Refleksi Jum’at
Edisi I

“Hakikat Niat, Ikhlas, dan Kesungguhan”

 

Orang yang ikhlas tak dimotivasi oleh pengharapan akan pujian. Orang yang ikhlas beramal, berkarya dan berbuat dengan kesungguhan hanya akan termotivasi oleh-Nya. Meski demikian, bagi orang yang bisa memahami, motivasi yang satu bisa melahirkan beberapa niat baik yang berbeda dari amal yang satu. Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali atau yang sering kita kenal Imam Ghazali menjelaskan ini dalam satu bab pada kitabnya, Mukhtashar Ihya’ Ulum al-Din.

Sebagai pembelajar, apapun status kita, baik pelajar, mahasiswa, santri ataupun pengemban dakwah sudah seyogyanya kita selesai dengan pemahaman ini. Al Ghazali coba memaparkan ini dalam penjelasan ‘Hakikat Niat’.

Hakikat Niat

Niat, iradat, dan kehendak adalah kata-kata yang mempunyai satu makna, yakni keadaan dan sifat hati yang mengandung kaitan antara ilmu (pengetahuan) dan amal. Pengetahuan seperti pendahuluan dan syarat. Sedangkan amal mengikutinya.

Niat berarti iradat (keinginan) yang berada di tengah-tengah antara pengetahuan yang mendahului dan amal yang mengikuti. Seseorang yang mengetahui sesuatu, lalu timbullah keinginan untuk melakukan apa yang ketahui itu.

Nabi SAW bersabda, “ Niat mukmin lebih baik dari amalnya, dan niat fasik lebih buruk dari amalnya, dan niat fasik lebih buruk dari amalnya.” Jika dibandingkan antara amal tanpa niat dan niat tanpa amal, maka tentu niat tanpa amal lebih baik daripada amal tanpa niat. Jika ditakar antara amal yang didahului niat dengan niat tersebut, maka niat pun lebih baik, karena niat adalah iradat yang timbul dari pangkal ilmu dan lebih dekat ke hati. Karenanya, bagaimanapun niat orang beriman lebih baik dari amalnya, seperti disinggung hadist tadi.

 

Hakikat Ikhlas

            Segala sesuatu yang bisa tercemari, jika bersih dan murni dari hal yang tercemari, maka disebut murni (khalis). Perbuatan membersihkan dan memurnikan disebut ikhlas. Allah berfirman, Jika suatu perbuatan murni dari ria dan karena Allah semata, maka perbuatan ini khalis (murni). Ikhlas itu berarti tak melihat ikhlas. Siapa yang menyaksikan ikhlas dalam ikhlasnya, maka ikhlasnya membutuhkan ikhlas (pemurnian). Berat bukan ? Tapi demikian lah hakikat ikhlas.

Al Junayd berkata, “Ikhlas berarti memurnikan amal dari kekeruhan-kekeruhan.”. Al Fudhayl berkata, “Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah ria, dan mengerjakan sesuatu amal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas ialah bila Allah membebaskan dari keduanya.”

Hakikat Kesungguhan

            Allah berfirman, “Orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya kesungguhan itu mengantarkan ke kebajikan, dan kebajikan mengantarkan ke surga. Orang yang suka bersungguh-sungguh akan ditetapkan sebagai shiddiq di sisi Allah. Dan sesungguhnya dusta itu membawa ke kebejatan, dan kebejatan mengantar ke neraka. Orang yang suka berdusta akan ditetapkan sebagai pendusta di sisi Allah.”

 

Makna Shiddiq

            Kata shidq (kesungguhan) digunakan dalam enam hal: kesungguhan dalam perkataan (=jujur), kesungguhan dalam niat dan iradat (=tulus), kesungguhan dalam berkemauan (=penuh tekad), kesungguhan dalam menepati kemauan (=sungguh-sungguh), kesungguhan dalam berbuat, dan kesungguhan dalam merealisasikan semua ajaran agama. Siapa saja mempunyai kesungguhan ini, maka dialah shiddiq. Dan siapa yang mempunyai sebagian di antaranya, maka ia disebut shadiq. Wallahu’alam.

“Banyak perbuatan biasa menjadi bernilai karena terbungkus dalam niat yang bagus, sebagaimana banyak kewajiban menjadi tak bermakna lantaran niatnya yang tak lurus. Ketulusan membuat hidup semua tindakan. Menghidupkkan semua tindakan dan perbuatan. Salam perjuangan….”

*Najmi Wahyughifary

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *