Jama’ah Shalahuddin: Melawan Biasa!

js
Good is the enemy of great

Jim Collins

1976-2011, 36 tahun sudah Jama’ah Shalahuddin lahir dan berkembang serta mangambil bagian sebagai salah satu entitas dakwah, terutama dakwah kampus. Perjalanan panjang ini telah menjadikan Jama’ah Shalahuddin sebagai pionir dakwah kampus di Indonesia. Walhasil, pahit manisnya aktivitas dakwah sudah dirasakan semuanya, lengkap oleh Jama’ah Shalahuddin.

Tak dapat dipungkiri memang, sebuah lembaga, apalagi yang telah puluhan tahun berkarya, mengalami pasang dan surut. Begitu pun Jama’ah Shalahuddin. Satu masa, Jama’ah Shalahuddin mampu berkarya dan berprestasi, namun di masa yang lain ia meredup. Konflik internal, gesekan eksternal, kebekuan gerakan, bahkan upaya pembubaran pernah Jama’ah Shalahuddin alami. Tapi, cukuplah 36 tahun menjadi bukti eksistensi Jama’ah Shalahuddin hingga saat ini.

Jika kita hentikan sejenak romantisme sejarah Jama’ah Shalahuddin, lalu kembali duduk sembari mendiskusikan Jama’ah Shalahuddin kini dan masa depan, mungkin Anda akan sepakat dengan apa yang mereka katakan. “Jama’ah Shalahuddin kini kerdil”, kata mereka, sebagian stakeholderJama’ah Shalahuddin.

Sampai saat ini, saya tidak (akan) sepakat dengan asumsi mereka dan (mungkin) asumsi Anda itu. Saya tidak sepakat jika menghakimi Jama’ah Shalahuddin kini kerdil, tanpa daya, dan tanpa karya. Yang saya yakini saat ini adalah Jama’ah Shalahuddin dalam keadaan gamang. Ya, gamang atas semua kondisi lingkungan dimana Jama’ah Shalahuddin ada.

Gamangnya Jama’ah Shalahuddin terlihat jelas pasca hijrahnya dari Gelanggang Mahasiswa menuju Masjid Kampus. Gamang, karena ternyata statuta Jama’ah Shalahuddin di Masjid Kampus hanya sebagai “penumpang”. Dominasi Yayasan Masjid Kampus membuat Jama’ah Shalahuddin hanya sebagai pengekor. Bahkan, aktivitas dakwah Jama’ah Shalahuddin di Masjid Kampus harus rela terusir oleh aktivitas pernikahan yang menyewa area Masjid Kampus. Hijrah ini pula yang menyebabkan gerak Jama’ah Shalahuddin di luar Masjid Kampus tak sampai pada objek dakwahnya.

(maaf) Sialnya, kuatnya kebijakan rektorat yang membatasi gerak aktivitas organisasi mahasiswa, makin menambah kegamangan Jama’ah Shalahuddin. Meskipun secara tidak frontal mengbekukan organisasi kemahasiswaan, namun kebijakan-kebijakan yang ada nyatanya telah membekukan minat dan konstribusi mahasiswa terhadap aktivitas organisasi mahasiswa. Jama’ah Shalahuddin makin gamang.

Di sisi lain, kehadiran dan berkembangnya lembaga keislaman di fakultas maupun jurusan bak pisau bermata dua bagi Jama’ah Shalahuddin. Kehadiran mereka membuat di satu sisi membawa kemudahan bagi Jama’ah Shalahuddin dalam melakukan penetrasi dakwahnya lebih dalam. Namun, ternyata ini menambah gamangnya Jama’ah Shalahuddin dalam aktivitas dakwahnya di internal kampus. Padahal, kampus adalah pangsa pasar utamanya sebagai lembaga dakwah kampus. Jama’ah Shalahuddin perlahan kehilangan perannya di kampus, dan ia semakin gamang.

Fenomena seperti ini digambarkan dengan baik oleh Newton dalam Newton’s first law: “Every body remains in a state of constant velocity unless acted upon by an external unbalanced force.” Saat Jama’ah Shalahuddin berada dalam satu keadaan tetap, sementara banyak rangsangan dan bahkan tekanan, jika Jama’ah Shalahuddin tidak siap, terjatuh lah ia. Dan sekarang, Jama’ah Shalahuddin terjatuh dalam kegamangan. Saat lingkungan berubah secara dinamis, Jama’ah Shalahuddin masih tetap statis. Ia tidak siap. Maka itu, ia gamang.

Kondisi gamang inilah yang akhirnya membawa Jama’ah Shalahuddin terutama penggiatnya terjebak dalam zona nyaman, zona dimana yang terjadi ia anggap biasa-biasa saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aktivitas dakwah yang dilakukan pun terkesan sudah biasa atau biasa-biasa saja dan ternyata sudah banyak dilakukan oleh lembaga lainnya. Seperti barang di pasar, semakin banyak jumlahnya yang serupa, makin murah lah harganya. Tak ayal, atas banyak faktor inilah, mayoritas mereka di luar Jama’ah Shalahuddin menganggap Jama’ah Shalahuddin biasa-biasa saja. Bahkan, hanya menganggap Jama’ah Shalahuddin ada dan tidak ada sepertinya sama saja.

Melawan biasa, Jama’ah Shalahuddin lahir memang untuk itu, untuk melawan hal-hal yang dianggap biasa dengan aktivitas yang luar biasa. Ia lahir saat kondisi dimana semua makin terbiasa dengan dua kutub gerakan kampus yang menghambat kerja dakwah: hijau dan merah. Ia lahir sebagai jembatan, dan berhasil. Jama’ah Shalahuddin lahir sebagai penghangat saat kondisi keilmuan Islam beserta kultur diskusinya makin membeku dan terbiasa dengan kebekuannya. Jama’ah Shalahuddin lahir dengan aktivitasnya yang di luar kebiasaan dan diapresiasi dengan luar biasa, namanya Ramadhan di Kampus. Ia lahir, meminjam istilah Jim Collins, untuk menjadi “great” dengan keberhasilan melawan musuh utamanya, “good”. Ya memang seperti itulah Jama’ah Shalahuddin, seharusnya.

Maka kini, Jama’ah Shalahuddin harus mendefinisikan ulang posisinya dan posisi objek dakwahnya. Menantang fikir untuk segera merumuskan kembali visi dan misi gerakan serta aktivitas dakwah di tengah peluang dan ancaman lingkungan yang ada. Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, Jama’ah Shalahuddin mau tak mau harus melawan zona biasanya, mematikan kegamangannya. Berdiri di titik hening, merefleksikan apa yang telah Jama’ah Shalahuddin lakukan dan apa yang harus dilakukan. Mau tak mau, sebelum yang biasa ini membatu, menjadi sulit untuk dipecahkan.

Jama’ah Shalahuddin harus kembali membumi karena ia lahir untuk memakmurkan bumi dengan wahyu dari langit. Bergabung bersama menjadi bagian dari mereka yang sejarah mencatatnya sebagai yang luar biasa. Terakhir, jika tidak ada alasan lagi bagi Jama’ah Shalahuddin untuk menjadi luar biasa kecuali hanya menyisakan satu alasan terakhir, maka alasan itu adalah karena takdir sejarah kita untuk menjadi luar biasa!

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…..

(QS 3: 110)

Gedung Kuliah Umum -Sekip, 10 Maret 2011

Sofiet Isa Mashuri Setia Hati

Mahasiswa Sistem Telekomunikasi UGM 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.