disengaja mengawali percakapan di warung makan.

“Emang antum pernah disakiti, Eka?”, biasa ketika topik akhwat menjadi awal pembicaraan maka langsung saja ada yang menimpali. Seperti siang ini saat yang satu membicarakan Mbak Intan, langsung disaut seperti sautan kokok ayam di pagi hari. Membangunkanku kalau siang sudah meninggi.

“Pernah dia bilang ‘Eh kamu ikhwan beneran nggak sih? Masa ada akhwat lewat dipelototin, matamu tu hampir keluar!!!’. Padahal itu di depan banyak orang”

“Mungkin itu adalah sifat daar dia”

“Selalu bikin orang sakit hati??”

“Tidaklah, wanita kan memang sangat mudah emosional. Begitu juga Mbak Intan”

“Tapi, secara dia adalah kepala kewanitaan di organisasi. Bagaimana dia bisa mengemong anggotanya kalau demikian?”, Eka tiba- tiba begitu perhatian dan menaruh hati pada kondisi organisasi. Eka adalah anggota baru dan ditahun yang sama dengan masuknya aku seorganisasi dengan Mbak Intan, topik pembicaraan siang hari ini.

“Sudah, nggak baik ngomongin orang lain. Ghibah namanya akhi….”

Kelembutan dan kecantikan wajah berkacamatanya kadang bergeser sekian derajat dari tutur kata yang sering membuat orang urungkan niat untuk berdiskusi dengannya. Meski dia menjabat sebagai salah satu pengurus harian. Jabatannya membuat ia mudah sekali marah. Saat stafnya salah menuliskan namanya saja, ia bisa sewot berhari- hari.

***

Intan Nuria Purwadhani, itulah nama lengkap dari Mbak Intan. Senior satu tingkat diatasku. Meski berbeda fakultas denganku. Sekali pernah aku memanggilnya dengan nama Mbak Dhani. Bukan sengaja namun sekedar membuatnya tertawa.

“Dek Ilham, cukup panggil Mbak Intan saja. Nggak enak didengernya. Ketua Kajian namanya Mas Dani juga. Apa mau kau kupanggil Dek Lusi?”, meski nama lengkapku Muhammad Ilham Lusiawan tapi tak akan mau aku dipanggil Lisa.

Tegur dan permintaan Mbak Intan memang lembut, di akhir kata- katanya kelembutannya hingga tak terasa menghujam dalam benak kesakitan. Lontaran- lontaran kata yang terucap bagaikan rudal Israel yang setiap kali mengoyak daging tubuhanak kecil Palestina. Sejak awal pertama rudal lepas, tak ada yang mengira akan berlanjut hingga rudal itu beradu berkali- kali. Berbalas rudal hingga banyak yang tak berdosa meregang nyawa.

Jilbabnya menahan godaan sekian ikhwan untuk mengganggu. Menghalau siul- siul sekian cowok iseng tak ada kerjaan. Sikap dia yang begitu islami membuat ikhwan- ikhwan memikirkan berkali- kali untuk sekedar mendekati. Apalagi sikap kasarnya yang menjengkelkan sekian banyak orang. Dilengkapi dengan kesalehan pribadinya.

“Kenapa semua orang ini!!!”, teriaknya dalam salah satu syura. “Ingat kawan kita berada dalam organisasi dakwah, kita mengemban amanah umat. Umat menunggu kontribusi kita semua. Don’t be late guys…!!!. Bidang ini loyo kurang tenaga,’Nggak ada kader’alasan kuno. Bidang ini lemes, kurang dana. Pendahulu kita harus sampai mengadaikan motor dan mesin ketik. Sekarang laptop semua punya, iPod tak ada yang lama, apalagi motor. Sepeda udah musnah di parkir sekre. Mana effort kalian!!! Bangun ikhwah!!! Brakkkk!!!!”, naik darahnya ditutup dengan pukulan meja rapat.

Jilbab warna hitam sehitam hati semua peserta rapat sore hari itu. Bahkan ketua organisasi-pun kelu lidah dibuatnya. Semua tertohok berdiri mematung dalam sekte masing- masing. Mencoba masuk dalam hati terdalam mencari apa yang akan segera masing- masing benahi. Memang lesunya organisasi kita, bukan hanya iPod baru yang sering dibeli kawan- kawan satu organisasi. Selayaknya pensil saat lama tak diraut maka tak bisa penulis menggambar dengannya. Karbon hitam pensil menjadi sebuah mesiu pertama untuk menulis sebuah kebenaran. Layaknya sebuah puisi, diksi irama dan tema akan menetukan keindahan puitisasi sebuah tulisan. Dan Mbak Intan, mungkin dengan kegalakan dan keras bak macan menjadi sebuah perisai kebaikannya. Mendekatinya sama seperti menyodorkan borok untuk ia korek mana yang salah. Sayang mengoreknya tidak seperti dokter yang lemabut, namun kasar seperti tukang kayu tetangga rumahku.

***

“Kenapa Mbak Intan?”, tanyaku sebuah kesempatan, saat aku dan sekretaris bidangku diajaknya makan di rumah makan Bu Ninit. Karena memang saat kita mendapat undangan makan- makan gretongan-istilah Banyumas-an untuk gratisan-, pasti akan ada wejangan, evaluasi dan tak jarang marah- marah menerpa. Ya… sport jantung lah, sebelum kelak apabila dijebak jadi teroris dan dihadapkan Tim Densus 88. Itung- itung latihanlah. Kan sekarang sudah banyak aktivis masjid yang disangka teroris. Mentang- mentang berjenggot dan sering ke masjid. Atau latihan kalau nanti ada reformasi kedua, siap- siap dibawa tentara? Tapi saat ini dihadapi dulu, taring tajam Mbak Intan. Siapa tahu dia sudah mengasahnya hingga siap menerkamku? Atau dia jangan- jangan belum sikat gigi, dan malu menunjukkan gigitannya?

“Dek Ilham sama Dek Dinar silakan mau pesan apa? Mbak Intan lagi ada rizki buat kalian berdua. Ayam goreng atau ayam bakar. Tapi disini Garangasemnya pualling enak…”, tumben Mbak Intan begitu ramah dengan kita. Mungkin ini adalah topeng untuk menutupi apa yang akan ditekankan pada kami berdua. Ini pasti ada hubungannya dengan organisasi. Tak apalah yang penting aku dapat makan enak gratis sore ini.

Dinar dan Mbak Intan, begitu asyik ngobrol ngalor-ngidul yang tidak ku ketahui apa topiknya. Karena kami duduk berbeda meja. Mereka berdua duduk di seberang mejaku. Karena kita tak mungkin duduk berdua layaknya orang lain. Kita belum muhrim dan akan haram hukumnya kita saling bersilang pandang. Begitu indahnya pengaturan ini. Aku bisa melahap semua hidangan tanpa sungkan, dan mereka bisa tertawa puas. Dalam nikmatnya Garangasem, aku heran ternyata Mbak Intan dengan Dinar dapat begitu riang, keriangan ini tak bisa kutemui dengan Mbak Intan sendiri. Yang ada hanya wajah garang dari si jilbab panjang Mbak Intan. Kalau ia dengan semua gender demikian, pasti ia tak akan dijuluki si Macan.

“Dek Ilham saya minta maaf. Afwan Jiddan (mohon maaf), selama setahun ini Mbak Intan selalu mamarahi kalian. Bukan mbak nggak suka dengan kalian. Tapi mbak ingin kalian sadar bahwa kalian yang akan menjadi seperti mbak tahun depan. Menjadi bpengurus harian”, tiba- tiba raut wajah berubah dari dia.

“Tapi kenapa tak semua, Mbak”

“Karena kalian yang sering aku marahi”

“Sudah Dinar maafkan sebelum Mbak mengajak kami, makan ini”

“Karena Rasul pun mendidik dengan keras apabila kita salah. Justru kita terimakasih, karena Mbak Intan masih mau memarahi kami. Itu tanda Mbak Intan care ke kami”, itulah kataku menutup pembicaraan di warung makan Bu Ninit.

Sejak sore itu, umpatan kesal dalam hati tak lagi muncul untuk Mbak Intan. Saat perjalanan organisasi mulai berjalan dengan seimbang, tatih dan jatuh mulai sedikit berkurang. Seolah mendapatkan kekuatan yang ekstra entah dari mana. Saat itu tak lagi kutemui Mbak Intan marah- marah dengan kami. Ia sudah mulai merendahkan suaranya, dan tetap menjadi omongan kami para ikhwan.

“Mbak Intan, kok berubah”

“Mungkin ia cek darah dan ternyata darah tinggi, makanya disarankan jangan marah. La tahdhob…!!”

“Hahahahaha”

“Atau mungkin kotak marahnya telah habis. Kan kalau Spongebob kehabisan kotak tertawa, maka Mbak Intan kehabisan kotak marah”

“Hahahaha”, serentak semua tertawa.

Gosip, gosip dan gosip. Tidak di tempat arisan, pengajian ibu- ibu, di teve, bahkan disegerombol ikhwan pun tetap asyik menggosip. Ooo… ini makanya acara gosip di teve digemari banyak orang. Tak peduli artis bahkan pejabat teras tak urung dari gosip. Kalau artis berhubungan dengan cinta dan perselingkuhan cinta headline gosipnya. Sedang untuk pejabat teras gosipnya pasti seputar politik dan perselingkuhan politik. Hahaha, memang setiap koki punya masakan sendiri- sendiri. Kalau aktivis dakwah gosipnya tentang apa?? Pasti bisa membacanya.

***

Entah sejak kapan aku tak lagi mendengar kemarahan dari Mbak Intan? Bentak- bentaknya tak lagi membahana. Biasanya saat aku mulai tak fokus pada apa yang kukerjakan. Longgar dalam mengatur waktu dan bawahan. Datanglah semprotannya mengingatkan dan membangunkanku kala itu. Memang Mbak Intan si tukang marah sudah tak akan lagi marah, mungkin. Kerutan wajah usia 22 tahun, kurasa dipenuhi oleh garis merah marahnya. Kerudung merah yang kini dikenakannya semerah telingaku dulu saat mendengarnya berujar. Namun kini semerah hatiku.

“Mbak Intan nggak marah lagi denganku?”

“Dek Ilham ini. Semua marahku sudah kuhabiskan saat aku menjadi seniormu. Kini aku menjadi juniormu, maka tak sepantasnya aku marah”

Jawaban singkat beliau saat bersama dalam sebuah walimah perkawinan.

“Dan Dek Ilham sekarang pun boleh marah denganku”

Karena hari ini adalah pernikahan Muhammad Ilham Lusiawan dan Intan Nuria Purwadhani. Dan aku tak akan marah padamu, meski kau dulu sering marah padaku.

“Dek Intan”

“Mas Ilham”

***

Kulon Progo, 16 Juli 2010

Untuk sahabat- sahabat di Jamaah Shalahuddin

Catatan:

  1. Akhi : panggilan sapaan untuk lelaki
  2. Akhwat : perempuan
  3. Ikhwan : lelaki
  4. Antum : kamu
  5. Gretongan : Bahasa Banyumas yang berarti gratis
  6. Ngobrol ngalor-ngidul : istilah Bahasa Jawa untuk ngobrol tidak ada tema
  7. La tahdhob : Bahasa Arab, Jangan Marah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X