Dunia Shafeera: Chapter 4

Perempuan mana yang ingin berada di posisiku saat ini? Aku yakin, tidak ada satupun yang mau. Aku tidak tahu lagi harus dibawa kemana arus hubunganku bersama suamiku setelah insiden-insiden yang telah berlalu. Bak berusaha untuk menyatukan kembali ornamen gelas yang telah pecah, hancur berkeping-keping hingga menjadi butiran kaca. Berdarah-darah, dengan hasil yang tidak akan pernah jelas.

Untuk kedua orang tua kami, kami bertahan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi itulah satu-satunya hal yang menjaga rumah tangga kami dari keruntuhan. Semakin hari, rasanya semuanya semakin berat. Sekedar saling tatap saja menjadi beban yang tidak bisa kami pikul. Semakin jelas bagiku, bahwa pernikahan bukanlah dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang dianggap remeh; seremeh sekedar memilih ia yang menyenangkan hatimu, atau hati orang tuamu. Parameternya harus lebih absolut dari itu, sebab pasanganmu sungguh menentukan baik atau tidaknya hidupmu.

Kabar itu menerpa secara tiba-tiba. Sebuah bencana, secara finansial dan emosional di rumah tangga ini. Suamiku merugi, ia tidak mau membeberkan detil-detilnya kepadaku; aku hanya mendengar sepintas dari percakapan-percakapan yang ia lakukan lewat telepon. Kini, selain sama sekali tidak menyapaku, ia pun terpuruk dalam dunianya sendiri. Tidak mampu makan banyak, sulit untuk tidur nyenyak. Sebagai istri yang tidak dia sukai, aku tidak bisa berbuat banyak.

“Shafeera, aku sudah mendapat izin,” tuturnya suatu hari saat ia sedang menyantap makan siang di hari Sabtu yang mendung. Setelah sekian lama tidak mendengar suaranya, aku terdiam membeku begitu ia bersuara. Aku tahu, ia tidak akan berbicara kepadaku kecuali untuk hal-hal yang sungguh genting. Entah mengapa, aku memiliki perasaan yang tidak enak terhadap hal yang hendak ia sampaikan kepadaku.

“Izin untuk apa, Mas?” Tanyaku. Menebak pun tidak bisa, sebab informasi yang kumiliki terhadap kehidupannya pun sangat terbatas. “Aku dan kamu sama-sama tahu, bahwa pernikahan kita bukanlah pernikahan terbaik yang pernah ada. Begitu banyak kesalahan-kesalahan serta kekurangan yang terjadi selama ini,” jawabnya, “kita pun  sama-sama tahu, bahwa landasan kita dalam menjalani pernikahan ini adalah keinginan, kebahagiaan, dan penjagaan akan hubungan baik kedua orang tua kita; oleh karena itu kita berdua pun sama-sama sadar, bahwa mengakhiri semua ini tidak akan semudah mengikuti keinginan kita saja.”

“Tadi malam, saya sudah bicara dengan Ibu. Ibu bilang, jika pilihan tersebut dapat membuat saya bahagia, maka Beliau sudah tentu memberikan saya izin.” Izin? Izin untuk apa? “Saya mengenali seorang perempuan, Shafeera. Dia baik, dan saya ingin meminangnya menjadi istri kedua saya.” Balasan apa yang dapat aku berikan atas pernyataan itu? Mendengarnya saja membuat permukaan yang kupijak seakan-akan meluruh dan menjadi tiada. Setelah tidak mau memberi jalan tengah akan gagasan-gagasanku, lebih sering tidak menghiraukanku, kemudian menyakitiku secara fisik… ia memutuskan untuk meminang perempuan lain?

Atas dasar apa akhirnya ia memutuskan untuk melakukan hal tersebut? Sebenarnya telah jelas dalam logika, laki-laki mana yang betah dengan perempuan yang tidak dapat memberikannya ketenangan di kala dunianya sedang hancur berkeping-keping. Apalagi, ketika perempuan itu sebenarnya merupakan salah satu bagian dari masalah yang sedang ia hadapi. Namun hatiku sama sekali tidak menerima, begitu teganya dia, betapa naifnya pikirannya; apakah ia pikir dengan menikahi perempuan yang lain, ia dapat hidup dengan lebih tenang? Kemungkinan besar pernikahan yang ia kehendaki dengan perempuan itu tidak akan memperbaiki keadaannya, ibarat mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan menambah masalah lain yang baru. Karena kini, melalui pengalaman-pengalaman pahit yang selama ini telah menjadi kenyataanku, kusadari bahwa pernikahan adalah pertanggungjawaban yang berat, dan memikul tanggung jawab sudah pasti tidak lepas dari berbagai masalah yang mengikutinya.

Aku menolak untuk menanggung beban yang lebih berat lagi. Aku pun tidak mau bila kelak, perempuan yang ia nikahi merasakan hal-hal yang telah menjadi keseharianku, atau barangkali lebih parah (kita asumsikan saja kemungkinan terburuk dalam kasus ini). Pojok terbersih hati nuraniku pun berbisik, bahwa sebenarnya ia juga tidak ingin suamiku mengalami hal-hal yang tidak seharusnya ia alami melalui pernikahan kedua, pernikahan kedua yang semata-mata dilakukan untuk menambal kebolongan yang dirasakan dari pernikahan yang pertama.

Kali ini, aku merasa lebih kuat. Lebih berpendirian, lebih beralasan. Bukannya aku tidak menghormati suamiku, bukannya pula aku ingin melawannya. Setelah sekian lama tertempa oleh rasa sakit, aku mulai belajar untuk bangkit dan berjalan pelan dengan penuh kekuatan. Dengan sebuah keikhlasan yang baru, sebuah kejernihan yang muncul dari keletihanku akan kekeruhan; sekarang inilah aku, dengan pandangan-pandanganku yang lebih baru. Aku pun memberanikan diriku untuk secara halus menanggapi keinginan suamiku untuk menikah kembali dengan penuh kebijaksanaan…

“Maaf, Mas… tetapi sepertinya Shafeera tidak setuju dengan keinginan Mas. Barangkali Mas berpandangan, bahwa pernikahan yang kedua adalah solusi bagi pernikahan pertama yang belum cukup sukses. Namun apakah ada jaminan bahwa pernikahan yang kedua akan berjalan dengan lebih baik daripada yang pertama? Memang benar, aku dan Mas tidak pernah menikah atas dasar kasih sayang maupun keinginan kita sendiri, berbeda halnya dengan pernikahan kedua yang Mas inginkan. Namun tetap saja, Mas… bukankah seorang perempuan tidak hanya dipinang untuk menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga sebagai tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan oleh Allah? Sebuah tanggung jawab yang penuh dengan intrik dan komplikasi yang bermacam-macam, yang bergantung pada dinamika yang terjadi dalam pernikahan tersebut, yang tidak lepas dari karakteristik mereka yang menjalankannya. Saat Mas saja masih berkutat dengan masalah-masalah yang Mas alami dengan Shafeera, apakah Mas yakin bahwa keputusan untuk memikul tanggung jawab yang baru dari pernikahan kedua adalah keputusan yang tepat?

Shafeera tidak tahu–jika memang Mas memutuskan untuk akhirnya menikah kembali–kesuksesan atau kegagalan yang barangkali Mas akan alami dalam menjalaninya. Namun yang Shaf ketahui secara pasti, Shafeera yakin bahwa pernikahan yang kedua bukanlah solusi untuk masalah yang kita alami pada hari ini. Di atas segalanya, Shafeera tetap menyerahkan perkara ini kembali kepada Mas, sebab pada akhirnya, keputusannya tetap berada di tangan Mas semata.”

Di titik ini, aku hampir-hampir tidak peduli. Tidak peduli dengan reaksi negatif yang bisa saja muncul darinya karena kesan dariku yang barangkali ia tangkap terlalu menggurui. Sebab inilah aku… hanya seorang wanita yang waktu itu cukup berani untuk secara terbuka mengomunikasikan impian-impiannya kepada lelaki yang hampir-hampir tidak ia kenali, dengan kemungkinan akan persetujuan yang ia ketahui tipis. Seorang wanita yang hanya berusaha untuk membalas jasa kedua orang tuanya, walaupun pada praktiknya akhirnya ia pun mempertanyakan kembali keputusan yang dibuat oleh orang tuanya kala itu. Seorang wanita yang harus memikul segala konsekuensi akan keputusan yang berakar dari masa lalu yang telah berjalan begitu lama, dengan segala kekurangannya yang menjadikannya seorang manusia…

 

 

2 thoughts on “Dunia Shafeera Chapter 4: Kekuatan Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.