Menginfakkan Diri

Oleh : Muhammad Fahmi Mubarak

Staf Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin

Telah banyak narasi tentang konsep infak dan sedekah, tentang bagaimana kita mengeluarkan sedikit-banyak-nya harta yang diikhlaskan untuk bermacam kebaikan di jalan-Nya, tentang teori dan implikasi ketika kita menginfakkan harta, yang kesemuanya bermuara pada satu hasil yang senada: imbalan dari-Nya akan berlipat ganda. Percaya atau tidak, ribuan manusia telah membuktikannya, bahwa teori itu bukan sekedar teori. Infak bagai sinar yang dibiaskan ke segala arah dan dipantulkan kembali oleh cermin-cermin. Cahaya yang dihasilkan menjadi berlipat ganda.

Lantas bagaimana dengan cletukan ‘menginfakkan diri’?

“Sedekah itu jangan cuma seribu, dua ribu! Sedekah itu yang banyak! Kalo ada uang lima puluh ribu dan sepuluh ribu di dompet, sedekahin yang lima puluh! Kalo bisa sedekahin tuh hal yang paling ente cintai!”

Kata-kata itu sering terdengar di majelis-majelis ilmu, masjid saat khutbah jumat, bahkan di radio angkot saat Bulan Ramadhan. Efeknya, banyak orang yang melakukannya dengan senang hati. Alhamdulillah.

Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah, sudahkah kita menginfakkan hal yang paling kita cintai?

Cinta adalah kata yang menunjukkan ketergantungan. Ketika kita mencintai, kita menggantungkan semua milik kita: tubuh, akal, pikiran, tangan, kaki, mata, dan semua hal dari kita digantungkan. Maka pada fitrah-nya, hal yang paling kita cintai adalah diri kita sendiri. Sejak lahir, semua aktivitas yang kita lakukan tidak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan kita. Itulah hal yang paling kita cintai.

Lantas, maukah kita menginfakkan hal yang paling kita cintai?

‘Kita’ dan ‘diri kita’ telah saling mencintai semenjak ruh ditiupkan ke dalam rahim sang ibunda. Lalu, bersama berjuang bertahan hidup dari buaian hingga liang lahat. Relakah kita untuk mewakafkan setengah ruh kita, untuk berpisah sementara, mengikhlaskan sebagian diri kita untuk merantau mengarungi samudera kehidupan?

“Kamu sekali-kali tidak berbuat kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali-Imran: 92)

Sesungguhnya ma’ruf kita belumlah sempurna hingga cinta kita dikorbankan, hingga diri kita direlakan, untuk khalayak, untuk umat, dan dinullah.

Imagine that. When we give ourselves, which one will be the rewards?

Peradaban!

Ketika harta dibalas harta, benda dibalas benda, maka manusia dibalas manusia-manusia yang berlipat ganda jumlahnya, serta berlipat ganda kualitasnya. Sungguh hal itu bukanlah utopia!

Di rumah ini, tempat manusia-manusia yang mewakafkan dirinya untuk umat, tempat bertarung melawan sebagian dirinya yang terkadang ingin berleha. Manusia-manusia ini tidak sempurna, tetapi disempurnakan. Mereka siap dilejitkan. Mereka siap menginfakkan sesuatu yang paling mereka cintai. Tunggulah sesaat. Tinggal beberapa saat lagi. Peradaban empat belas abad lamanya akan kembali. Jaya! Bangkit! Dinullah tegak! Hingga kelak akan konkritlah sang rahmatan lil alamin.

“Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui, bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.”

Life is not about hoping rewards, it’s about rewarding the future!

Ditulis di Bahtera Perjuangan. Rumah Kepemimpinan, Rumah Peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *