DAKWAH KAMPUS
Sebuah Brainstorming
Najmi Wahyughifary
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM 1435 H


JS Editorial

Mendengar istilah ‘ideal’ tentunya yang paling menonjol ialah situasi atau keadaan dimana sebuah instrument ataupun sistem berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan atau yang diinginkan.
Pertama memikirkan kata ‘ideal’, beberapa kata terlintas begitu saja di benak: pengkaderan yang sehat, syi’arnya kuat, manajemennya tepat, fikroh dan orientasinya selamat, rekrutmennya semangat, progresnya cepat, dan jaringannya kuat. Namun naif rasanya menyebut ini sebagai ideal. Pasalnya kadar idealisme itu relatif, tergantung pada bahasawannya. Beda persepsi, beda pula kadar idealismenya. Terlebih tulisan ini menyoal dakwah kampus pada tataran konsep, yang secara prinsipil merupakan kerangka tubuh atas pergerakan dakwah di kampus. Jelas perkara yang tak boleh main-main, bukan? Pun begitu, adalah wajib bagi seorang aktivis dakwah kampus untuk memahami konsep dakwah kampus, sehingga ada korelasi antara pemahaman dan pergerakan.

Oleh karena itu diperlukan suatu konsep yang jelas mengenai bagaimana dakwah kampus yang ideal tersebut. Dari saking banyaknya gagasan-gagasan yang ada di dunia kampus, tentunya aktivis dakwah kampus harus bisa memformulasikan semua ini. Ada banyak analisis yang bisa kita gunakan dalam menyikapi bentuk ideal dakwah kampus tersebut, yang lebih familiar bagi kita tentunya ialah analisis SWOT yang sering kita gunakan dalam berbagai kegiatan di kampus. Maka dari itu, diperlukan suatu analisis yang cocok dan pas bagi dakwah kampus yang ideal ke depannya. Menyoal dakwah kampus ideal yang dalam hal ini, UGM sebagai salah satu universitas terbesar dan berpengaruh di Indonesia yang sering menjadi role model kampus-kampus lain di Indonesia harus memiliki peran yang besar dalam memberikan role model dalam menata dakwah kampus ideal.

Salah satu contoh sederhana yang amat sering kita temui di medan kampus ialah banyaknya berbagai macam pemikiran dan pergerakan (fikroh islamiyyah dan harokah islamiyyah) yang sangat concern dalam isu keumatan. Menyikapi ini, tentu ini adalah sebuah kesempatan yang besar bagi dakwah kampus dalam merumuskan ‘ideal’ itu seperti apa. Ketika ruang dialektika antar pemikiran itu terbuka tentunya akan membuka banyak sekali referensi akan bagaimana pandangan islam dalam menuntaskan berbagai permasalahan yang melanda umat saat ini. Sebagai salah satu bentuk tanggungjawab tertinggi intelektual ialah bagaimana ketika mampu menjawab tantangan zaman serta memberikan solusi yang menyeluruh (kaffah) dalam menyelesaikan berbagai problema maupun konflik yang mendera umat saat ini. Tentu semua sepakat, bahwa islam mampu menjawab semua permasalahan dalam hidup ini. Namun yang jadi permasalahan ialah subjek ‘kita’ yaitu dakwah kampus. Mampukah dakwah kampus berperan besar dan banyak terhadap tanggungjawab ini ? Mampukan dakwah kampus menjadi laboratorium intelektual dalam menyelasaikan berbagai problematika saat ini ? Tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi elemen dakwah kampus itu sendiri. Dakwah kampus tentu punya peran besar dan strategis dalam menciptakan kondisi yang ideal itu. Kondisi yang ideal itu seperti apa ? Kondisi ideal ialah saat islam diterapkan diberbagai lini dan sector, tidak ada lagi upaya pemisahan agama dengan kehidupan sosial, tidak ada lagi istilah “agama terpisah dari negara”, tidak ada lagi selentingan “agama hanyalah urusan pribadi” maupun istilah-istilah sekuler lainnya.

Peran besar kita saat ini tentunya ialah kita menghadapi ‘tsunami’ pemikiran yang melanda umat ini secara sporadis. Islam sebagai ajaran yang syumul berhadapan dengan konsep-konsep barat seperti nasionalisme, sekulerisme, liberalisme, demokrasi, kapitalisme, marxisme/komunisme tentu mempunyai tantangan yang berat dan khas. Belum lagi, ketika saudara-saudara kita dibelahan bumi lain harus menghadapi musuh-musuh islam secara fisik dan bertaruh nyawa. Kita, sebagai elemen terpenting dakwah di dunia kampus punya tanggungjawab besar dalam usaha mencapai kondisi “ideal’ tersebut. Dakwah kampus yang ideal ringkasnya ialah saat segenap kekuatan dakwah yang terintegrasi dengan baik, keterbukaan dialektika antar fikroh ataupun harokah islamiyyah (ahlus sunnah wal jama’ah). Kemudian, pengukuhan pemahaman tentang urgensi dakwah serta rapinya kaderisasi. Terkukuhkan semua elemen dakwah kampus dalam semangat persatuan yang tak lagi memandang golongan, jama’ah maupun partai. Mengutip perkataan salah satu pendahulu aktivis islam kampus, Prof. Edi Meiyanto (Guru Besar Farmasi UGM): “Kita tinggikan standar orientasi dakwah kita dalam mencapai kata sepakat, yaitu persatuan. Tak lagi berorientasi kepentingan partai, jama’ah, ataupun kelompok. Semua melebur dalam satu kepentingan, KEJAYAAN ISLAM.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *