“Pemuda Islam Terpelajar dan Peradaban Rahmatan Lil’alamin[1]
Oleh: Wisnu Al Amin[2]

 

Pemuda…
Fenomena keislaman kaum terpelajar, khususnya pemuda di lingkungan kampus menjadi sorotan yang harus dipahami dengan seksama. Peran kaum pemuda terpelajar terhadap keislaman masa kini menjadi tinjauan penting untuk melihat bagaimana masa depan Islam. Betapa tidak, kita lihat saja negeri ini hadir tidak luput dari peran pemuda terpelajar, khususnya pemuda Islam. Hal ini bukan bermaksud terbuai pada ingatan romantisme sejarah keislaman.

Pemuda terpelajar pada era dahulu melalui hari-harinya dengan perdebatan ide dan gagasan sebab pemuda adalah sosok dengan kondisi full power dalam proses kehidupannya di dunia. Namun, tampaknya  pemuda Islam terpelajar di dalam kampus saat ini agak tidak “sadar” akan dirinya. Seorang pemuda Islam terpelajar seharusnya memiliki tanggung jawab akan keberadaannya karena Islam mengajarkan keseimbangan antara wacana dan aksi, antara ilmu dan amal. Dengan kata lain, jika pemuda tidak menyadari akan perannya, maka keseimbangan itu akan enjadi pincang dan mudah goyah.

Menjamurnya Organisasi Keislaman: Menjadi Tantangan atau Peluang

Memang sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw (Rasulullah Saw), bahwa di akhir zaman nanti umat Islam akan seperti buih di tengah lautan. Hal itu bisa ditinjau dari bagaimana realitas saat ini. Organisasi keislaman tidak hanya menjamur di kalangan masyarakat, tetapi juga di kalangan mahasiswa (kampus, red). Namun, yang perlu dipertanyakan adalah apakah organisasi keislaman tersebut betul-betul dan sungguh-sungguh memperjuangkan Islam seutuhnya ataukah justru memperjuangkan organisasinya dengan egoisme geraknya? Mari kita renungkan sebagai umat Islam.

Jangan sampailah, organisasi keislaman yang tujuannya untuk nilai-nilai keislaman Rahmatan Lil’alamiin, tetapi justru sebagai ajang berebut umat, berebut jamaah. Jangan sampailah tubuh umat Islam ini dipandang sebagai tubuh yang tidak menyatu, tubuh yang egois, sebab umat Islam tidaklah seperti halnya agama-agama lain. Islam adalah agama yang tidak hanya berkewajiban memberikan kemanfaatan kepada pemeluknya tetapi juga bagi manusia yang tidak beragama Islam. Untuk itu, sebagai pemuda Islam terpelajar penting untuk memahami dan merefleksikan hal itu.

Saatnya Mengasah Pemuda Islam Terpelajar, Menyongsong Peradaban Rahmatan Lil’alamiin

Pemuda Islam terpelajar, yang dibekali dengan nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai ilmu pengetahuan, sudah seharusnya mengintegrasikan kedua hal itu untuk dijadikan titik peradaban Rahmatan Lil’alamin. Bagaimana semangat implementasi keilmuan sosio-humaniora, teknika, sains, medika, dan agro didorong dengan nilai-nilai keislaman bisa menjadikan keilmuan-keilmuan itu tidak kering sehingga memberikan manfaat kebaikan bagi sekalian alam dan manusia.

Sudah saatnya pemuda Islam terpelajar menawarkan solusi segar atas keilmuan yang mereka miliki agar berdampak pada kebaikan. Hal itu menjadi tugas besar bagi mereka untuk mereduksi antipati atau penolakan secara mutlak atas pemikiran keilmuan barat. Sekarang sudah saatnya menjadikan pemikiran keilmuan barat itu sebagai instrumen untuk membalikkan dan menuju peradaban Rahmatan Lil’alamiin. Sudah saatnya juga mencari benang merah nilai-nilai keislaman dengan keilmuan barat untuk menggagas paradigma yang dapat mengantarkan peradaban Rahmatan Lil’alamiin. Dan sudah saatnya pemuda Islam beranjak pada tantangan menggugat peradaban, bukan berdebat apalagi saling rebut umat.

Mengapa demikian? Karena di dalam Al Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala (Tuhan Pencipta Seluruh Alam Semesta) menyinggung manusia dengan kalimat afalaa ta’qiluun[3] (mengapakah engkau tidak menggunakan akalmu), afalaa tatafakkaruun (mengapakah engkau tidak berpikir), afalaa yatadabbaruun (mengapakah engkau tidak menelaah), la’allakum ta’qiluun (sehingga dengan demikian agar kalian dapat memahaminya), hal itu untuk mencapai la’allakum tadzakkaruun (oleh sebab itu agar kalian dapat mengambil pelajaran).

 

[1] Rahmatan Lil’alamiin adalah rahmat bagi seluruh alam. Terdapat dalam Al Qur’an Surah Al Anbiyaa Ayat 107  ; “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

 

[2] Mahasiswa Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada tahun 2012 dan Aktivis Jama’ah Shalahudddin UGM

[3] Barangkali banyak ayat yang menyitir mengenai pengajakan kepada manusia agar menggunakan akalnya dan berpikir. diantaranya adalah Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 22, Al Baqarah ayat 164, Al Hujurat ayat 6, Ali Imran ayat 190-191,  Al An’am ayat 97, Yunus ayat 5, dan masih banyak ayat-ayat lainnya di dalam Al Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *