Prolog

Sebuah alur permasalahan tersirat dalam pikiran setelah kami mendengarkan apa yang tertulis di kartu-kartu tersebut. Pembangunan tempat pendidikan yang tidak optimal serta kerusakan alam di hulu sungai merupakan beberapa identifikasi masalah yang tertangkap di dalam kartu-kartu yang kami dapat secara acak pada misi sebelumnya. Di antara dinginnya gerimis yang membasahi tubuh kami serta kesunyian yang terekam di jajaran bukit tempat kami berpijak, terasa kehangatan suasana dari lisan-lisan individu yang berbicara di dalam kelompok. Beberapa teman berpendapat bahwa kerusakan hutan merupakan kunci permasalahan dalam cerita tersebut. Ada yang menambahkan bahwa kerusakan alam merupakan salah satu kesalahan besar yang dibuat oleh manusia di muka bumi ini yang mana menyalahi kodrat mereka sebagai khalifah.

Penggalan situasi di atas merupakan salah satu pengalaman nyata penulis sewaktu mengikuti pelatihan yang diadakan di sebuah dataran tinggi di Bandung beberapa waktu lalu. Dalam pelatihan tersebut, salah satu tugas yang diberikan yakni menganalisis inti permasalahan yang nantinya akan dicari solusi dari permasalahan tersebut. Tema problematika alam sangat cocok diangkat mengingat kami juga dalam keadaan menjelajahi alam perbukitan. Dalam hal ini, kami dituntut untuk membuat sebuah produk teknologi yang dapat menjadi pemecah kebuntuan problematika yang sedang terjadi yang mana salah satunya mengenai kerusakan alam. Namun, setelah mendengarkan pendapat, kritik dan solusi perbaikan terhadap permasalahan yang menyangkut tentang alam, penulis sedikit merasakan adanya kekecewaan. Kekecewaan yang tertuju pada penulis secara khususnya serta teman-teman penulis yang mana dalam hal ini dapat digeneralisasikan dengan para intelektual awam. Kekecewaan yang sebenarnya tidak timbul dari pernyataan yang diberikan, melainkan kurangnya mata kami memandang secara lebih luas.

Sebuah Kesalahan Fatal

Penulis mengakui terdapat kesalahan fatal ketika menyalahkan mereka, bahkan dengan hujatan, yakni mereka yang disebut sebagai para pelaku perusak alam di dalam kartu tersebut. Bagaimana tidak, hanya berjarak beberapa belas meter dari tempat kami berdiskusi, pemandangan mengerikan terlihat dan teringat jelas oleh penulis. Sebuah bukit terkeruk habis dan meninggalkan bekas berupa dataran luas tanpa tanaman. Bagian lain bukit yang belum dieksekusi meninggalkan bahaya longsor yang mana selisih ketinggiannya hingga belasan meter dengan tingkat kemiringan yang sangat tajam. Terlihat pula kendaraan warna kuning yang digunakan untuk mengeruk dan menambang tanah di daerah tersebut.

Ada yang salah ? Jika hanya melihat situasi diskusi kelompok kami, jelas tidak ada masalah. Namun, ketika dikomparasikan dengan realita alam sekitar, jelas merupakan masalah besar. Di satu sisi, kami dengan seriusnya memperdebatkan masalah kerusakan alam yang tertulis di dalam kartu. Namun, di sisi lain, kami seakan-akan menutup mata bahwa kerusakan alam yang sama persis dan lebih riil berada tepat di belakang kami. Kami memikirkan dan membicarakan solusi yang senada terhadap permasalahan di dalam kartu, namun kami dalam keadaan bungkam ketika menganalisis permasalahan alam di lapangan. Panasnya suasana dalam berdiskusi tidak dapat dibandingkan dengan kepura-puraan kami dalam mengabaikan realita yang terjadi.

Inilah kami, orang-orang yang mengaku sebagai agen perubahan, yang beberapa di antaranya menjabat sebagai politisi, ekonom, ahli hukum, hingga aktor dakwah di Indonesia. Kami yang saat ini duduk di kursi mewah ini, dengan tegas dan lantangnya menolak perilaku koruptif sambil memegang microphone dan menggebrak-gebrak meja. Hanya berselang beberapa menit, kami menyetujui pengucuran anggaran mengenai sebuah proyek yang tidak jelas yang mana pada akhirnya uang hasil proyek tersebut masuk di sela-sela kantong kami. Inilah kami yang saat ini sedang duduk bersila dengan memakai surban berwarna putih di kepala, dengan tegas dan lantangnya mengatakan bahwa agama kami merupakan rahmat bagi seluruh alam. Hanya berselang beberapa jam, kami mengobarkan semangat kebencian kepada orang-orang yang kami anggap sesat dan berusaha secara paksa mengusir mereka supaya menjauhi badan kami.

Standar Ganda

Perbedaan cara pendang ketika menghadapi sebuah situasi yang serupa sering diistilahkan sebagai standar ganda. Konsep tersebut telah berkembang sejak abad ke-19 yang mulanya dipakai untuk menganalisis perbedaan hak pria dan wanita. Secara umum, standar ganda merupakan perbedaan sikap dan perilaku yang diaktualisasikan dalam sebuah situasi dan kondisi yang serupa. Di satu sisi, seseorang akan menyikapi sebuah kondisi dengan cara dan refleks tertentu. Di sisi lain, orang tersebut memberikan sikap yang berbeda atas kondisi yang persis sama yang hanya memiliki perubahan pada satu/dua faktor. Faktor-faktor yang pada umumnya dikenai standar ganda yakni orang, barang, dan lain-lain. Bukan hal yang mudah untuk memberikan justifikasi mengenai kebenaran ataupun kesalahan dalam penerapan standar ganda karena sikap tersebut menjadi hal yang umum digunakan oleh setiap orang di berbagai penjuru dunia.

Jika dilihat lebih rinci, terdapat beberapa indikator yang dapat menentukan sifat atas penerapan standar ganda, apakah hal tersebut memiliki dampak positif ataukah justru rentan merugikan orang lain. Merujuk pada artikel yang dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat mengenai standar ganda dalam konteks HAM, penerapan sikap tersebut tergantung pada keuntungan yang akan didapat. Menurut mereka, penerapan standar ganda secara sadar dapat membawa keuntungan dalam jangka pendek berupa efek psikologis hingga kemudahan dalam hal-hal praktis. Walaupun begitu, mereka tidak memungkiri bahwa keuntungan tersebut didapat dengan tetap mengorbankan kepentingan orang lain. Pengurangan hak yang diterima obyek politik standar ganda merupakan akibat dari perbuatan tersebut. Bagi masyarakat Jawa yang sering diperibahasakan ke dalam frasa “emban cindhé emban siladan”, perilaku standar ganda merupakan sebuah antitesis dari sikap adil. Pada intinya, sikap standar ganda yang cenderung politis menjadi salah satu wujud oportunistik dalam menanggapi dua hal yang serupa.

Penulis tidak akan mengkritisi politik standar ganda yang dilakukan orang-orang luar. Beberapa di antaranya tentang justifikasi sikap intoleransi terhadap orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda, tentang justifikasi sikap rasisme terhadap orang-orang dengan warna kulit yang berbeda, serta tentang justifikasi atas kebebasan berbicara (freedom of speech) terhadap orang-orang yang membuat visualisasi terhadap wajah ataupun tubuh dari Nabi Muhammad. Penulis lebih menekankan untuk mengkritisi politik standar ganda yang dilakukan oleh diri kami dan teman-teman kami yang memiliki idealisme sebagai agen perubahan dilihat dari perspektif yang sederhana. Perlu diingat, agen perubahan tidak pernah melakukan perubahan dengan cara-cara yang kasar. Mereka yang membakar ban di tengah jalan, mereka yang memblokade jalan, dan mereka yang berbuat kerusakan tidaklah pantas disebut sebagai agen perubahan. Alasannya sederhana saja, mereka justru sedang mengimplementasikan politik standar ganda. Mereka berteriak untuk perbaikan dan kemakmuran dalam skala nasional, namun di sisi lain mereka adalah aktor perusak dan pengacau dalam level jalanan. Agen perubahan juga tidak pernah diam di tempat dalam melakukan perubahan. Mereka yang pandai berbicara di depan umum, namun tidak mau melangkahkan kaki ke tempat yang semestinya, bahkan dalam hal-hal kecil semisal melangkahkan kaki untuk membuang sampah di tempat sampah. Permisalan yang sama dapat dilihat dari seorang mahasiswa yang secara tegas menolak perilaku KKN, namun di sisi lain dia memiliki budaya titip presensi pada waktu kuliah.

Penutup

Sikap standar ganda bukanlah sebuah solusi permasalahan kehidupan. Dalam upaya mengubah alur dinamika kehidupan serta menyelesaikan berbagai problematika yang muncul dibutuhkan komitmen, konsisten, serta konsekuen. Konsisten merupakan sebuah sikap anti double-standard yang mampu secara efektif menjaga ritme masing-masing individu agar tetap sesuai dengan idealisme awal yang telah menjadi komitmen sebelumnya. Sikap konsisten akan menghasilkan konsekuensi positif dalam perubahan di masyarakat. Penerapan politik standar ganda tidak hanya akan membuat obyek perubahan menjadi chaos, tetapi juga menimbulkan hasil yang berlawanan terhadap apa yang diharapkan sebelumnya. Politik standar ganda tidak hanya mengenai perbedaan cara menanggapi, namun juga perbedaan mengenai korelasi perkataan dengan perbuatan. Ingat, dalam firman-Nya, Allah menyikapi orang-orang di atas dengan sikap kabura maktan, yakni kemurkaan level tinggi yang tiada terbayangkan bagi para hamba-Nya.

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut. Barangsiapa yang ingin melaksanakan kebaikan namun dia tidak mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga kelipatan yang banyak. Jika dia berniat berbuat maksiat, kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya, Allah mencatatnya sebagai satu maksiat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ditulis Oleh:
Raka Nur Sanjaya
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.