Training Kepemimpinan Jama’ah Shalahuddin #1

Tahun ini Training Kepemimpinan Jama’ah Shalahuddin (TKJS) mengusung tema “Pembentukan Kepribadian Muslim Inklusif Sebagai Representasi Islam Rahmatan Lil’aalamiin” . Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 9-11 Oktober 2015 di Desa Tlogolele, Boyolali. Jum’at pukul 16.30 peserta TKJS 1 sudah bersiap di halaman Masjid Kampus UGM untuk berangkat menuju tempat tujuan. Peserta berangkat menggunakan truk, hal ini menjadi keunikan tersendiri bagi beberapa peserta karena menjadi pengalaman pertama mereka naik truk. Sesampainya di tempat tujuan, para peserta disambut oleh hawa dingin yang tak terkira, tak salah karena memang kegiatan ini dilaksanakan di lereng Gunung Merapi. Kontrak belajar adalah kegiatan pertama dari rangkaian TKJS 1. Setelahnya, peserta dibawa ke pondok untuk kegiatan selanjutnya, yakni mentoring.

Shalat Qiyamullail mengawali kegiatan TKJS 1 hari kedua, Sabtu (10/10), peserta dituntut mandiri dan inisiatif untuk bangun tidur tanpa bantuan panitia. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta, karena peserta dilarang membawa alat komunikasi yang biasa digunakan sebagai alarm. Pukul 05.30 peserta melakukan tadabbur alam sekaligus olahraga. Subhanallah, udara sejuk, sinar matahari, suasana damai, dan keindahan alam Boyolali menjadi suguhan yang menyenangkan. Dalam rangkaian acara tersebut, peserta berdiskusi mengenai alasan mengapa mereka mengikuti Jama’ah Shalahuddin. Hari itu peserta melakukan serangkaian kegiatan berupa pemberian materi, review materi, dan haflah pada malam harinya. Materi pertama adalah problematika umat, disampaikan oleh Ustadz Miftahul Huda, di sini peserta diajak untuk berpikir kritis menanggapi problematika umat islam yang terdapat di seluruh belahan dunia. Sejarah kejayaan Islam lambat laun mulai tergerus masalah-masalah yang menimbulkan kekacauan bagi umat sendiri. Dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh Ustad Anton, peserta diajarkan mengenai konsep dakwah. Peserta diberikan gambaran mengenai substansi dari dakwah. Terdapat banyak poin penting yang didapatkan, salah satunya adalah dakwah merupakan life style bagi muslim dan muslimah di seluruh dunia.

Ahad (11/10), hari ketiga TKJS1, hari yang ditunggu-tunggu oleh peserta maupun panitia TKJS 1. Seperti hari sebelumnya, kegiatan hari itu diawali dengan shalat qiyamulail. Setelah melakukan shalat subuh dan bersih-bersih, peserta bersiap untuk melakukan outbond. Semua peserta, baik ikhwan maupun akhwat, berjalan menuju tempat tujuan. Tak ada rasa bosan yang peserta alami karena pemandangan alam yang begitu asri membuat siapapun tak bisa berpaling untuk menikmatinya. Sebelum melakukan outbond, peserta diberi materi ke-JS-an oleh ketua Jama’ah Shalahuddin 1434 H, Muhammad Ali. Materi tersebut memberi banyak informasi mengenai sejarah Jama’ah Shalahuddin dan seluk beluk lembaga dakwah kampus tersebut.

Pukul 07.00 outbond dimulai, peserta dibagi dalam beberapa kelompok, untuk ikhwan dibagi dalam 6 kelompok dan 5 kelompok untuk akhwat. Peserta diajak untuk menyusuri sungai yang medannya tidak mudah untuk dilewati. Terdapat batu, tanaman warga, dan arus sungai yang cukup deras. Dalam outbond tersebut, peserta melewati beberapa pos, di dalamnya peserta harus melakukan tugas atau perintah yang diberikan oleh panitia. Tugas-tugas yang diberikan memberi banyak pembelajaran, salah satunya tentang bagaimana kita sebagai seorang muslim menjaga ukhuwah dan berjalan bersama untuk dakwah dalam satu barisan, seperti yang tercantum dalam Surah As-Shaf ayat 1 sampai 5.

Setelah melewati semua pos, peserta dikumpulkan di halaman dekat air terjun. Kegiatan tersebut menjadi puncak acara sekaligus akhir acara TKJS1. Peserta resmi dilantik dan dinyatakan lolos TKJS 1 ditandai dengan pengambilan bendera dan slayer Jama’ah Shalahuddin serta pemasangan pin pada peserta ikhwan-akhwat terbaik TKJS1. Dilanjutkan dengan shalat dhuhur berjama’ah dan foto bersama di dekat air terjun. Pukul 16.00 peserta kembali ke UGM dengan menggunakan truk seperti pada saat pemberangkatan.

Banyak hikmah dan manfaat yang bisa didapatkan oleh peserta, begitu pula panitia. Dimulai dari persahabatan yang tercipta antarpeserta yang berasal dari berbagai fakultas di UGM. Kesederhanaan dan keramahan warga masyarakat sekitar pondok menjadi kebahagiaan tersendiri bagi panitia dan peserta TKJS 1. Pun pengalaman dan ilmu yang didapatkan sangat membekali peserta dalam mewujudkan substansi tema TKJS #1 yang diusung, yakni pembentukan kepribadian muslim inklusif sebagai representasi Islam Rahmatan Lil’aalamiin. Semoga Shalahuddin Muda 2015 dapat mengambil setiap ilmu yang ada dan istiqomah dalam berdakwah kapanpun dan di manapun. Aamiin.

 

(Rahmawati Zahroh-Media Center 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *