Menanti Peran Muslimah sebagai Konstruktor Peradaban

img_0709

Oleh Egia Astuti
Departemen Kajian dan Strategi Jamaah Shalahuddin UGM

Tidak bisa dipungkiri bahwa umat muslim hari ini tengah berada dalam masa kegelapan. Tidak ubahnya seperti keadaan sebelum datangnya Islam. Kemiskinan, kriminalitas, dan kerusakan moral tak dapat dibendung di negeri mayoritas muslim semisal Indonesia. Di saat yang sama, umat muslim di Timur Tengah, Rohingya dan daerah-daerah lain mengalami penindasan dari para musuh Allah. Miris. Namun, inilah fakta yang hari ini betul-betul terjadi di tubuh umat muslim yang tengah tercerai-berai ini.

Ketika jutaan muslim dibantai oleh para musuh Allah di negara lain, umat muslim di Indonesia justru tersibukan dengan aktivitas ekonomi. Himpitan ekonomi seperti mahalnya harga barang-barang, pencabutan subsidi BBM, kenaikan tarif dasar listrik. Serta kebijakan-kebijakan lain yang nyata-nyata menambah beban rakyat menjadi faktor pendorong keacuhan umat muslim terhadap orang-orang di sekitarnya. Hal ini yang menurut pakar ekonomi Syariah, Dwi Condro Triono[1], terjadi akibat diberlakukannya sistem ekonomi materialis atau kapitalis. Singkat kata, negara muslim hari ini, khususnya Indonesia tengah mengalami krisis multidimensional akibat sistem hidup kapitalis yang kini tengah bercokol di negeri ini.

Tidak berbeda dengan kondisi umat, nasib para muslimah atau kaum perempuan hari ini pun tak kalah memprihatinkan. Kemiskinan, perceraian, dan keterbelakangan masih membayangi sebagian besar perempuan di negeri ini. Kerakusan sistem kapitalis telah menanamkan paradigma materialis pada setiap individu, tanpa terkecuali kepada para muslimah. Gagasan pemberdayaan perempuan yang dikoar-koarkan sebagai solusi permasalahan-permasalahan nyatanya tak ubahnya racun yang kian mengukuhkan kegagalan menyelesaikan persoalan perempuan. Gagasan itu pun atas nama kesamaan gender justru semakin menambah kompleks persoalan perempuan. Di satu sisi perempuan dipaksa bekerja menjadi wanita karir sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak-anaknya. Di sisi lain perempuan mengalami eksploitasi yakni bekerja dengan upah yang tidak sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan.

Berdasarkan data ILO pada tahun 2012 sebanyak 6 juta wanita Indonesia menjadi PRT (Pembantu Rumah Tangga) di luar negeri. Laporan dari Migrant Care Indonesia mencatat 5314 orang mengalami tindak kekerasan pada tahun 2009, kasus kematian mencapai 1075 orang pada tahun 2010. Wanita yang tinggal di dalam negeri pun tidak kalah menderita. Sekitar 7 juta wanita terpaksa menjadi kepala rumah tangga dan bekerja, sedangkan hidup mereka masih berada di bawah garis kemiskinan.

Di samping itu, angka kenakalan remaja semakin memprihatinkan. Menurut survei di 12 kota besar di Indonesia oleh Komnas Perlindungan Anak menyebutkan 62,7% pelajar SMP sudah tidak perawan, 21,2% remaja SMU pernah melakukan aborsi dan 97% remaja pernah menonton film porno. Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja pun semakin menggila, BNN (Badan Narkotika Nasional) menemukan bahwa 50-60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan remaja yakni kalangan pelajar dan mahasiswa, total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta[2]. Selain itu data dari Komnas Anak, jumlah tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012 hingga bulan juni sudah terjadi 139 kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian, pada tahun 2011 ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia[3]. Dan masih banyak survei-survei lain yang lebih mencengangkan dan cukup menggambarkan betapa memprihatinkan kondisi umat saat ini akibat kerakusan sistem kapitalis.

Islam Memandang Perempuan

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa sistem kapitalisme memandang perempuan sebagai komoditas yang harus dimanfaatkan sebagai investasi memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini ditandai dengan adanya dorongan kepada para perempuan untuk keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah menghidupi keluarganya. Serta adanya paradigma bahwa perempuan yang berdaya adalah mereka yang berdaya secara ekonomi, tanpa memperhitungkan perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya. Sehingga tidak mengherankan ketika sistem kapitalis ini menghasilkan produk generasi bermoral rendah akibat kurangnya pendidikan primer dari ibunya. Pandangan kapitalisme tentang pemberdayaan perempuan secara ekonomi ini justru menjauhkan perempuan dari fitrahnya sebagai wanita.

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki pandangan yang khas terhadap perempuan. Islam, sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang berasal dari Tuhan pencipta manusia, mengembalikan perempuan sesuai fitrahnya. Islam memposisikan perempuan dengan posisi terhormat. Seperti Najmah Saiidah, DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia yang disebut sebagai ummu wa rabbah al-bayyt[4] (ibu dan manajer rumah tangga). Di dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga. Islam pun memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan seperti halnya pada laki-laki. Kemuliaan perempuan dan laki-laki ditentukan oleh kadar ketakwaannya, bukan sekedar gender. Sehingga, dalam Islam bukan materi yang menjadi mahkota yang diperebutkan laki-laki dan perempuan dengan jalur yang sama. Tetapi, ridho Allah lah yang menjadi mahkota atau tujuan akhir setiap muslim, baik laki-laki dan perempuan.

Dalam mencapai ridho Illahi,  Islam pun mengatur jalur bagi laki-laki dan perempuan. Tentunya ada perbedaan jalur di antara laki-laki dan perempuan. Misal, dalam perkara mencari nafkah. Dalam Islam, hanya kaum laki-laki yang diwajibkan mencari nafkah, sedangkan bagi perempuan hukumnya mubah (boleh) tentunya juga atas izin suaminya. Selain itu, terdapat sebuah hadist yang menggambarkan bahwa jalur perjuangan laki-laki dan perempuan berbeda, yakni ketika wanita bersama Zaenab mendatangi Rasulullah dan mengatakan,

“Aku telah diutus kaum wanita kepada engkau. Jihad yang diwajibkan Allah kepada kaum lelaki itu, kita mereka terluka parah, mereka mendapat pahala. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki. Manakala kami kaum wanita sering membantu mereka. Maka, apakah pula balasan kami untuk semua itu?”

Kemudian Rasulullah SAW menjawab,

Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui daripada kaum wanita, bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya, adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi adalah sangat sedikit sekali daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian.  

Sehingga, jelas menjadi ummu wa rabbah al bayyt bagi perempuan merupakan peran yang sangat mulia dan memiliki nilai politis dan strategis. Karena dari para ibu inilah, lahir generasi yang berkualitas sebagai calon pemimpin yang mengaruskan perubahan demi merekonstruksi bangunan rapuh peradaban kapitalisme hari ini serta menggantinya dengan penegakan bangunan kokoh peradaban yang menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem hidup, menjadikan Allah dan rasulNya sebagai pemecah berbagai persoalan umat.       

Referensi:

[1] Triono, Dwi Condro,Ph.D. Harus Kembali Ke Dinar-Dirham. Al Wa’ie No.182 Tahun XV. 1-30 Oktober 2015.
[2] detikHealth, rabu 6/6/2012
[3] vivanews.com, 28/09/12
[4] Saaidah,Najmah. Khilafah Menjamin Hak-Hak Perempuan. Al-wa’ie No. 140 Tahun XII, 1-30 April 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *