Islamisasi Ilmu: Sebuah Tantangan Sekularisasi Ilmu di Dunia Barat

Oleh: Najmi Wahyughifary -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

            Pendahuluan

            Permasalahan peradaban selalu berkaitan erat dengan permasalahan bangunan filsafat dan ilmu yang mendasari sebuah peradaban. Filsafat Barat telah melalui fase-fase poros pemikiran yang silih berganti baik berpaham kosmosentris, antroposentris, teosentris sampai kembali lagi ke antroposentris. Filsuf-filsuf Barat mengklaim Renaissance sebagai kelahiran kembali pemikiran filsafat Yunani Kuno dengan berbagai macam tokohnya baik Plato dan Aristoteles serta lainnya. Filsafat Barat mengalami sebuah gejolak besar yang disebut sebagai revolusi ilmiah (scientific revolution) yang ditandai dengan adanya zaman Renaissance dan Aufklarung. Renaissance yang terjadi pada abad ke-16 dimaknai sebagai kelahiran kembali peradaban Yunani-Romawi. Pelopor-pelopornya disebut “humanis”, yang berarti pelajar dan pemuja peradaban Yunani-Romawi pra-Kristen, bertolak belakang dengan pelajar dan penekun teologi Kristen Barat (Arnold Toynbee, 2007: 643).

Renaissance dimulai dari Italia dan merupakan gerakan sekelompok kecil sarjana dan seniman yang didukung oleh pelindung-pelindung liberalnya, khususnya Medici dan paus-paus humanis (Bertrand Russel, 2004: 656). Sedangkan zaman pencerahan atau Aufklarung dimulai pada abad ke-18 di Eropa. Apabila pada zaman Renaissance, filsafat hanya membatasi diri pada usaha memberikan tafsiran baru pada realitas bendawi dan rohani, yaitu mengenai manusia, dunia, dan Tuhan. Namun abad ke-18 atau zaman Aufklarung (pencerahan), filsafat Barat mencoba meneliti secara kritis (sesuai dengan kaidah-kaidah yang diberikan akal) terhadap segala sesuatu yang ada, baik dalam negara maupun masyarakat. Revolusi ilmiah tersebut menyebabkan epistemologi mengalami perubahan secara subtansial. Nilai dari logika tidak diabaikan, namun kompleksitas dari kehidupan dan dorongan untuk memperoleh ilmu pengetahuan baru tentang dunia menjadi lebih rumit daripada para pendahulunya yang membangkitkan teori-teori baru tentang bagaimana cara mempelajari dunia yang paling efektif. Penalaran secara deduktif dari premis yang baru dan lebih mapan (well-established) dalam mendapatkan kesimpulan serta melalui induksi dari observasi dan eksperimen-eksperimen untuk merumuskan hipotesis dan teori-teori yang berguna merupakan ciri khas epistemologi dari revolusi ilmiah (scientific revolution) ini (Wilbur H. Applebaum, 2005: 87).

Permasalahan bangunan keilmuan yang terjadi dalam filsafat Barat sangat banyak mempengaruhi trend keilmuan saat ini. Peradaban islam dengan filsafatnya –berjaya hampir 14 abad- yang didalamnya terjadi revolusi ilmiah yang berbeda dan sangat kontradiktif dengan yang terjadi di dunia Barat. Tentu rumusan masalah yang coba dikemukakan yang paling pertama ialah bagaimana bangunan epistemologi dalam filsafat Barat khususnya pada zaman Renaissance dan Aufklarung maupun setelahnya serta proses sekularisasi dan westernisasi ilmu. Kemudian, jawaban atau respons dunia islam yang dituangkan dalam gagasan “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” yang diangkat oleh beberapa cendekiawan atau filsuf islam modern kini.

 

Westernisasi dan Islamisasi Ilmu

            Pada zaman modern, filsafat Barat bangkit dan sangat bersemangat setelah Rene Descartes (1596-1650) menyampaikan diktumnya yang amat terkenal cogito ergo sum yang bermakna “aku berpikir maka aku ada”. Diktum itu dengan prinsipnya memproklamirkan bahwasnya rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Penekanan terhadap rasio dan pancaindra sebagai sumber ilmu juga dilakukan oleh filsuf-filsuf lain seperti Thomas Hobbes (m. 1679), Benedict Spinoza (m. 1677), John Locke (m. 1704), George Berkeley (m. 1753), Francosi-Marie Voltaire (m. 1778), J.J. Rousseau (m. 1778), David Hume (m. 1776), Immanuel Kant (m. 1804), G.F. Hegel (m. 1831), Arthur Schopenhauer (m. 1860), Soren Kierkegaard (m. 1855), Edmund Husserl (m. 1938), Henri Bergson (m. 1941), Bertrand Russel (m. 1970), Martin Heidegger (m. 1976), Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, dan lain-lain.

Pada zaman modern, filsafat Immanuel Kant sangat berpengaruh. Kant menjawab keraguan terhadap ilmu pengetahuan yang dimunculkan oleh David Hume yang skeptik. Menurut Kant, pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin karena tidak berdasarkan kepada pancaindra. Dalam pandangan Kant, di dalam metafisika, tidak terdapat pernyataan-pernyataan sintetik-a-priori seperti yang ada dalam matematika, fisika, dan ilmu-ilmu yang berdasar kepada fakta empiris. Kant menamakan metafisika sebagai ilusi transenden (a transcendental illusion). Menurut Kant, pernyataan-pernyataan metafisis tidak memiliki nilai epistemologis (metaphysical assertions are without epistemological value) (Justus Harnack, 1968: 142)

Epistemologi Barat modern-sekuler semakin bergulir dengan munculnya filsafat dialektika Hegel (m. 1831) yang terpengaruh oleh Immanuel Kant. Bagi Hegel, pengetahuan adalah ongoing process, dimana apa yang diketahui dan aku yang mengetahui terus berkembang; tahap yang sudah tercapai “disangkal” atau “dinegasi” oleh tahap baru. Bukan dalam arti bahwa tahap lama itu tak berlaku lagi, tetapi tahap lama itu, dalam cahaya pengetahuan kemudian, kelihatan terbatas. Jadi, tahap lama itu tidak benar karena terbatas dan dengan demikin jangan dianggap kebenaran. Tetapi, yang benar dalam penyangkalan tetap dipertahankan (Franz Magnis Suseno, 2001: 56).

Tak dapat dipungkiri pula, bahwasanya epistemologi Barat modern-sekuler juga melahirkan paham ateisme. Akibatnya, paham ateisme, menjadi fenomena umum dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi dan lain-lain. Karl Marx (m. 1883) berpendapat agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu ruh zaman yang tanpa ruh. Agama adalah candu bagi rakyat. Dalam pandangan Marx, agama adalah faktor sekunder, sedangkan faktor primernya adalah ekonomi (Franz Magnis Suseno, 2001: 71).

Selain itu, dalam bidang sains, Marx memuji karya Charles Darwin (m. 1882), yang menyimpulkan Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Bagi Darwin, asal-mula spesies (origin of species) bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan” (adaption to the environment). Menurutnya lagi, Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesies yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam (natural conditions) (Charles Darwin, 1958: 437). Kemudian di disiplin ilmu lain juga bermunculan nuansa ateistik. Bidang psikologi digemakan oleh Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya. Di bidang filsafat ada Friedrich Nietzche dengan semboyannya “God is dead” dan Jacques Derrida pada abad ke-20 dengan semboyannya “The author is dead”. Dalam bidang sosiologi, paham ateisme juga terbentuk di dalamnya, August Comte, Bapak Sosiologi Modern, memandang kepercayaan kepada agama merupakan bentuk keterbelakangan masyarakat (Adian Husaini et al, 2013: 245).

Selebihnya masih banyak bidang ilmu lain yang berkembang dan dikembangkan oleh prinsip-prinsip ateis sebagai sebuah konsekuensi logis dalam peletakkan dasar epistemologi hanya kepada rasio dan pancaindra. Pembahasan epistemologi di dunia Barat amat kompleks dan sangat implikatif, yang tidak dapat dipungkiri telah melahirkan bangunan ilmu yang memiliki core aliran atau paham ateistik, skeptistik, relativistik, liberal, dan sebagainya.

 

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

            Ide islamisasi ilmu pengetahuan muncul dari premis bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value laden). Ilmu pengetahuan yang tidak netral ini telah diinfus ke dalam praduga-praduga agama, budaya, dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Jadi, ilmu pengetahuan modern harus diislamkan (Wan Daud, 1998: 291).

Mengislamkan ilmu bukanlah pekerjaan mudah seperti labelisasi. Selain itu tidak semua dari Barat berarti ditolak, karena terdapat sejumlah persamaan dengan islam. Oleh sebab itu, seseorang yang mengislamkan ilmu, perlu memenuhi prasyarat, yaitu ia harus mampu mengidentifkasi pandangan hidup Islam (the Islamic worldview) sekaligus mampu memahami peradaban Barat (Wan Daud, 1998: 313).

Berbicara tentang Islamisasi, tidak bisa lepas dari peran pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas, penggagas awal ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Penjelasan lebih gamblang tentang teori Islamisasi Al-Attas telah dikompilasikan dalam karyanya yang berjudul Islam and Secularism dan dilanjutkan pada buku Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Islamisasi menurut Al-Attas adalah pembebasan manusia dari unsur magic, mitologi, animisme, dan tradisi kebudayaan kebangsaan serta dari penguasaan sekuler atas akal dan bahasanya. Ini berarti pembebasan akal atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai dari kecenderungan sekuler, primordial, dan mitologis (Al-Attas, 1993: 44). Sedangkan Ismail Raji Al-Faruqi menyebut istilah Islamisasi ilmu pengetahuan dengan sebutan Islamization of Knowledge, dan istilah ini yang paling sering disebut.

Jadi, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah program epistemologi dalam membangun peradaban islam. Bukan masalah “labelisasi” seperti Islamisasi teknologi, yang secara peyoratif dipahami sebagai Islamisasi kapal terbang, pesawat radio, handphone, internet, dan sebagainya. Islamisasi ilmu pengetahuan tidak sesederhana memberikan label layaknya pada sebuah produk makanan ataupun produk konsumsi pada umumnya.

Melalui pemikirannya, Al-Attas mengkritisi sekularisasi ilmu pengetahuan yang terjadi di dunia Barat dan memprihatinkan kondisi kaum Muslimin yang tidak menyadari persoalan tersebut. Dalam pandangannya, akar permasalahan kaum Muslimin saat ini adalah sekularisasi ilmu dan mengingatkan perlunya Islamisasi ilmu sebagai sebuah solusi.

Dalam pandangan Al-Attas, westernisasi ilmu adalah hasil dari kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkay keraguan dan dugaan ke tahap metodologi “ilmiah”. Bukan hanya itu, westernisasi ilmu juga telah menjadikan keraguan sebagai alat epistemologi yang sah dalam keimuan. Menurutnya lagi, westernisasi ilmu tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama, namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekuler yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus-menerus berubah.

Ilmu pengetahuan modern yang diproyeksikan melalui pandangan hidup itu dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai peradaban Barat: (1) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler; (4) membela doktrin humanisme; (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan (Al-Attas, 1999: 445). Karena ilmu pengetahuan dalam budaya dan peradaban Barat itu justru menghasilkan krisis ilmu pengetahuan yang berkepanjangan, Syed Muhammad Naquib Al-Attas berpendapat ilmu yang berkembang di Barat tak semestinya harus diterapkan di dunia Muslim. Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan. Sebabnya, ilmu bukan bebas nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value-laden) (Al-Attas, 1993: 134).

Memang antara Islam dan filsafat serta sains modern, sebagaimana yang disadari oleh Al-Attas terdapat persamaan khusunya dalam hal-hal yang menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme, dan pragmatisme sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat juga sejumlah perbedaaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) mengenai realitas akhir. Baginya, dalam Islam, wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas akhir. Baginya, dalam islam, wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta. Wahyu merupakan dasar kepada kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dan sudut pandang rasionalisme dan empirisme (Al-Attas, 1989: 9). Tanpa wahyu, ilmu sains dianggap satu-satunya pengetahuan yang autentik (science is the sole authentic knowledge). Kosong dari wahyu, ilmu pengetahuan ini hanya terkait dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Tanpa wahyu, realitas yang dipahami hanya terbatas kepada alam nyata ini yang dianggap satu-satunya realitas (Al-Attas, 1989: 5).

Pandangan hidup Islam mencakup dunia dan akhirat, yang mana aspek dunia harus dhubungkan dengan cara yang sangat mendalam kepada aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. Pandangan hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait seperti konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai, dan kebaikan serta kebahagiaan. Konsep-konsep tersebut yang menentukan bentuk perubahan, perkembangan, dan kemajuan pandangan hidup Islam dibangun atas konsep Tuhan yang unik, yang tidak ada pada tradisi filsafat, budaya, peradaban, dan agama lain. Oleh sebab itu, Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah agama yang mengatasi dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai Islam bukan hanya untuk masa dahulu, melainkan juga sekarang dan akan dating. Jadi, Islam memiliki pandangan hidup mutlaknya sendiri, merangkum persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta, dan lain-lain. Islam memiliki penafsiran ontologis, kosmologis, dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak (Al-Attas, 1993: 30).

Setelah mengetahui secara mendalam mengenai pandangan hidup Islam dan Barat, maka proses Islamisasi baru dapat dilakukan. Sebabnya, Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini (the Islamization of present-day knowledge), melibatkan dua proses yang saling terkait, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengisolir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat dan setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora.
  2. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dan ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.

Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia manusia dari magic, mitologi, animisme, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam, dan kemudian kontrol sekuler kepada akal dan bahasanya. Islamisasi akan membebaskan akal manusia dan keraguan (syak), dugaan (zhann), dan argumentasi kosong (mira’) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible, dan materi (Wan Daud, 1998: 312). Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dan ideologi, makna dan ungkapan sekuler (Al-Attas, 1999: 114)

Kesimpulan

            Permasalahan epistemologi filsafat Barat dalam perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah kompleks dan membawa pengaruh luar biasa. Renaissance maupun Aufklarung serta setelahnya memberikan sumbangsih pemikiran keilmuan yang sangat kompleks, ditandai dengan bantahan-bantahan khususnya dua aliran besar rasionalisme dan empirisme. Ilmu dalam manusia Barat berkembang pesat dengan aliran yang berwatak ateistik, skeptistik, relativistik, liberal, dan sebagainya yang khas Barat. Islam sebagai agama dan peradaban yang memiliki filsafat yang khas dan corak kedalaman yang jauh berbeda dengan perkembangan filsafat Barat. Akar permasalahan ilmu pengetahuan saat ini ialah sekularisasi ilmu, rusaknya tatanan ilmu dan kodrat dasar manusia dipandang sebagai salah satu dampaknya hingga bidang-bidang ilmu yang vital dalam kehidupan manusia dan peradaban. Oleh karena itu, Islamisasi ilmu pengetahuan mendesak adanya, epistemologi yang tak semata disandarkan dari sumber-sumber pancaindra (empiris) dan akal (rasional), namun juga hal yang sangat mendasar sumber wahyu sebagai sumber primernya. Yang pada akhirnya akan mengantarkan tujuan ilmu yang tertinggi yaitu mencari kebenaran itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia ; Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif, Cetakan IV, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosial Politik Zaman Kuno hingga Sekarang, Cetakan II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Wilbur H. Applebaum, The Scientific Revolutions and the Foundation of Modern Science, Westport: Greenwood Press, 2005.

Justus Harnack, Kant’s Theory of Knowledge, pen. M. Holmes Hartshorne, London: Macmillan, 1968.

Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Charles Darwin, The Origin of Species, New York: New American Library, 1958.

Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu, Jakarta: Gema Insani Press, 2013.

Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and The Philosophy of Science, Kuala Lumpur: ISTAC, 1989.

_____________________________, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.

_____________________________, The Concept of Education in Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1999.

 

 

9 thoughts on “Islamisasi Ilmu: Sebuah Tantangan Sekularisasi Ilmu di Dunia Barat

  1. This is the right blog for anybody who wants to find out about this topic.
    You realize a whole lot its almost hard to argue with you (not that I personally would want to…HaHa).
    You definitely put a brand new spin on a topic which has been written about for a long time.

    Excellent stuff, just wonderful!

  2. Pretty great post. I just stumbled upon your blog and wished to say that I
    have truly enjoyed browsing your blog posts. In any case I’ll be subscribing in your rss feed and I am hoping you write again very soon!

  3. Amazing blog! Do you have any tips and hints for aspiring writers?

    I’m hoping to start my own blog soon but I’m a little lost on everything.
    Would you advise starting with a free platform like WordPress or go for a paid option? There are
    so many choices out there that I’m totally confused ..

    Any suggestions? Kudos!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *