Bapak Iriyanto Mantan Pemulung

Bapak Iriyanto Mantan Pemulung

 

 

Oleh : Defin Merlinesia (085643413975)

Jama’ah Shalahuddin UGM

Minggu, 29 Maret 2015

Bapak pada foto di atas mempunyai nama Iriyanto. Beliau adalah seorang muslim yang berasal dari Delanggu, Surakarta. Saat ini beliau berusia 58 tahun. Badannya yang kurus tidak membuat beliau bermalas-malasan. Beliau tetap bekerja semampu yang bisa dilakukannya, salah satunya menjadi pemulung. Beliau telah memiliki dua anak dari mantan istrinya dan juga memiliki tiga orang cucu. Salah satu anaknya tinggal di Surabaya.

Nama              : Iriyanto

No KTP           : –

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama           : Islam

Umur             : 58 tahun

Alamat Asal   : Delanggu, Surakarta

Pekerjaan      : Pemulung

Status kawin  : Sudah kawin (duda)

 

KEHIDUPAN MASA DULU

Bapak Riyanto tidak pernah mempunyai pekerjaan tetap sejak masa muda. Dahulu apapun pekerjaan yang dirasa mampu beliau lakukan maka akan dikerjakan demi mengumpulkan pundi-pundi rezeki. Saat di Surakarta, beliau pernah bekerja menjaga sepeda dan pengambilan alat olahraga di UNS. Namun, keterbatasan ilmu yang beliau punya membuatnya harus keluar karena ketidakmampuan berkomunikasi dengan mahasiswa. Beliau juga pernah bekerja menjadi tukang kayu dan tukang batu.

KEHIDUPAN MASA KINI

Saat ini Bapak Iriyanto memilih merantau di DIY dan hanya bekerja sebagai pemulung. Beliau tidak mempunyai tempat tinggal dan hidup sebatang kara karena keluarganya tidak memperhatikan kondisinya saat ini yang sedang mengalami kesulitan seperti ini. Beliau sering tidak mampu lagi memulung karena menderita sakit tekanan darah rendah. Bahkan pusing yang beliau rasakan akibat tekanan darah rendah membuatnya terjatuh saat memulung. Selain itu, beliau terkadang mengalami sakit di perut bagian kanan. Akibat sakit tekanan darah rendah yang beliau alami membuatnya harus pasrah dan tinggal tinggal di emperan Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjoasoemantri (PKKH) UGM mulai Februai kemarin.

Sebelumnya, beliau bisa mendapatkan penghasilan Rp 25.000 selama sehari memulung. Namun, akibat harga barang bekas yang sedang turun membuat penghasilan beliau berkurang hingga setengahnya.

 

BANTUAN YANG DIBUTUHKAN

Dari hasil asesmen dan observasi, bantuan yang dibutuhkan Bapak Iriyanto adalah:

  1. Advokasi ke Dinas Sosial

Bapak Riyanto sendiri juga meminta tolong untuk disalurkan ke Dinas Sosial. Beliau juga mengetahui mengenai ‘Jogja Bebas Gepeng’ yang berupa aksi penjaringan gepeng.

  1. Tempat tinggal yang nyaman dan menjamin kesehatannya
  2. Obat-obatan untuk penyakit tekanan darah rendah
  3. Selimut tebal

Bapak Riyanto yang terpaksa tinggal di emperan Gedung PKKH UGM ini sering terbangun pada tengah malam karena rasa dingin yang menusuk tulang.

  1. Makanan dan minuman

Demi menunjang kesembuhan beliau, sangat diperlukan makanan dan minuman yang layak.

Seandainya beliau sudah sehat, beliau begitu yakin masih kuat melakukan pekerjaan yang tidak banyak menguras tenaga, seperti tukang kayu dan tambal ban. Beliau bersyukur, tukang tambal ban dekat tempatnya kadang meminta beliau membantu untuk tambal ban dan pernah diberi upah Rp20.000. Selain itu, ada pula dermawan yang memberikan obat tambah darah ‘Sakatonik’, makanan, minuman, dan selimut.

Saya mengharapkan kepada pihak yang akan membantu Bapak Riyanto supaya memberikan dorongan semangat hidup, pendampingan keagamaan, dan pemberian kapasitas (Capacity Buliding) sehingga beliau bisa mengisi hidupnya dengan pekerjaan yang tetap, penghasilan yang cukup, dan barokah.

Di bawah ini adalah foto tempat tinggal sementara Bapak Iriyanto (emperan PKKH UGM):

bapak riyanto 1

Tempat tidur dengan alas tikar di emperan PKKH UGM

 bapak riyanto 2

Karung berisi barang-barang Bapak Iriyanto

 

Itulah hasil asesmen yang saya lakukan terhadap Bapak Iriyanto. Saat mencari keberadaan beliau, beliau sedang tidur. Saya menunggu sejenak, lalu sekitar pukul 14.30 WIB, saya mencoba menghampirinya. Saat itu keadaan beliau seperti orang linglung dan pasrah dengan keadaan tubuhnya yang lemah dan tidak bertenaga, wajah dan kantung matanya pun pucat.

Menggelandangnya beliau saya ketahui dari laporan teman-teman yang ada di sekre JS. Mereka (teman-teman JS, red) didatangi ibu-ibu (pemulung juga) yang meminta bantuan pakaian untuk Bapak Iriyanto. Dari sekelumit informasi yang mereka sampaikan, saya bisa menindaklanjuti dengan cepat karena saat itu saya sedang mengikuti acara Gerakan Bersih Kampung dan Sosialisasi Perda DIY No.1 Tahun 2014 yang diadakan oleh Sosmas BEM KM UGM sejak pukul 7.30 WIB. Acara tersebut juga turut mengundang pihak Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi DIY yaitu Bapak Bari. Pembahasan di sosialisasi tersebut mengenai penanganan gepeng (gelandangan, pengemis, dan pemulung, red). Setelah sosialisasi tersebut selesai pada pukul 12.30 WIB, saya langsung menemui Pak Bari yang sudah berada di luar gedung. Saya menceritakan mengenai Bapak Iriyanto yang menggelandang di emperan PKKH UGM sesuai informasi yang saya dapat. Bapak Bari mendengarkan dengan cermat dan mengatakan akan membantu penanganan kasus ini. Beliau sangat tanggap dan menghargai saya. Beliau masih memberi kabar melalui sms pada pukul 22.00 WIB. Kami menjalin komunikasi dengan baik, setiap perkembangan beliau sampaikan. Pada malam itu juga pukul 21.00 WIB saya mengirim hasil asesmen ke email Pak Bari. Beliau memberitahu bahwa besok kemungkinan akan ada dokter yang menemui Pak Iriyanto untuk memeriksa keadaanya, dan kalau diperlukan akan diperiksakan ke puskesmas. Pada hari Senin siang, saya menghampiri emperan PKKH UGM, tetapi Pak Iriyanto tidak ada di sana. Saya konfirmasi kepada Pak Bari melalui sms lalu Pak Bari menghubungi Dinsos Kabupaten Sleman dan mengatakan bahwa Pak Iriyanto sudah dibawa oleh Dinsos Kabupaten Sleman.

Pak Iriyanto dirawat inap di Rumah Sakit Graha Mahardika selama tiga hari dan mendapatkan 6 kantong darah untuk mengembalikan kesehatannya. Hb yang sangat rendah membuat beliau sangat lemah.

Pada hari minggu tanggal 5 April 2015, teman-teman sosial kemasyarakatan dari Jama’ah Shalahuddin, BEM KM UGM, dan BEM FTP mengunjungi Camp Assessment untuk menanyakan tentang penanganan gepeng sekaligus menjenguk Pak Iriyanto. Saat kami menjenguk beliau, beliau tampak terlihat lebih baik.