MENYELAMI BIOGRAFI MUHAMMAD NATSIR

Oleh

Juliana (Kajian Strategis, Jama’ah Shalahuddin UGM 1436 H/2015 M)

Siapa yang tidak kenal dengan Muhammad Natsir?

Beliau adalah salah satu tokoh muslim yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Indonesia yang telah menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah bangsa. Namanya terkenal dan diakui baik di kancah nasional maupun internasional. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka. Di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia. (Saiful Falah, Rindu Pendidikan dan Kepemimpinan M. Natsir, 2012, hal 46).

Muhammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Juli 1908 bertepatan dengan hari Jum’at 17 Jumadil Akhir 1326 H. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara yang lahir dari sepasang inspirasi mulia yang berasal dari Maninjau, Muhammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Ayahnya adalah seorang pegawai rendah yang pernah menjadi juru tulis di kantor Kontroler di maninjau. (Saiful Falah, Rindu Pendidikan dan Kepemimpinan M. Natsir, 2012, hal 47)

Lahir dan dibesarkan diwilayah yang sangat religius membuatnya begitu dekat dan semakin cinta dengan hal-hal yang berbau keilmuan. Muhammad Natsir memulai pengembaraan intelektualnya di tanah kelahiran. Pertama kali beliau belajar di sekolah privat selama satu tahun di Padang, dan tiga tahun di HIS (Hollandsch Inlandsche School). Setelah pulang sekolah Natsir melanjutkan belajar di sekolah islam yang dipimpin oleh salah seorang pengikut Haji Rasul, seorang ulama yang memperkenalkan Muhammadiyah di Sumatera Barat dan mendirikan Sekolah Sumatera Thawalib yang sangat terkenal di Padang Panjang pada tahun 1918. Setelah lulus dari HIS pada tahun 1923, Natsir meneruskan studinya di Mulo Padang, kemudian AMS di Bandung. Walaupun mendapatkan beasiswa seperti ketika di Mulo dan AMS (Algamene Middlebare School) untuk belajar hukum di Jakarta atau ekonomi di Rotterdam, beliau tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam. (Thohir Luth, M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya, hal 22-23)

Natsir adalah sosok yang yang lemah lembut dan jika berbicara suaranya halus namun memikat karena jalan pikirannya teratur dengan hujjah yang kuat, memperlihatkan analisa yang tajam dan pemikirannya yang jernih. Beliau sangat senang belajar kepada siapapun. Salah satu teman seperjuangannya dalam memperdalam ilmu adalah Facroeddin Al-khahiri, bertubuh tinggi dengan suara keras-lantang dan agak emosional, sifatnya penggembira, kalau dia tertawa lepas berkakakan. Keduanya masih duduk sebagai Murid AMS di bandung. Mereka sama-sama berguru kepada seorang guru bernama Ustadz Ahmad Hassan, tokoh Persatuan islam di Bandung. Kepribadian A. Hassan yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim, tajam berargumentasi, dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian dan pengetahuan agama Muhammad Natsir kemudian. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 39).

Selain aktif di sekolah dengan berbagai diskusi bersama sang guru, ia juga mulai melibatkan diri untuk aktif dalam organisasi. Ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB) di Bandung, sebuah organisasi pemuda islam yang anggotanya adalah pelajar bumi putera yang bersekolah di sekolah Belanda. Pada bulan Januari 1929, dalam rapat umum JIB yang diselenggarakan di sekolah Persatuan Islam, Facroeddin Al-khahiri terpilih sebagai ketua JIB Cabang Bandung, sedangkan Muhammad Natsir sebagai wakilnya. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 42).

Keterlibatannya dalam organisasi pelajar JIB ini memberinya bekal pengalaman untuk terjun dalam masyarakat, di samping melatihnya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapo. JIB juga memberinya kesempatan untuk bergaul dengan pelajar di luar sekolahnya sehingga memperluas cakrawala pemikiran serta pengetahuan Muhammad natsir. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 52). Selain aktif di JIB Natsir juga mulai mengepakkan sayap pergaulannya ke organisasi keagamaan. Ia bergabung dengan kaum modernisasi Persatuan Islam (Persis) dan mengikuti kelas-kelas yang diorganisir bagi para anggotanya oleh seorang modernisasi yang sangat berpengaruh, Ahmad Hassan. Natsir dan beberapa teman-teman seperjuangan di AMS seperti Facroeddin Al-khahiri dan Bachtiar Effendi sering berkunjung ke rumah Tuan Hassan untuk berdiskusi mengenai berbagai masalah agama dan umatnya, baik yang sudah lama tertimbun oleh sejarah maupun kenyataan-kenyataan masa kini yang sedang dihadapi. Tuan Hassan sangat senang menyambut kehadiran dan semangat murid-muridnya ini. Bahkan, beliau pasti akan menunda pekerjaan yang sedang dilakukan ketika murid-muridnya datang. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 40).

Selama tahun 1930-an, Natsir sering menulis di majalah Pembela Islam. Selain itu, kedudukannya sebagai Direktur Pendidikan Islam tak dapat dipisahkan dari keanggotaannya dalam Persatuan Islam. Sebagaimana umumnya dalam organisasi-organisasi di Indonesia, orang yang aktif akan mendapat kepercayaan duduk dalam berbagai fungsi, kemudian Natsir pun diangkat sebagai Wakil Ketua Persatuan Islam pada tahun 1937 dengan ketua tetap H. Zamzam. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 222). Selain aktif menulis diberbagai media, pada masa itu pula beliau mulai mengajar. Bermula dari statusnya sebagai anggota lembaga inti JIB yang memiliki kewajiban member ceramah keagamaan kepada anggota baru, beliau juga diminta untuk memberikan pelajaran tentang islam di MULO jalan Jawa Bandung. Kemudian beberapa orang murid HIK yang terletak di Lembang meminta Natsir untuk memberikan pelajaran agama Islam di sekolah mereka. (Ajib Rosidi, M. Natsir Sebuah Biografi, 1990, hal 53-54)

Dibalik perjuangan Muhammad Natsir tentu tidak terlepas dari peran keluarga dibelakangnya. Sosok istrinya, Nurhanar yang ia nikahi pada tanggal 20 Oktober 1934 di bandung yang senantiasa memberi dukungan di balik layar. Pernikahan dari pasangan yang berbahagia ini dikaruniai 6 buah hati, mereka adalah Siti Muchliesah, Abu Hanifah, Asma Faridah, Hasnah Faizah, Aisyah Tul Asriah dan Ahmad Fauzie Natsir. Kehidupan keluarga ini sangat sederhana. Mereka tinggal berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Jiwa demokratis Muhammad Natsir bukan hanya tercermin dari sepak terjangnya di ranah politik. Bahkan dirumahnya, beliau tidak pernah memaksakan kehendak kepada anggota keluarganya. Beliau juga senantiasa menggunakan cara yang lembut dalam mendidik anak-anaknya masalah kedisiplinan. (Saiful Falah, Rindu Pendidikan dan Kepemimpinan M. Natsir, 2012, hal 59-63).

Sebagai seorang tokoh nasional, Muhammad Natsir dikenal sebagai pribadi yang visioner. Aktivitasnya di dunia organisasi sejak muda, menempa jiwa kepemimpinan serta kepedulian terhadap masalah bangsa dan khususnya umat Islam. Terlibat dalam dunia politik praktis melalui Masyumi dan hingga akhirnya ia mewakafkan dirinya di jalan dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Jiwa kepeduliannya terhadap pendidikan Islam sudah tidak dapat diragukan lagi. Bahkan pada saat tubuhnya sudah terbaring lemas di ruang ICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusuman (RSCM), beliau masih menanyakan keadaan sebuah pesantren di daerah Bogor yang dibinanya. Pada hari Sabtu, 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di ruang ICU RSCM, Jakarta Muhammad Natsir menghembuskan nafas terakhirnya di usia 85 tahun. Kepergian sosok yang dikenal dengan kesederhanaannya sekaligus pendiri Pendis dan DDII ini membuat ribuan mata menangis. Jasa beliau kepada Negara dan bangsa tidak akan pernah terlupa sampai kapanpun bahkan namanya memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hati umat. Maka ketika pemerintah menetapkan Muhammad Natsir sebagai pahlawan nasional, itu merupakan sebuah pengakuan. (Saiful Falah, Rindu Pendidikan dan Kepemimpinan M. Natsir, 2012, hal 63-66).

Selamat jalan pahlawan kami, semoga jerih payahmu untuk menegakkan islam didunia ini menjadi wasilah yang dapat mengantarkanmu ke tempat istirahat yang sejatinya, Surga.. Kami merindukan sosok-sosok pemimpin yang memiliki jiwa sepertimu, semoga akan lahir generasi intelektual kedepannya, intelektual pelukis wajah peradaban untuk hari esok, yang hanya menjadikan islam sebagai solusi utama untuk peradaban dunia ini.

 

 

= = = = =

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *