buku
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,[Q.S. Al-Baqarah:26]

Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Baqarah diatas, terlihat bagaimana seorang muslim seharusnya dapat mengambil pelajaran dari setiap penciptaan Allah SWT yang ada di bumi ini. Allah SWT tidak menciptakan sesuatu apapun kecuali pasti ada hikmah dibalik dari penciptaanya tersebut. Bahkan dalam penciptaan seekor nyamuk sekalipun, yang kita sendiri sering merasa terganggu dengan kehadiran seekor nyamuk tersebut. Sebagai seorang muslim, ibrah yang bisa kita ambil dari penciptaan seekor nyamuk itu bagaimana kita melihat dampak yang bisa diberikan dengan kehadiran dari seekor nyamuk gtersebut. Jika kita tidak bisa menjaga lingkungan kita dengan membiarkannya terlihat tidak teratur, maka nyamuk-nyamuk itupun akan berkumpul dan berkembang biak disana. Dampaknya, jika nyamuk itu memberikan sengatannya ke tubuh kita, kita bisa terserang penyakit, sehingga Allah SWT akan mencabut nikmat kesehatan dari kita. Maha suci Allah atas semua penciptaannya yang tidak sedikitpun terdapat kesia-siaan.
Ibrah yang bisa kita ambil dari segala penciptaan Allah SWT yang ada di bumi ini, bisa kita dapatkan jika kita memiliki ilmu untuk mempelajari ibrah dari segala penciptaan tersebut. Ilmu bisa diibaratkan sebagai cahaya dan petunjuk bagi seorang muslim. Sedangkan, yang berlawanan dari itu, yaitu sebuah kebodohan adalah sebuah kegelapan dan kesesatan bagi seorang muslim. Sedah seyogyanyalah seorang muslim harus berilmu agar ia bisa mendapatkan cahaya dan petunjuk dari Allah SWT. Dengan dikaruniakannya ilmu kepada seorang muslim, seharusnya itu bisa menjadikannya semakin dekat dengan Allah SWT. Karena sejatinya, seorang ulama (orang yang berilmu), ia akan menjadi semakin dekat dengan Allah SWT saat ilmunya bertambah. Inilah yang bisa membedakan antara orang-orang bodoh yang senantiasa berada di dalam kesesatan, dengan orang-orang yang berilmu.

Kisah mengenai kebodohan dan kejahiliyahan yang nyata adalah ketika Raja Namrud yang mendapati kepala dari patung-patung yang senantiasa ia sembah terbisah dengan tubuh patung tersebut. Raja Namrud itu pun marah dengan orang yang melakukan hal tersebut terhadap patung-patung yang ia sembah. Ia pun mencari siapa yang telah melakukan hal tersebut terhadap patung-patungnya. Setelah didapaiti bahwa yang melakukannya adalah Nabi Ibrahim AS, Raja Namrud pun memanggil Nabi Ibrahim AS untuk menanyakan hal tersebut. Tetapi, Nabi Ibrahim menyangkalnya kalau ia yang melakukan hal tersebut.

Nabi Ibrahim AS pun berkata “mengapa kau tidak menuduh patung itu yang sedang memegang kapak yang telah memutuskan kepala dari patung-patungmu yang lainnya?”.

“Tidak mungkin patung itu yang melakukannya. Untuk berjalan atau bahkan bergerak sedikitpun ia tidak bisa.” Raja Namrud menjawab.

“Kalau begitu mengapa engkau menyembah dan memohon kepadanya, sedang untuk diri sendirinya pun ia tidak bisa melakukannya?”

Dari kisah ini, bisa kita ambil pelajaran yang sangat berharga, bagaimana dengan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS bisa menyangkal Raja Namrud yang berada dalam kesesatan yang nyata dengan menyembah patung-patung tersebut.

Islam merupakan agama yang sempurna. Islam telah mengatur segala seluk-beluk kehidupan manusia di dunia ini bahkan sampai hal-hal terkecil sekalipun. Apalagi mengatur bagaimana seorang muslim yang merindukan untuk merasakan nikmatnya surga Allah SWT. Seorang muslim yang sangat merindukan surga, karena ia mengetahui bagaimana nikmatnya kehidupan di surge Allah SWT, dan bagaimana pedihnya siksaan Allah SWT bagi orang-orang yang termasuk ahli neraka. Semua itu bisa diketahui dengan ilmu. Ilmu-lah yang membuat seorang muslim mengetahui banyak hal dari penciptaan Allah SWT. Sebagai seorang muslim yang sangat merindukan surge Allah SWT, sudah seharusnya ia mempelajari kisah-kisah dan ciri-ciri ahli surga, sehingga ia berbuat seperti ahli surge tersebut, sehingga ia bisa mendapatkan surge Allah SWT. Dan juga, ia perlu mempelajari kisah-kisah ahli neraka, sehingga ia tidak berbuat seperti ahli neraka tersebut dan bisa terhindar dari neraka Allah SWT. Lagi-lagi, semua itu bisa didapatkan hanya dengan ilmu.

Karena ilmu pula, banyak orang yang mendapatkan hidayah Allah SWT. Bahkan bagi orang-orang yang senantiasa taat kepada Allah SWT, sejatinya ia selalu mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Pun dengan orang-orang yang sedang tertimpa musibah saat ini. Bisa kita lihat korban-korban bencana merapi, bagaimana keimanan mereka sedang diuji oleh Allah SWT. Saat ini, begitu banyak musuh-musuh islam yang senantiasa akan mengajak korban bencana tersebut untuk mengikuti ajaran yang mereka imani. Sebagai contoh ketika mereka mengadaka kegiatan yang dilaksanakan sesaat sebelum waktu shalat maghrib, hingga waktu shalat isya. Mereka akan mengamati siapa saja dari kalangan kaum muslim yang melalaikan waktu shalat tersebut dengan mengikuti acara yang mereka adakan. Selanjutnya, untuk orang-orang yang lalai tersebut, mereka akan mendekatinya dengan anggapan bahwa orang-orang yang senantiasa lalai tersebut akan dengan mudahnya mereka pengaruhi untuk mengikuti ajaran mereka. Tetapi bagi orang-orang yang senantisa berada dalkam ketaatan kepada Allah SWT, ia akan sulit dipengaruhi keimanannya walau dijanjikan dengan apapun.

Dari kisah korban bencana diatas, bisa kita lihat bagaimana Allah SWT akan senantiasa memberikan hidayahNya kepada orang-orang yang senantiasa taat kepadaNya sekalipun. Bagaimana orang-orang yang taat itu senantiasa diberikan hidayah Allah SWT untuk selalu megerjakan kebajikan dan menjahui kemaksiatan yang ada. Begitu pula dengan orang-orang yang belum mendapatkan nikmat keimanan kepada Allah SWT. Mereka bisa mendapatkan cahaya keimanan kepada Allah SWT dengan ilmu yang mereka miliki. Sebagai contoh ketika seorang kafir yang sedang mengamati perilaku bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya. Saat bayi yang masih di dalam kandungan tersebut diperdengarkan kepadanya ayt-ayat Al-Qur’an, maka seketika bayi itu akan terlihat sujud. Maha suci Allah atas segala penciptaannya. Bahkan bayi yang masih di dalam kandungan pun akan sujud saat mendengarkan ayat suci Al-Qur’an. Setelah mengamati kejadian ini, seorang kafir tadi pun langsung bersyahadat.

Inilah kisah-kisah bagaimana Allah SWT akan senantiasa memberikan hidayahNya baik kepada orang yang sudah beriman dan yang belum beriman melalui ilmu yang dimilikinya. Dan dengan ilmu tersebut, seseorang harusnya akan menjadi lebih dekat dengan Rabb-nya.

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.[Q.S. Al-Hasyr:22]

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.[Q.S. Al-Hajj:70]

* Dikutip dari kajian Selasa Sore Maskam UGM,

11 Januari 2011 oleh Ust. Syahril Aditya Ginanjar – Ketua Jama’ah Shalahuddin 1430 H

Oleh : Dindy Agus Sumanjaya

Staff Departemen Syiar Jama’ah Shalahuddin 1432 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.