Bukan Sekedar Menyatukan 2 Rasa, Melainkan Menyatukan 2 Rasa Untuk Visi yang Mengangkasa

Perjalanan kehidupan di muka bumi adalah perjalanan tentang mimpi, cinta dan kasih sayang antar manusia ,alam dan Tuhan. Cinta adalah sebuah ciptaan karya Tuhan yang tidak nampak oleh mata namun memiliki peran dan pengaruh yang besar dalam kehidupan realita. Berawal dari sebuah indahnya kasih sayang maka akan memunculkan inspirasi dan motivasi karya dalam diri seseorang. Perjalanan tapakan kaki seorang insan di atas bumi Allah tidak akan pernah mampu untuk lepas dari kehidupan sosial untuk saling berbagi.

Rasa cinta adalah sebuah fitroh yang Allah tetapkan dalam hati setiap manusia. Adalah sebuah kelaziman ketika seorang laki laki  menyimpan sebuah perasaan istimewa kepada seorang perempuan dan sebaliknya. Pun ketika sebuah fenomena ini terjadi kepada mereka yang terlibat dalam dunia aktivitas dakwah. Kami menyebutnya dengan fenomena VMJ (Virus Merah Jambu). Pada dasarnya sebuah rasa cinta bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan dan dipersalahkan karena rasa itu adalah ketetapan dan izin dari Allah SWT. Akan tetapi yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana manajemen pribadi dalam mengelola rasa itu dengan baik sehingga tidak menimbulkan aktivitas kemaksiatan yang tidak produktif dan tidak berketeladanan. Bukanlah sebuah saran yang bijak ketika ada seseorang yang mengadukan sebuah permasalahan terkait VMJ “hapus saja rasa itu jauh jauh”, akan tetapi ada sebuah saran yang lebih bijak yaitu bagaimana diri kita mampu mengelola rasa itu dengan baik dan terarah ke dalam ke ridhoan Allah SWT.

Rasa galau, pernikahan dan baperisasi adalah 3 kata yang akan setia menemani setiap pembahasan terkait virus merah jambu. Islam mengajarkan kita bagaimana interaksi yang benar dan baik dengan lawan jenis, sudah sepantasnya sebagai pribadi yang disibukan dengan aktivitas kebaikan mampu menjadi sosok teladan & bermualamalah yang baik dengan menjunjung tinggi adab dan akhlaq adalah sebuah kesadaran yang sudah semestinya tertanam dalam diri kita.

Seseorang  yang berlabel aktivis dakwah pun adalah seorang insan biasa yang juga memiliki kebutuhan akan kasih dan cinta. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia mampu menguasai diri dan mengelola hatinya sehingga tidak mengarahkannya pada aktivitas kemaksiatan. Menjadikan sebuah aktivitas kemaksiatan yang berada di dalam selimut yang lembut dan nyaman maka tidak akan jauh dengan aktivitas kemunafikan yang tidak menutup kemungkinan akan menghilangkan kebarokahan aktivitas kebaikan dari Allah SWT.

Pernikahan adalah sebuah keputusan yang sangat perlu untuk difikirkan  dengan matang dan penuh kedewasaan. Mengintegrasikan antara berfikir dengan logika yang jernih dengan perasaan yang ada adalah sebuah sikap kebijaksanaan yang perlu kita terapkan. Pernikahan bukan sekedar menyatukan 2 rasa lebih dari itu melainkan menyatukan 2 rasa untuk visi yang mengangkasa. Pernikahan adalah tentang sebuah gerbang baru yang akan menyatukan mimpi mimpi baru dengan visi visi yang lebih besar dan mulia dalam melukiskan peradaban kehidupan yang sesungguhnya. Pernikahan bukanlah sekedar sebuah solusi dalam menghentikan kegalauan. Berfikir dengan menggunakan logika yang jernih adalah sebuah sikap yang perlu kita kedepankan dalam menghadapi  kegalauan yang merupakan aktivitas yang kurang produktif.

Pernikahan adalah sebuah fase hidup yang istimewa dan penuh makna, sehingga ketika kita ingin meingintegrasikan antara berfikir logika dan perasaan maka kita akan menyadari bahwa sebuah fase yang istimewa sangat diperlukan kesiapan dan persiapan yang istimewa. Pernikahan bukan hanya sekedar persiapan rasa cinta namun ada aspek aspek lain yang sangat perlu untuk kita perhatikan. Aspek psikologi kedewasaan,aspek keilmuan dan keahlian, aspek finansial, aspek mimpi mimpi dan visi, aspek kesepakatan dari kedua belah pihak.

Di dalam penantian seorang jodoh maka akan ada konsep berfikir dalam keilmuan Key and lock  “Jodoh tidak akan tertukar”. Dengan bersandarkan keyakinan pada Allah dan logika maka sebagai insan yang mampu berfikir bijak adalah dengan fokus pada konsep “sudah seberapa kualitas diri kita” bukan pada “siapa jodoh kita”. Sudah menjadi janji Allah didalam  Q.S An Nur :26 “ Perempuan perempuan yang keji untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji untuk perempuan perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan perempuan yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik untuk perempuan yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga) ”. Ketika kita paham dengan konsep berfikir logika dalam penantian seorang jodoh dan janji Allah maka sudah semestinya kita menyadari bahwa aktivitas kegalauan dan baperisasi yang tidak terarah tujuan yang jelas adalah sebuah aktivitas ketidakproduktifan.

Jodoh adalah ibarat sebuah cermin, seberapa kualitas diri kita maka seperti itu juga kualitas jodoh kita. Sebagai insan yang bijak dalam berfikir maka yang perlu kita perhatikan adalah menyempurnakan kualitas diri kita dengan ilmu, ibadah, akhlaq, karya dan kepribadian yang mulia. Akan menjadi sebuah permasalahan adalah ketika fitrah tersebut justru yang lebih dominan mengelola kita kemudian memasukan diri kita ke dalam lubang kegalauan yang menguasai kita hingga hilangnya semangat produktivitas karya dan mematikan logika sehat kita.

Gerbang pernikahan adalah gerbang amanah baru yang lebih besar dan mulia. Pernikahan adalah tentang bagaimana kita memainkan peran dan karakter kita sebagai teman berfikir, teman bercerita, teman bekerja, dan teman tertawa.

Pernikahan adalah fase penyatuan 2 rasa dan mimpi mimpi yang lebih besar dan mulia sehingga menyiapkannya dengan kesempurnaan adalah sebuah keniscayaan yang perlu kita sadari dan perhatikan. Pernikahan bukanlah tentang usia muda atau tua melainkan tentang kesiapan dan kedewasaan. Sejatinya seseorang yang masih menunjukan kegalauan adalah mereka yang belum paham konsep kesiapan, melainkan mereka yang sudah paham konsep kesiapan adalah diam diam menyiapkan dengan sempurna.

Oleh: Amin Septianingsih (Departemen Kemuslimahan JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *