Mafahim Jama’ah Shalahuddin

js

 

(Pesan dari Alumni Jama’ah Shalahuddin tentang identitas JS)

Pak Haryanto, Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada, yang merupakan alumni Jama’ah Shalahuddin UGM, bercerita mengenai identitas Jama’ah Shalahuddin kepada para pengurus Jama’ah Shalahuddin 1431 H/2010 M, pada saat para pengurus tersebut melakukan silaturahim pada awal bulan Maret 2010. Saya adalah salah satu pengurus yang hadir dalam pertemuan tersebut. Beliau menceritakan asal mula dibentuknya Jama’ah Shalahuddin yang kemudian membentuk identitas Jama’ah Shalahuddin yang harus dipertahankan hingga kapan pun. Bahwasanya, saat itu- era 1976an- , kondisi perpolitikan di Indonesia sangtalah panas. Panas ini yang dilihat oleh para pendiri JS – Muslich Zainal Asikin, dkk.- adalah adanya politik tendenisus yang berlebihan oleh gerakan-gerakan mahasiswa saat itu, seperti PMII, HMI, dan GMNI. Poltik Tendenisus ini sampai berdampak kepada ranah-ranah akademik. Pak Haryanto menceritakan, dahulu jika ada mahasiswa yang memiliki afiliasi ke HMI sedangkan asisten dosennya adalah aktivis GMNI, maka nilai sang mahasiswa tersebut akan dikurangi, sebaliknya jika sama-sama dari GMNI, maka nilainya dibaguskan. Contoh lain, ketika ada aktivis GMNI yang sholat, maka langsung dicurigai, ”lah, kamu jadi anak HMI ya?”. nah hingga sebegitunya.

Nuansa politik tendensius ini memunculkan keresahan di sebagian pihak khususnya para pendiri JS, mereka berfikir,”nah, kalau begini terus, siapa nantinya yang ngurusi keislaman mahasiswa UGM yang bukan aktivis? kan kasian mereka tidak terpedulikan karena politik tendensius? gimana ya caranya supaya sekat-sekat gerakan mahasiswa ini dihilangkan?”. Atas dasar keresahan itulah, maka dibentuklah Jama’ah Shalahuddin UGM pada tahun 1976, yang pertama kalinya event Ramadhan Di Kampus dengan acara Maulid Pop dan Sholat Tarawih di Gelanggang. Setelah event ini berlangsung, nuansa politik tendensius itu mulai lah teredam. Jama’ah Shalahuddin diisi oleh orang-orang yang multi bentuk mahasiswa, mulai dari HMI, PMII, GMNI, islam abangan, yang belum berjilbab, masih ngrokok, Islam yang belum pernah sholat, dan lain sebagainya. Mereka bersatu dan melakukan kerja dakwah bersama-sama. Ini lah keindahan yang telah dituturkan beberapa alumni ke saya dibeberapa kesempatan silaturahim, seperti Pak Haryanto(Dirmawa UGM), Pak Abdul Ghofar(ex Dosen Ilmu Pemerintahan UGM), Pak Muslich Zainal Asiqin(pemilik Yayasan Piri), dan Pak Edi Meiyanto(wakil Dekan III Fakultas Farmasi UGM).

Atas dasar latar belakang pendirian Jama’ah Shalahuddin tersebut, maka ditetapkanlah oleh para pendiri bahwa ada madzhab sendiri yang dianut oleh JS, yaitu madzhab Jama’ah Shalahuddin. Bagaimana itu? Yaitu, ramai idiologi dan jenis orang, namun tetap rukun. Tidak boleh ada homogenisasi atau pengarahan pada satu bentuk pemahaman kelompok Islam di Jama’ah Shalahuddin. Setiap anggotanya ketika berada di Jama’ah Shalahuddin, harus mau melepas jaket kelompok ekstra kampusnya. Example : dulu Pak Haryanto adalah aktivis HMI, namun ketika berada di JS, ia melupakan HMInya, nanti setelah berada di luar JS, maka ia HMI kembali. Sehingga, di JS ini akan bersih dari politik kekuasaan antar gerkan islam.

Kesepakatan ini kemudian dikonstitusikan ke dalam Tata Gerak Jama’ah Shalahuddin pasal 4, yang hingga saat ini, masih disepakati dan belum ada yang ingin merubah pasalnya. Bunyi pasa tersebut adalah :

Pasal 4

Jama’ah Shalahuddin bersifat independen dan tidak berafiliasi pada organisasi massa dan organisasi sosial politik manapun, baik langsung, maupun tidak langsung

Dari pasal tersebut, maka bisa diintrepresentasikan, baik secara formal maupun kultural, Jama’ah Shalahuddin dilarang untuk terikat dengan salah satu gerakan, ormas, atau kelompok Islam tertentu. Oleh karena itu, setiap anggota JS dilarang mempunyai strategi, baik terang-terangan atupun terselubung, untuk membuat JS memiliki khas pada salah satu partai/ kelompok Islam tertentu. Misal, si A karena anggota HTI, maka ia punya strtegi gimana caranya supaya JS ini mirip dengan HTI, bentuk dan arah perjuangannya sama seperti HTI. Atau, Si B yang anak Tarbiyah, demi menambah perolehan suara PKS di pemilu 2014, Si B ini melakukan upaya untuk menokohkan kader-kader PKS dengan cara mendominankan pengundangan Ustadz2/kader2 PKS untuk ngisi di kajian-kanjiannya JS atau Ramadhan Di Kampus.

Nah upaya seperti diatas itu dilarang di Jama’ah Shalahuddin. Jika kita—setiap individu yang ada di JS—punya motif seperti itu, maka sama saja kita menghianati perjanjian dan niat para pendiri Jama’ah Shalahuddin. Sedangkan Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Seperti yang dirirmankan di Surat Al Anfal ayat 58 :

”Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” Serta, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal : 27)

Kita boleh melakukan strategi politik untuk menambah simpatisan kelompk islam kita, tetapi tidak di Jama’ah Shalahuddin, kalau di lembaga luar Jama’ah Shalahuddin mungkin tidak masalah asalkan di lembaga tersebut belum ada aturan tertulisnya. Misalkan : Si C adalah kader Partai Amanat Nasional, nah karena Si C ini paham akan larangan menghomogenisasi idiologi politik di JS, maka Si C melakukan strategi homogenisasi idiologi politiknya menggunakan SKI-SKI Fakultas atau BEM atau Kelompok-kelompok studi yang belum ada Tata Gerak yang melarang untuk berpolitik di dalam lembaga.

Kita boleh melakukan strategi untuk menambah kader harakah kita, tetapi jangan pakai JS. Pakai lah alat yang lain. Selain itu, tidak ada ”penyaklekan mutlak” idiologi keislaman di JS. Misal, anda adalah kader Salafyin yang tidak suka dengan musik dengan berbagai macam dalilnya. Namun, bukan berarti Jama’ah Shalhuddin dilarang mengadakan acara musik untuk agenda-agenda dakwahnya karena di JS tidak hanya diisi oleh orang-orang salafiyin, ada NU, Muhamadiyah, dlsb, yang tidak mempermasalahkan musik. Namun, anda tidak perlu berubah untuk menjadi non-salafiyin akibat JS tidak Salafyin. Tetaplah menjadi Salafiyin, khusus untuk acara-acara yang anda tidak sepakati ya anda tidak perlu ikut berkecimpung. Berkecimpunglah pada acara-acara yang anda sepakati, misal kajian Tauhid, dlsb.

Begitu juga, tidak boleh ada ”penyaklekan mutlak” warna pemikiran islam dari salah satu kelompok pada sistem kaderisasi di JS, buku-buku yang wajib dibaca, sikap politik terhadap isu-isu kontemporer, dan lain sebagainya. Karena Jama’ah Shalahuddin bukan PKS, HTI, Salafyin, NU, Muhamadiyah, Persis, MMI, dan lain sebagainya. Tetapi, Jama’ah Shalahuddin adalah Jama’ah Shalahuddin. JS punya warna pemikiran tersendiri, yatu pural tetapi tetap rukun dan bisa bekerja sama.

So, gimana dong solusinya untuk sistem kaderisasi, sikap poltik, pengisi-pengisi kajian, dlsb? Jawabannya, ya mari kita pikirkan bersama-sama, yang mana pemikiran tersebut murni dilakukan oleh internal JS sendiri. Tentu ada referensi yang digunakan, tetapi referensi tersebut tidak boleh satu jenis pemikiran. Artinya, tidak boleh ada copy paste saklek di JS. Contoh : jgn copy paste saklek bentuk kaderisasi sebuah harakah untuk dijadikan sistem kaderisasi di JS.

Kalau misal terjadi perdebatan dalam suatu diskusi, ya kembalikanlah kepada Al Qur’an dan As Sunah(QS. An nisa : 59), atau seburuk-buruknya jika mentok pakai fatwa Majelis Ulama Indonesia(MUI) saja. Karena di MUI itu isinya orang bermacam-macam bentuk pemikiran keislaman, tetapi bisa keluar satu fatwa.

Itulah Madzhab Jama’ah Shalahuddin. Yaitu, heterogen namun tetap rukun dan bisa bekerja sama. Semoga Madzhab ini dapat dipertahankan oleh para pengurusnya hingga akhir nadi Jama’ah Shalahuddin.

Sebuah ayat yang hendak direnungkan oleh stiap anggota JS agar Mafahim Jama’ah Shalahuddin ini dapat dipertahankan :

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujaraat [49] : 10-11)

Dan Hadits : ”Mukmin terhadap mukmin yang lain laksana satu bangunan yang saling memperkuat satu sama lain. ” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasai, At Tirmidzi)

Wallahu a’lam bi showab.

Anggota Keluarga Alumni Jama’ah Shalahuddin
Kepala Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin 1431 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X