Oleh Ima Kusumawati, Manajer Dosha 1437 H

Waktu menunjukkan pukul 06.30. Seseorang telah berpakaian rapi menuntun motor menuju halaman rumah. Dari belakang diikuti sesosok gadis kecil yang menggunakan jilbab putih, berbaju putih, dan memakai rok panjang warna merah. Sang ibu melambaikan tangan tanda melepaskan suami dan anaknya untuk beraktivitas pagi ini. Suasana pagi yang masih sedikit berkabut menambah kesejukan kampung ini. Para petani sudah berinteraksi dengan lumpur di sawah. Bapak/Ibu guru sudah berdiri di depan gerbang sekolah menyambut anak-anak didiknya. Di pasar sudah ramai para pedagang dan pembeli saling menawar untuk mendapatkan barang yang ingin dibeli. Suasana ini saya rasakan di kampung saya. Setiap pagi hingga menjelang senja tiba, semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Ini adalah hari Senin, dalam makna yang lain merupakan permulaan hari dalam setiap pekannya. Di desaku terdapat sebuah bangunan yang sudah cukup tua. Gedung tersebut berjarak sekitar dua kilometer dari rumahku. Gedung yang berukuran 12×6 m itu berdiri sejak lebih dari 15 tahun silam. Kebanyakan orang di tempat kami menyebutnya dengan “majlis”. Tempat tersebut merupakan tempat di mana kami semua menautkan hari untuk belajar tentang hidup dan kehidupan. Di dalam gedung itu tampak ramai dengan berbagai agenda kegiatan. Selain untuk kegiatan kajian, gedung tersebut juga digunakan untuk kegiatan belajar adik-adik TPA, kajian untuk pemuda, serta ada halaqah disetiap malamnya. Pada umumnya, tempat kajian memang biasa dilakukan di masjid-masjid. Namun di daerah sini, sebagian masyarakat desaku turut memanfaatkan keberadaan bangunan ini untuk hal-hal yang bisa menambah ilmu mereka. Tepat pada hari Senin ini biasanya sudah rutin terselenggara kajian umum di sini.

“Sungguh, hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan menjadi tenang.” Kalimat yang satu ini bukanlah kalimat syair yang ditulis oleh seseorang, melainkan lantunan firman Allah dalam satu ayat di dalam Alquran. Ketika seseorang telah bosan dan lelah dengan kehidupan dan segala aktivitasnya, ke manakah ia akan mencari tempat untuk beristirahat? Ya, tidur atau sedikit duduk mungkin akan mengurangi rasa lelah yang dialami oleh fisiknya. Namun, jika yang lelah adalah hatinya, ke manakah dia akan mencari tempat untuk menenangkan hatinya kembali? Tentunya, kita semua telah mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. Di sini, aku tidak bermaksud untuk menitikberatkan pada masalah apa yang sedang kita alami, serta proses untuk mencari ketenangan saat kita lelah menjalani aktivitas kita sehari-hari. Namun, yang akan aku tekankan adalah pertanyaan berikut: mengapa sebagian dari warga desa di daerahku ada yang rela duduk berjam-jam mendengarkan orang berbicara, sedangkan saat itu bisa jadi mereka sedang sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk? Tidak dapat dipungkiri bahwa badan yang terasa lelah setelah seharian bekerja, mungkin juga penat pikiran karena di kantor atau rumah sedang banyak masalah, lalu di manakah saat itu mereka berada? Ya, di gedung tersebutlah mereka berada.Gedung tersebut menjadi tempat kembali mereka, tempat yang mampu menenangkan hati mereka, serta tempat yang dapat mengisi kembali semangat mereka.

Waktu menunjukkan pukul 13.00. Saat itu, beberapa orang tua dengan langkah yang sudah tidak tegap lagi, menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer dengan berjalan kaki menuju majlis tersebut. Terlihat di pundak mereka ada sebuah tali yang melekat dan setelah dilihat-lihat ternyata itu adalah tali dari tas yang mereka gunakan untuk membawa Alquran dan beberapa buku. Beberapa orang yang lain terlihat sedang mengayuh sepeda dengan sisa tenaga yang mereka miliki untuk tetap berangkat ke majlis tersebut.  Sebagian yang lain pun ada yang menggunakan sepeda motor. Mereka semua datang dengan cara yang bisa mereka lakukan untuk tetap datang ke majlis tersebut. Apa yang mareka cari? Apa yang mereka butuhkan? Ingin mencari ketenangan kah? Ingin beristirahat kah? Atau ingin menggugurkan kewajiban mencari ilmu yang katanya wajib sampai jasad manusia terkuburkan? Mereka datang bukan tanpa niat, mereka berangkat bukan tanpa alasan, mereka bersedia mendengarkan petuah dan nasehat bukan karena mereka ingin dipuji rajin menuntut ilmu. Muncul pertanyaan, bukankah usia mereka telah senja? Apakah nasehat hidup dan realita ynag mereka hadapi belum cukup untuk menjadikan mereka paham dan mengerti arti hidup dan tugas-tugas selama hidup ini? Jawabannya tentu “bukan begitu”. Setiap manusia yang dahulu sudah berjanji akan menjalani hidup di dunia dengan tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba. Ketika dia yakin dengan kebenaran yang Allah sampaikan melalui Nabi, ulama, dan para penyeru kebenaran, tentunya akan selalu mengingat firman ini, “Sungguh, Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kapadaku”. (Q.S. Adz-Dzariyat :56).

Titik poin yang yang menjadi alasan utama mereka tetap datang menuntut ilmu, tetap datang meski hujan dan lelah badan sekalipun, tidak lain karena mereka masih merasa mempunyai tugas untuk tetap menghambakan diri kepada-Nya serta menjalankan perintah-Nya semaksimal yang bisa mereka lakukan. Sangat jelas tergambar dalam guratan wajah mereka, bahwa mereka hanya akan berhenti berjalan bila Allah telah memintanya untuk berhenti. Kita sebagai kaum muda, apakah kita akan mudah mengatakan, “Saya sudah lama belajar, saya sudah lelah berjalan, saya sudah cukup berbekal, saya masih bisa ke mana-mana sesuka saya.” Apakah demikian? Tentu kita sendiri yang bisa menjawab.

Ibarat bulatan hitam di atas kertas putih, tentu orang akan bisa melihatnya. Ibarat dalam kegelapan ada seberkas cahaya lilin, tentu orang-orang akan bergegas mencari sumber cahaya tersebut berasal. Dengan begitu, mereka akan bisa melihat di manakah sekarang mereka berada, mereka akan bisa melihat apa-apa saja yang ada di sekitar mereka, serta mereka tahu apa yang mereka alami dan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka yang selalu melangkahkan kaki ke majlis ilmu, mengumpulkan niat dan selalu berusaha membersihkan hati sehingga hatinya bisa tertaut dengan kebenaran dari firman Allah, adalah mereka yang selalu mencari cahaya kebenaran. Cahaya yang akan menuntun mereka ke jalan yang telah Allah gariskan, cahaya yang akan menjadikan hati bisa selalu ingat kepada yang menjadikan hatinya tenang. Cahaya yang selalu merekatkan ukhuwah dan selalu menuntun manusia kejalan yang mudah dan diberkahi, serta cahaya yang bisa menjadikan kita kelak akan bisa melihat dengan jelas kebenaran yang abadi dan kekal.

Sayup-sayup untaian salam penutup telah mengayun dari sang ustadz. Dengan senyum mereka saling menjabat tangan saudaranya sebelum mereka berpisah menuju rumah masing-masing. Apa yang aku pikirkan? Sungguh sangat luar biasa ketika ada berjuta-juta orang bisa merasakan hal ini, yakni saling menautkan hati pada untaian kebenaran serta mencari cahaya sebagai penerang jalan. Tak terasa langit memerah dan dan tanah memuram pertanda siang mulai menghilang. Sebelum senja terselimuti oleh gema adzan maghrib, kukumpulkan kembali jiwaku yang hanyut menikmati semua ini. Aku beranjak dari tempatku bersembunyi mengawasi apa yang terjadi. Sejujurnya, aku sangat bahagia karena aku bisa tersenyum lepas saat mengingat ini semua.

 

Credit Images: http://41.media.tumblr.com/tumblr_lub1lzPCuh1qdj2n6o1_500.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *