MENGAMBIL HIKMAH DARI PAK RIYANTO

Oleh Defin Merlinesia

 

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti merasakan mati.” (QS. Al Imran : 185)

Sebuah kabar duka tiba seiring dengan teriknya matahari pagi.

Rabu, 15 April 2015 pada sekitar pukul 09.35, Departemen Sosial Kemasyarakatan UKM Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada mendapatkan kabar dari Pak Bari–pegawai Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi DIY-mengenai meninggalnya Pak Riyanto. Pak Riyanto, pemulung yang berhenti bekerja karena mengalami rendahnya Hb (Hemoglobin) sehingga menggelandang di emperan PKKH UGM. Pak Riyanto pertama kali dibawa ke Camp Assessment pada 30 Maret lalu. Kemudian pada tanggal 5 April lalu, pak Riyanto dijenguk oleh rombongan Jama’ah Shalahuddin, BEM KM UGM, dan BEM FTP di Camp Assessment.

Camp Assessment, menjadi tempat terakhir Pak Riyanto menjalani hidupnya karena beliau tidak mempunyai rumah dan saudara yang memperdulikannya. Dinas sosial Sleman pun sudah berusaha mencari saudara beliau, sampai menghubungi dinas sosial Surakarta, tetapi hasilnya nihil. Saudara Pak Riyanto tidak ada yang bisa ditemukan, bahkan salah satu anaknya sudah merantau dan tinggal di Surabaya sebagai TNI dan tidak pernah ada kabar. Bahkan hingga Pak Riyanto meninggal, mungkin anaknya tidak ada yang mengetahui kabar duka ini.

Perwakilan dari Jama’ah Shalahuddin (JS) tiba di makam Suralaya-disebut juga Hafara-sekitar pukul 11.30 bersama ambulan yang membawa jenazah Pak Riyanto. Terlihat wajah beliau pucat pasi ketika kain kafannya dibuka. Tubuhnya kurus tak berdaya, terbungkus kulitnya yang mulai keriput. Pemakaman berjalan lancar, diakhiri dengan doa bersama pihak Dinsos dan perwakilan JS. Kami hanya bisa mendoakan… ”Semoga setiap keringat yang dikeluarkan Almarhum selama berusaha mengais rezeki juga selama sakitnya dibalas dengan pengampunan dosa. Aamiin”.

Kronologis

Pendamping almarhum di Camp Assessment menceritakan kronologi meninggalnya almarhum. Pada pagi hari sekitar jam 09.00 WIB beliau meninggal. Beliau ditemukan sudah tidak bernyawa saat akan sarapan. Saat dicek suhu tubuhnya masih hangat karena baru saja beliau menghembuskan nafas terakhir.

Sebelumnya setiap makan, beliau tidak pernah menghabiskan makanannya. Beliau hanya makan sedikit sekali. Suatu saat beliau menginginkan makan bubur dan permintaan itu dipenuhi. Namun, sama saja, hanya sedikit yang beliau makan. Hal ini menjadi pemicu Hb-nya turun sehingga membahayakan nyawanya.

Selama di mobil dan pemakaman, pendamping Pak Riyanto menceritakan hasil asesmen. Pendampingnya memutuskan untuk memanggil psikolog. Pak Riyanto dengan tatapan matanya yang kosong mau menceritakan masalahnya kepada psikolog. Beliau tak punya harapan lagi untuk hidup. Beliau tidak mempunyai plan-plan ke depan dan mengatakan bahwa hanya ingin sehat dulu.

Sejak 30 Maret Pak Riyanto mulai masuk di Camp Assessment sore harinya telah masuk rumah sakit untuk mengobati Hb-nya yang rendah selama 3 hari, selang seminggu didatangkan psikolog. Hal ini diperlukan untuk mengetahui masalah yang dialami Pak Riyanto sampai bisa menggelandang. Ternyata kakek dari 3 cucu ini mengalami penyesalan yang begitu mendalam. Beliau sangat menyesali perceraian dengan istrinya karena beliau menceraikan saat dalam keadaan marah. Kemudian beliau hanya bekerja serabutan dan sampai ikut rombongan transmigrasi ke Kalimantan. Saat di Kalimantan rombongan tersebut memutuskan untuk kembali ke daerahnya karena takut adanya perang yang sedang berkecamuk.

Akhirnya beliau memutuskan untuk mengais rezeki di DIY. Kalau untuk pulang ke Surakarta, beliau sudah tidak memiliki rumah, dan saudaranya tidak ada yang memperdulikan. Beliau memanfaatkan KTP-nya untuk bisa menyewa becak. Hingga suatu saat beliau kemalingan tas yang berisi dua barang berharganya yaitu KTP dan uang sebesar Rp50.000.

Kejadian ini membuat beliau semakin kesulitan. Beliau akhirnya menjadi pemulung/tukang rosok pada saat harga rosok sedang anjlok. Beliau tidak bisa menyukupi kebutuhannya. Ditambah lagi sakitnya membuat dia lemah dan hanya bisa berbaring di emperan PKKH UGM.

Ketika sudah tua, beliau baru menyesali segalanya. Beliau menyesali masa mudanya tidak dimanfaatkan dengan baik. Jika dia tidak menceraikan istrinya maka saat seperti ini dia masih ada yang merawat, tinggal dalam sebuah rumah bersama keluarga, dan setidaknya ada keluarga yang memakamkan jenazahnya saat beliau sudah dipanggil sang Pencipta. Sebenarnya beliau mempunyai kakak dan adik berjumlah empat orang, tetapi tidak ada satu pun yang peduli bahkan sudah hilang kontak.

 

Pelajaran bagi yang masih hidup

Kondisi psikis yang buruk sangat mempengaruhi kesehatan. Pak Riyanto tidak mempunyai nafsu makan dan harapan hidup karena penyesalannya yang begitu mendalam. Kita sebagai manusia yang masih bisa mendapatkan nikmat sehat psikis dan sehat fisik harusnya banyak mensyukuri nikmat, bukan malah kufur nikmat. Pelajaran bagi kita bahwa manfaatkan masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati. Seperti disampaikan dalam sebuah hadist, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Dengan rahmat dan pertolongan Allah, tergeraklah Jama’ah Shalahuddin untuk menolong Pak Riyanto. Jika saat itu Pak Riyanto tidak segera dilaporkan ke Dinsos dan mendapatkan penanganan di rumah sakit, mungkin beliau bisa meninggal di emperan PKKH UGM dan tidak ada yang memakamkan dengan layak. Kinerja Dinsos Sleman termasuk tim yang berada di Camp Assessment sangat baik. Penanganan gepeng (gelandangan, pemulung, dan pengemis) seperti Pak Riyanto sangat baik, walaupun akhirnya beliau dipanggil oleh Yang Kuasa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *