Etika Pendidikan Islam -K.H. Hasyim Asy’ari


Etika Pendidikan Islam
oleh Desy Putri R. (Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM)

 

Terjemah Kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’alim” Karya Hadlratus Syaikh K.H Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullahu ta’ala

  1. Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh dari sekian banyak ulama’ besar di Indonesia. Biografi tentang kehidupan beliau telah banyak ditulis. Namun dari beberapa tulisan atau karya yang telah ada, terdapat satu hal yang menarik yang mungkin dapat digambarkan dengan kata sederhana, yaitu kata “pesantren”. Mengingat latar belakang beliau berasal dari keluarga santri dan hidup di pesantren sejak lahir. Beliau juga dididik dan tumbuh berkembang di lingkungan pesantren. Selain itu juga hampir seluruh kehidupan beliau dihabiskan di lingkungan pesantren. Bahkan sebagian besar waktu beliau dihabiskan untuk belajar dan mengajar di pesantren dan beliau juga banyak mengatur kegiatan yang sifatnya politik dari pesantren.

Salah satu karya beliau yang terpopuler dalam bidang pendidikan yaitu kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim. Secara umum, kitab ini menjelaskan tentang adab atau etika dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu. Dari penjelasan-penjelasan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim menjadikan karakteristik dari pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang mengarah pada tatanan ranah praktis dari Al Qur’an dan As sunnah. Selain itu menekankan pada nilai-nilai etika yang bernuansa sufistik, karena menurut KH Hasyim Asy’ari keutamaan menuntut ilmu dan keutamaan ilmu itu sendiri hanya dapat diraih dengan orang yang berhati suci dan bersih dari sifat mazmumah serta aspek ukhrowi.

Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim keseluruhannya meliputi 8 bab yaitu :

  1. Keutamaan ilmu dan keilmuan
  2. Etika seorang murid dalam belajar
  3. Etika murid terhadap guru
  4. Etika murid terhadap pelajaran
  5. Etika seorang guru
  6. Etika guru saat mengajar
  7. Etika guru terhadap murid
  8. Etika menggunakan sumber/literatur dalam proses pembelajaran

KH Hasyim Asy’ari mengawali pembahasan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim dengan mengutip ayat Al Qur’an dan Hadith kemudian barulah dijelaskan dengan singkat dan jelas. Tujuan dari didapatkannya ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Sehingga ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi orang lain sebagai bentuk amal jariyyah bagi kehidupan di akhirat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu yaitu seorang murid harus benar-benar memiliki hati yang suci, jangan mengharapkan hal-hal duniawi apalagi menyepelekan suatu ilmu. Serta bagi seorang guru, hal-hal yang harus diperhatikan yaitu meluruskan niatnya dalam mengajar, tidak mengharapkan imbalan dan materi, serta yang diajarkan harus sesuai dengan perbuatannya.

Belajar adalah suatu proses ibadah untuk mendapatkan ridho Allah swt untuk mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, bukan hanya menghilangkan kebodohan tetapi juga dengan niatan yang suci untuk melestarikan nilai-nilai keislaman.

Di dalam bab awal, KH Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’alim menerangkan bahwa keutamaan menuntut ilmu yaitu mempunyai derajat yang tinggi. Hal ini termaktub dalam surah Al Mujadalah ayat 11 yang artinya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang beerilmu beberapa derajat.

Hal-hal yang menjadi fokus dalam kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim, dapat dikelompokkan menjadi 4 kajian utama yaitu etika seorang guru terhadap pribadinya sendiri, etika seorang guru di dalam proses belajar mengajar, etika seorang guru terhadap murid, dan etika terhadap alat pembelajaran/literatur.

 

  1. Etika seorang guru terhadap pribadinya sendiri

Adab tidak hanya dimilki oleh seorang penuntut ilmu, tetapi juga harus terdapat pada seorang pendidik. Pendidik yang baik seharusnya dapat menjadi teladan bagi muridnya. Jika seorang pendidik tidak mempunyai adab yang terpuji, maka sia-sia menerapakan ilmu yang akan disampaikannya. Ada beberapa hal yang harus dimilki oleh seorang pendidik menurut KH Hasyim Asy’ari antara lain :

  1. Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap kondisi
  2. Takut akan murka Allah SWT
  3. Berusaha untuk tenang
  4. Selalu berhati-hati dalam perkataan dan perbuatan
  5. Selalu rendah hati dan tidak sombong
  6. Selalu menyerahkan diri kepada Allah SWT
  7. Berpedoman pada hukum Allah SWT dalam setiap hal
  8. Tidak mencari imbalan semata dan kesenangan duniawi lainnya
  9. Tidak merendahkan diri terhadap orang pecinta dunia, tidak mengagung-agungkannya tanpa kemashlahatan
  10. Zuhud yaitu merasa cukup, tidak berlebih-lebihan mencintai dunia
  11. Menjauhi pekerjaan yang dianggap hina menurut syariat
  12. Menjauhi tempat-tempat yang mendatangkan fitnah dan meninggalkan hal-hal yang tidak patut menurut masyarakat umum walaupun tidak ada larangannya dalam syariat
  13. Menghidupkan syiar dan menjalan syariat islam dengan shalat jama’ah, menebarkan salam, mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan penuh kesabaran terhadap segala resikonya
  14. Menegakkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan menjauhi bid’ah dengan memperjuangkan kemashlahatan ummat islam dengan cara yang tidak asing bagi mereka
  15. Istiqomah dalam hal-hal yang dianjurkan oleh syariat baik dalam perbuatan dan perkataan seperi membaca Al Qur’an dan berdzikir
  16. Bersosialisai terhadap masyarakat dengan akhlak yang baik yaitu menebar salam, memberi senyum, menahan emosi, tidak suka menyakiti
  17. Membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dengan cara menghiasi diri dengan akhlak yang mulia
  18. Berusaha mengasah ilmu pengetahuan dan amal dengan ijtihad, muthala’ah, mudzakarah, ta’liq dan diskusi
  19. Tidak malu menerima sumber ilmu dari orang lain dengan apa yang belum dimengerti tanpa melihat kedudukan, nasab, dan statusnya.
  20. Meluangkan waktu untuk menulis atau membuat suatu kitab.

 

  1. Etika seorang guru di dalam proses belajar mengajar

KH Hasyim Asy’ari di dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’alim menjelaskan bahwa seorang pendidik atau guru harus mempunyai rasa taqarrub yaitu mendekatkan diri kepada Allah sebelum berangkat menuju majelis ilmu atau sekolah, membersihkan diri dari hadas besar dan kecil, serta memakai pakaian yang rapi. Sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu, berdzikir di sepanjang perjalanan hingga sampai di tempat majelis. Menjaga diri dan sikap, menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi kewibawaan, serta menggunakan bahasa yang baik lagi santun. Sebaiknya guru juga tidak melanjutkan pelajaran ketika anak didik lapar atau haus dan keadaan dingin atau panas yang berlebih. Karena dapat mempengaruhi psikologis anak didik. Sesampainya di majelis, sebaiknya memberi salam kepada anak didik dan belajar menghadap kiblat jika memungkinkan.

Mengawali pembelajaran dengan membaca Al Qur’an, berdoa untuk kebaikan kaum muslimin, anak didiknya, serta dirinya. Dilanjutkan dengan ta’awudz, basmallah, sholawat atas Rasulullah saw serta pengikutnya. Jika terdapat banyak pelajaran yang harus disampaikan, maka utamakan pelajaran yang paling penting dan mulia misalnya tafsir, hadith, ushulfiqh, dan diakhiri dengan kitab rakai’iq (kelembutan hati).             Sebaiknya, merendahkan dan mengeraskan suara sesuai kebutuhan. Jika ditanya mengenai suatu ilmu yang belum diketahui , maka jawab tidak tahu. Karena hal tersebut merupakan bagian dari ilmu, serta mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan “Wallahu a’lam” sebagai bentuk dzikir dan menyatakan bahwa hanya Allah swt yang mengetahui segala sesuatu.

 

  1. Etika seorang guru terhadap murid

Di dalam kitab Adabul Alim wal Muta’alim, KH Hasyim Asy’ari menjelaskan hal-hal yang harus dilakukan oleh guru.

  • Memberikan pengajaran dan pendidikan kepada murid dengan mempunyai niat dan tujuan yang luhur, yakni demi mencapai ridho Allah SW Hendaknya tidak menghalangi seorang murid menuntut ilmu, karena terkadang ada murid yang tidak serius belajar. Maka sebaiknya bersikap sabar, karena suatu niat membutuhkan proses. Niat akan didapat melalui barokah ilmu yang terus menerus diajarkan. Sebagaimana ungkapan beliau yaitu ‘Sesungguhnya sebaik-baiknya niat adalah mengharapkan ilmu yang barokah’.
  • Mencintai anak didiknya sebagaimana mencintai dirinya sendiri
  • Mendidik dan mengajari mereka dengan cara yang mudah dipahami sesuai dengan kemampuan mereka.
  • Bersungguh-sungguh dalam memberikan pengajaran dan pemahaman kepada anak didik.
  • Meminta anak didik untuk mengulang materi pelajaran dengan memberi latihan, ujian, hafalan.
  • Memaklumi keadaan anak didik yang memilki keterbatasan misalnya dalam menempuh perjalanan yang jauh menuju tempat pembelajaran, sehingga anak didik datang terlambat
  • Tidak subyektif terhdap salah satu murid, karena akan menimbulkan kecemburuan sosial
  • Memberikan kasih sayang dan perhatian dengan cara mengenal kepribadian dan latar belakang anak didik, serta berdoa untuk kebaikan mereka.
  • Membiasakan diri dengan memberi contoh cara bergaul yang baik kepada anak didik
  • Jika memungkinkan, sebaiknya turut membantu dan meringankan kesusahan anak didik dalam hal materi, dan sebagainya
  • Jika diantaranya terdapat ada yang tidak hadir dalam pembelajaran, maka sebaiknya seorang guru menanyakan hal ini kepada anak didik yang lain
  • Tetap bersikap tawadhu’ atau rendah hati terhadap anak didik
  • Memberi perlakuan yang baik terhadap anak didik dengan cara memanggilnya dengan nama yang baik, menanyakan kabar dan menyambut mereka dengan ramah.

 

  1. Etika terhadap alat pembelajaran/literatur

KH Hasyim Asy’ari memandang bahwa etika terhadap alat pembelajaran sangat penting dan perlu diperhatikan, anatara lain :

  • menganjurkan membeli buku yang diajarkan. Jika tidak memungkinkan, sebaiknya meminjam dari perpustakaan atau teman.
  • Memberikan pinjaman buku pelajaran kepada orang lain dan bagi peminjam hendaknya menjaga bukunya dengan baik
  • Meletakkan buku pada tempat yang terhormat dengan memperhitungan keutamaan kitab yaitu Al Qur’an, hadith, tafsir Al Qur’an, tafsir hadith, dan kitab-kitab yang lain.
  • Memeriksa terlebih dahulu pada bagian awal, tengah dan akhir sebelum membeli ataupun meminjam suatu buku.
  • Jika menulis kitab Syariah, sebaiknya dalam keadaan suci dan memulainya dengan membaca bismillah, dan sholawat atas Nabi Muhammad SAW.

Dasar epistemologi dalam belajar sebaiknya dalam keadaan suci jasmani dan rohani. Hal ini dikarenakan ilmu adalah nur Allah yang dapat dicapai hanya pada jiwa yang bersih, dengan harapan ilmunya bermanfaat dan barokah. Maka, etika pendidikan islam yang termaktub dalam kitab karya Hadlratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah mempunyai niat mendidik dan mensyiarkan ilmu serta menghidupkan syariat Islam, menjauhi cinta dunia, senantiasa introspeksi diri, tepat dalam menggunakan metode mengajarkan anak didik, memotivasi murid, memberi latihan-latihan untuk membantu murid, bersikap adil terhadap semua murid, bersikap terbuka dan sabar, bersikap arif, bijaksana serta tawadhu’. Pendidik bukan hanya sebagai pentransfer ilmu, tetapi juga sebagai sahabat yang selalu siap membantu kesulitan anak didiknya.

-Allahu wa Rasulullahu a’lam bishowwab-

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X