Oleh: Muhammad Adnan/ Nindy Oktavia

“When you’re surrounded by all these people, it can be lonelier than when you are by yourself. You can be in a huge crowd, but if you don’t feel like you can trust anyone or talk to anybody, you feel like you’re really alone.” -Fiona Apple

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang jatuh pada setiap tanggal 7 April merupakan gagasan WHO (World Health Organization) sebagai media untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu kesehatan yang dihadapi dunia saat ini. Setiap tahunnya, tema-tema yang diangkat pun berbeda, misalnya pada tahun 2015 World Health Day memiliki tema seputar keamanan makanan, lalu pada tahun 2016 tema yang diangkat mengenai penyakit diabetes.

Pada tahun 2017, WHO kemudian mengangkat tema seputar depresi dengan tagline ‘Depression: Let’s Talk!’.

What is depression, actually?

Depresi adalah kelainan mental umum yang biasanya ditampilkan dalam wujud turunnya mood, hilangnya daya tarik, berkurangnya energi, adanya rasa bersalah, terganggunya pola tidur dan nafsu, konsentrasi yang buruk, serta biasanya diiringi dengan perasaan tidak yakin terhadap sesuatu. Depresi juga berdampak pada berbagai macam hal seperti menurunnya persentase produktivitas kerja dan meningkatnya angka kematian akibat bunuh diri.

“Let’s talk!” adalah solusi utama yang dikampanyekan WHO dalam penanggulangan depresi yang dibagikan ke semua orang di media sosial. Solusi ini benar adanya, karena dengan mengomunikasikan masalah, seseorang bisa meringankan beban yang sedang ia hadapi sekaligus mendapatkan saran dari pendengar terhadap masalahnya itu melalui perspektif yang mungkin tidak terpikirkan oleh dirinya sendiri. Namun, jikapun tidak mendapatkan solusi atau saran dari pihak pendengar, motivasi yang diterima mungkin sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya bangkit kembali. Komunikasi dapat dilakukan dengan orang-orang terdekat, terutama anggota keluarga atau teman dekat yang bisa dipercaya, karenak tidak semua masalah yang dialami seseorang bisa disebarkan ke siapa saja. Oleh karena itu, status pihak pendengar bagi seseorang yang sedang terkena masalah sangatlah penting karena seseorang tersebut akan merasa nyaman dan bisa terbuka untuk bercerita maupun meminta saran dan/atau solusi yang tepat kepada pihak pendengar.

But, what if they’re not available at the moment?

Dari perspektif Islam, masalah yang kita hadapi bisa kita adukan ke Allah SWT sebelum ke orang lain. Itulah alasan mengapa orang Islam yang beriman tidak akan pernah merasa sendirian, karena ketika dunia dan seisinya berpaling darinya, termasuk mungkin keluarga dan teman terdekat, masih ada Allah SWT sebagai tempat untuk mengadu. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan oleh seseorang yang sedang menghadapi masalah untuk mengadu kepada Allah SWT sudah tercantum dalam firman Allah berikut.

 

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah, 2: 153)

Pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa salat dan sabar merupakan penolong seorang muslim dalam menghadapi suatu cobaan. Salat adalah sarana utama seorang muslim untuk berkomunikasi dengan-Nya, sehingga dalam hal mengomunikasikan masalah-masalah yang dapat menyebabkan depresi, solusi yang paling tepat bagi seorang muslim yakni dengan melaksanakan salat dengan meminta dikuatkan dalam menghadapi masalah tersebut kepada-Nya. Mengapa demikian? Karena hanya atas kehendak Dia-lah suatu masalah itu ada, dan hanya atas kehendak Dia jualah masalah itu dapat terselesaikan.

Wallahu’alam bishshawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *