Hadiah Kecil Untuk Sahabat

Oleh Ar. Fatahillah

Seperti biasanya, aku lebih memilih duduk di bangku terdepan pojok dekat jendela kelas. Teman-teman menganggapnya suatu hal yang biasa. Dengan duduk di depan kelas penyampaian materi dari guru lebih mudah dipahami. Setiap harinya, aku suka duduk di depan pojok dekat jendela kelas ini. Tidak banyak yang aku lakukan saat jam istirahat. Tidak sama seperti teman-teman yang lain. Yang rawuh akan kejenakaannya. Masa-masa SMA memang masa-masa yang paling krusial dalam kehidupan. Ya, banyak orang yang bilang seperti itu. Masa yang tidak akan terlupakan. Canda, tawa, sedih, luka bersama teman seperjuangan. Sambil memandang jendelaku merenung akan esensi dari masa ini.

Hari ini terasa panas, musim kemarau telah tiba dan mentari bersinar dengan kehangatannya. Terpancar dari luar jendela. Membawa angin harapan yang terasa sejuk. Hari demi hari telah berlalu. Merajut kenangan tiap pengalaman, suka maupun duka telah banyak terjadi di kelas ini. Dibungkus dalam kemasan dinamika yang kerap kali muncul seketika dalam memori kenangan. Jam istirahat, sama seperti kemarin. Tak banyak yang aku kerjakan, tidak seperti teman yang lain. Yang usil dan merasa bahagia ketika melihat teman ceweknya jengkel akan tingkahnya. Ada yang sibuk mencari tempat untuk bersantai. Ya, semoga saja tidak tertidur. Masa Sekolah Menengah yang asyik. Tidak jarang kamu menemukan teman yang aneh. Tapi, aku juga heran terkadang keanehan itulah yang membuat lucu. Entah, menertawakan tingkahnya ataukah aku yang hanya ikut-ikutan tertawa. Dari arah depan aku memperhatikan tingkah temanku. Tertawa tak jelas, dan merasa bahagia sejenak.

Hari ini pun tergantikan dengan hari esok, dari luar kelas namaku dipanggil oleh seseorang. Ternyata dia salah satu dari sekian banyak orang yang aku anggap teman. Sambil tersenyum dia memandang lalu mengajakku kekantin. Itulah awalnya aku merasa dekat dengan dia.

Kelasnya berada dekat lorong yang akan mudah terlihat jika menuju kantin. Perbedaan kelas bukan menjadi masalah. Perbedaan jarak tidak menjadikan alasan untuk teman yang akrab. Teman yang sering menemani disaat rasa penat menggerogoti. Teman yang menjadi support system disaat kejenuhan mendominasi. Teman yang memberikan semangat ketika rasa malas telah tertanam dan mengakar dalam diri.

Sama seperti hari sebelumnya, lantas mentari terbit dengan indahnya di dalam rotasi itu. Tak indah katanya tanpa dimuali dengan senyuman. Awal pagi yang mernyiramkan bumbu semangat. Terasa gurih dan membawa energi positif. Siapa yang peduli hari ini? Sama saja dengan hari sebelumnya, kan? Kataku dalam hati. Melanjutkan perjalanan ke sekolah yang kurang dari 15 menit lagi sampai di kelas.

Tidak ada yang ingat hari ini hari apa? Baik keluarga maupun teman kelas. Ya, aku sendiri pun berusaha untuk melupakannya dan berharap hari ini segera usai. Tergantikan dengan hari esok yang membawa harapan. Semua orang menjalankan aktvitas dan kesibukannya masing-masing. Ada yang sibuk membaca buku, review materi, bercanda gurau, tertawa tidak jelas, tertidur, dan makan camilan yang dibawanya dari koperasi sebelah kelas. Itulah suasana yang sering aku lihat di ruang dimensi ini. Tersenyum dalam diam dan membayangkan betapa lucunya masa-masa sekolah menengah ini. Masa-masa yang penuh misteri. Masa-masa yang penuh akan pencarian sosok jati diri dari seorang remaja. Masa-masa yang diwarnai dengan kegigihan seorang remaja yang menginginkan idealitas dalam menggapai keinginannya. Sembari memikirkan akan sosok idealis dalam renungan, aku berjalan kaki menuju keluar kelas. Dari belakang, seseorang memanggilku. Ternyata dia, sambil memukul pundakku dia memberikan sekotak hadiah kecil yang terbungkus rapih.

“Apa ini. . .?

“Ini untukmu sahabat ambilah!”

Entah apa perasaanku saat ini, di sisi lain aku merasa sangat terharu dan bahagia. Di sisi lain juga, dengan gemuru pertanyaan terlintas dibenakku saat mengambil hadiah kecil ini dari seseorang yang sepatutnya aku anggap lebih dari sekadar sahabat. Diapun berkata “ini untukmu hadiah kecil untuk sahabat”. Dia memang orang yang baik. Sikap yang ramah dan sering tersenyum pada semua orang. Seseorang yang menyenangkan dan suka membantu. Dialah sahabat ku. Yang mengajarkanku akan pentingnya memaknai hidup ini. Serta pentingnya saling membantu. Hidup ini tak lepas dari hubungan timbal balik (reciprocal). Kata dia dalam meyakinkan aku untuk selalu berbuat baik terhadap sesama.

Ternyata, masih ada orang yang peduli hari ini. Setelah aku membuang harapan itu. Setelah aku melupakan dan berharap agar mentari ini bisa tergantikan dengan rembulan. Tergantikan hari esok yang entah siapa yang tahu? Apakah mendatangkan kebahagian diiringi dengan harapan ataukah akan berjalan seperti biasa sesuai dengan rotasinya? Lantas kata dia, hari ini adalah hari ulangtahunmu, kan? Ambillah, hadiah ini dariku. Sambil tersenyum aku menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kamipun melanjutkan obrolan dengan berjalan menuju kantin. Sungguh kisah-kisah yang tidak ingin aku lupa. Dikala semua orang telah lupa termasuk aku. Dia, dengan kebaikannya memberi kesan agar selalu optimis dengan kehidupan. Tiap detik dan tiap menitnya harus memberikan sebuah pemaknaan dalam kehidupan. Begitulah yang setidaknya aku mengerti akan makna filsosfi kehidupan yang berusaha ia ajarkan padaku sahabatnya.

Hari ini pun berlalu dan tergantikan hari esok? Tak berbeda jauh dari hari kemarin. Semuanya berjalan sesuai dengan rotasinya. Hari yang cukup menyenangkan untuk kembali ke sekolah. Tepat pukul 10:00, aku berjalan keluar kelas saat jam istirahat. Menuju lorong dekat kelasnya. Aku melihat kerumunan siswa berada didepan kelasnya. Awalnya aku berpikir, paling tingkah jahil seorang siwa kepada siswi lain yang ingin mendapatkan perhatian. Sambil melanjutkan langkah kedepan menuju kerumunan.

Tebakanku salah, aku tertegun dan terdiam saat melihatnya dikerumuni siswa-siswa. Badan yang terbujur kaku dan muka yang tidak lagi memancarkan senyum kebaikan. Semua siswa merasa cemas. Siswa yang lainnya berusaha mencari bantuan dengan memanggil guru. Kaki gemetar, terdiam dan entah mau berbuat apa. Katanya dia pingsan saat di dalam kelas. Sayup-sayup suara yang terdengar jelas dari siswa lain yang berusaha menceritakan kronologis kejadiannya. Dia tetap terbujur kaku di lantai. Semua siswa mencemaskannya dan memanggil namanya. Berharap dia segera bangun dari tengah kerumunan siswa yang sedang menunggu senyumannya kembali. Alhasil merekapun membawanya ke UKS lalu menuju ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

Hari ini sangatlah berbeda jauh dari hari sebelumnya. Tampaknya hari ini tidak berjalan sesuai dengan rotasinya. Aku yang masih terdiam dan bingung mengapa hal ini bisa terjadi. Dia yang sangat begitu baik kepada semua orang. Sering membantu dan ramah kepada semua orang. Merasakan rasa sakit yang ditanggungnya sendirian. Membuat dia tidak sadarkan diri, terbujur kaku dan cahaya yang kian memudar. Menghapus lukis senyum yang terukir di wajahnya. Menetaskan air mata yang memandangnya tak berdaya. Apa maksud semua ini? Dalam diam aku bertanya. Mencoba mencari jawaban yang mungkin bisa aku dapatkan. Namun takdir berkata lain. Tuhan memang Maha Adil. Memilih orang-orang yang baik hati untuk menemani-Nya di surga. Sehingga dia tidak perlu lagi melihat ironi dari kehidupan ini. Dia terlalu baik untuk melihat berbagai macam ironi. Cukuplah makna hidup dari hasil berbuat baik yang menemaninya. Dengan begitu senyum-senyum baru akan terukir di wajah kelak.

Dengan cepat kabar duka sampai di seluruh penjuru sekolah. Aku yang masih tediam saat mendengar kabar duka itu. Menyayat hati dan membuka luka yang dalam. Apalah arti menolak realitas ini. Semuanya sudah tertulis dengan rapi dari tinta takdir. Tak ada seorang pun yang bisa mengubahnya. Aku pun pasrah dan berharap semua ini pasti akan berlalu. Secepatnya.

Kini aku tidak lagi memandang ke samping jendela kelas. Hari ini, aku memutuskan untuk memandang ke atas. Mempersiapkan keperluan masa depan. Memandang langit yang biru beserta mentari yang menawarkan kesejukannya. Lantas, aku yang belum sanggup memandang kebawah. Lantaran mengkhawatirkan air mataku akan bercucuran jatuh ke tanah. Dengan memandang ke atas. Paling setidaknya menopang air mata ini tidak mudahnya jatuh teruarai ke tanah saat mengenangnya. Berusaha untuk menyisihkan air mata untuk masa-masa lain. Andaikan kamu masih di sini sahabat. aku berharap kita bisa bersama-sama menggunakan toga kebanggan itu kelak. Menandakan hasil perjuangan yang ditempuh dari kampus terbaik di kota istimewa ini sahabat.

Selamat Jalan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *