Kari Massaman dan Komunitas Muslim pada Era Ayutthaya, Siam

dsc_1047

Oleh Nur Hidayati
Staff Kajian dan Aksi Strategis Jamaah Shalahuddin

Massaman Curry atau “Kari Massaman” adalah salah satu makanan khas dari Thailand. Pada tahun 2011 , website www.CNNGO.com memasukkan kari massaman sebagai “World’s 50 Most Delicious Foods.”(50 makanan paling lezat di dunia) . Kari massaman terbuat dari ayam, daging yang dibungkus oleh rempah-rempah bumbu kari ini terdiri dari bawang bombay, bawang putih, jahe, kulit jeruk lemon parut. Kuah khasnya yang kental santan dan taburan kacang membuat kari massaman disukai semua orang. Di samping kelezatannya sebagai salah satu makanan Thailand, munculnya kari massaman ada kaitannya dengan perdagangan, politik dan agama di Thailand abad ke-17. Kata Massaman bukanlah berasal dari kalimat Thailand melainkan dari Bahasa Persia Musulmán/Mosalmán (مسلمان‎‎)  yang berarti Muslim [1] .

Kari Massaman atau “ Kari Muslim” terkenal dari abad-abad yang lalu di lingkungan masyarakat muslim di Siam (Thailand). Salah satu teori menggambarkan adanya Massaman di Siam (Thailand) terbentuk atas komunitas muslim di periode Ayutthaya atau era Thonburi pada abad ke 18 [2]. Adanya komunitas muslim di Ayutthaya disebabkan oleh adanya pedagang muslim dari Arab, Mesir, Turki, Gujarat dan Iran, Melayu, maupun Makassar yang datang ke Siam (Thailand) bagian Barat dan membentuk kelompok. Pedagang ini mempunyai peranan penting pada perdagangan pada periode awal Ayutthaya.

Banyak sebagian pedagang yang kemudian menetap di Siam. Dengan banyaknya pedagang Muslim menetap di Siam membawa tiga faktor yaitu, agama, ekonomi, dan politik. Pertama,dari segi dorongan agama,dorongan untuk menyebarkan agama Islam dari abad ketiga belas ke abad kelima belas mengakibatkan banyak pemimpin agama menetap dan menyebarkan agama Islam di Siam. Kedua dari segi ekonomi, perluasan perdagangan dengan umat Islam ke Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur, ditambah dengan keinginan kerajaan Siam untuk memperluas perdagangan untuk membawa lebih banyak pendapatan kas yang masuk ke kerajaan, berperan dalam mendorong perdagangan lebih Muslim dan pemukiman di Siam. Ketiga dalam segi politik sebagai akibat dari perubahan politik negara Muslim di Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara, komunitas Muslim bermigrasi untuk meminta suaka politik di Siam. Pada saat itu, Siam mempertahankan kebijakan agama terbuka untuk penduduk muslim.Dan dimulai pada abad keenam belas, kaum Muslim memainkan peran penting dalam perekonomian, masyarakat, agama, budaya, dan politik pengadilan Siam.[3]

Masyarakat Muslim di Ayutthaya dipisahkan ke dalam kelompok sesuai dengan kebangsaan, daerah asli, dan profesi. Dengan adanya pembagian sesuai grup, orang Siam menggunakan istilah kelompok Muslim dan kelompok lain secara keseluruhan dengan istilah ‘Khaek’ berarti ‘orang asing’ misalnya, khaek Melayu, khaek Yawa (khaek Jawa). Kelompok muslim di ayutthaya mayoritas banyak menetap di tiga daerah yang luas. Pertama terdiri dari masyarakat di tepi Sungai Chao Phraya yang berlawanan dengan dinding selatan dan barat daya kota, kelompok kedua adalah masyarakat di dalam tembok kota luar dekat kanal atau sungai, dan kelompok ketiga terdiri masyarakat dalam tembok kota ayutthaya .Selain diluar 3 daerah tersebut beberapa umat Islam tinggal menyebar tersebar di seluruh daerah lain, terutama di dekat sungai atau kanal atau daerah perdagangan atau pasar yang berhubungan dengan masyarakat kota. Sedangkan kelompok Melayu dan Asia Tenggara tinggal di masyarakat di sepanjang tepi Sungai Chao Phraya di seberang selatan dan barat daya dinding kota [4]

Paris, N. Bellin 1760 (peta Teluk Siam) membuat komunitas Muslim banyak yang melarikan diri ke Bangkok. Dipimpin oleh Sheikh Ahmad Qomi, mereka menetap di masyarakat di sekitar kanal Klong Bang Luang (atau Bangkok Yai Canal) (คลอง บาง หลวง) dan sebagian bermatapencaharian pedagang. Mereka disebut ”Khaek Phae”, atau Muslim Thailand yang tinggal di rakit sepanjang kanal.[5] Pada 1765 wilayah Ayyutthaya diserbu oleh Burma. Setelah pengepungan 14 bulan dan di tengah kekacauan di istana dan ibukota, Ayutthaya jatuh ke Burma, dan kota digeledah, dibakar dan hancur pada bulan April 1767. Harta seni Ayutthaya, perpustakaan yang berisi manuskrip, sastra, dan arsip perumahan catatan bersejarah yang hampir hancur total, dan kota yang tersisa di reruntuhan. Jatuhnya Ayutthaya pada tahun 1767.

Kudi Khao atau komunitas Bang Luang adalah salah satu komunitas Thai-Muslim tertua di Bangkok. Kudi Khao mempunyai perpaduan unik, identitas budaya menggambarkan integrasi dari pluralisme budaya di lingkungan etnis yang beragam dari Thailand. Pengaruh Islam ini tercermin dalam masjid (Kud กุฎี), Masjid Khao Kudi (กุฎี ขาว), dibangun pada abad ke-18, dan Masjid Ton Son yang mempunyai arsitektur bergaya Thailand, struktur mirip dengan sebuah kuil Buddha, dengan ubin terakota atap hijau – hijau menjadi warna simbolik dalam Islam.Islam juga menyebar melalui makanan lezat dengan aroma menggoda, termasuk Massaman curry ( แกง มัสมั่น). Masakan beraroma islam ini masuk ke dalam kerajaan Thailand sejak awal era Ratanakosin. Masuknya masakan muslim ke kerajaan di duga dibawa Raja Phra Phutthayotfa Chulalok (Rama I) dikarenakan Beliau dahulu tinggal di sekitar kanal Klong Luang. Kemungkinan dia berhubungan baik dengan komunitas Muslim dan dengan demikian akrab dengan masakan muslim. Para pemimpin komunitas Muslim di Thailand juga memiliki tanggung jawab pengadilan, seperti menjaga makanan yang ditawarkan untuk para biksu dan pengunjung selama 1809 perayaan Kuil Emerald Buddha (Wat Phra Kaew).Oleh karena itu, masakan muslim cukup familiar di pengadilan Siam. [6]

Dan dapat di temukan dalam literatur era dan puisi, catatan dan kronik, dan bahkan dalam tulisan-tulisan Raja Rama II menyebutkan hidangan Muslim.Pada awal 1800-an, Raja Rama II menulis bagian berikut dalam puisi perahu, dinyanyikan selama prosesi “Royal Barge”seremoni untuk sebuah kapal yang digunakan raja untuk transportasi.[7]

“GAAP Heh Chohm Khreuuang Khaao Waan (กาพย์ เห่ ชม เครื่อง คาว – หวาน)”, มัสมั่นแกงแก้วตา หอมยี่หร่ารสร้อนแรง – Massaman, a curry made by my beloved, is fragrant of cumin and strong spices.( Massaman, kari dibuat oleh kekasihku, harum dari jintan dan rempah-rempah yang kuat) ชายใดได้กลืนแกง แรงอยากให้ใฝ่ฝันหา – Any man who has swallowed the curry is bound to long for her.( Setiap orang yang telah menelan kari terikat untuk panjang untuknya) .[8]

Kari Massaman dirujuk dalam puisi Raja Rama II dikaitkan ke Queen Sri Suriyendra (Princess Bunrod), yang keluarganya datang untuk menetap di saluran Klong Bang Luang.

Referensi:
[1] http://www.religion-encyclopedia.com/M/musalman.htm,diakses pada tanggal 1oktober 2016 pukul 19.45 WIB
[2] Hanuman, Thaan Khun and Chef Thapakorn Lertviriyavit,”Massaman Curry-The Untold Story,diakses dari http://www.thaifoodmaster.com/thai_food_recipes/thai_curry_recipes/6266 ,pada tanggal 29 September 2016 Pukul 21.00 WIB
[3] Chularatana,Julispong.2007.Muslim Community during Ayyuthaya Periode.The Manusya Journal of Humanities.89:107
[4] Rabi, Muhammad. 1972. The Ship of Sulaiman. Trans. by John O’ Kane. London: Routledge & Keagan Paul.

[5] Phoborisut,Penchan.2008.Understanding the identity of thai muslim community of Kudi Khao In Thonburi,Bangkok.The Manusya Journal of Humanities Special Issue 16.68:81
[6] Hanuman, Thaan Khun and Chef Thapakorn Lertviriyavit,”Massaman Curry-The Untold Story,diakses dari http://www.thaifoodmaster.com/thai_food_recipes/thai_curry_recipes/6266 ,pada tanggal 29 September 2016 Pukul 21.00 WIB
[7] Hanuman, Thaan Khun and Chef Thapakorn Lertviriyavit,”Massaman Curry-The Untold Story,diakses dari http://www.thaifoodmaster.com/thai_food_recipes/thai_curry_recipes/6266, pada tanggal 29 September 2016 Pukul 21.00 WIB
[8] Leela,Massaman Curry Recipe diakses dari  http://shesimmers.com/2010/07/massaman-matsaman-curry-recipe- แกงมัสมั่น.html, pada tanggal 3 oktober 2016 Pukul 22.00 WIB

Sumber Gambar: http://southpacificengagement.com/2012/10/03/massaman-curry-the-verse-of-foods-traditional-poem-and-song-by-thai-king-rama-ii/

One Reply to “Kari Massaman dan Komunitas Muslim pada Era Ayutthaya, Siam”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *