Oleh: Rohmatul Ummah (Kepala Departemen Kemuslimahan JS 1439 H)

Aku tertegun. Sebenarnya aku tidak dapat mendefinisikan apa yang ada, tapi setidaknya seperti itulah kira-kira rasanya… takjub, kagum, namun di sisi lain ada rasa sedih yang terselip, ada rasa duka yang terasa jadi luka. Kamu tau apa? Sudah tahu dari judulnya, bukan? Ya, ini tentang negara kita. Negaraku… negaramu… negara kita. Indonesia.

The number of farmers age 25 to 34 grew 2.2 percent between 2007 and 2012, according to the 2014 USDA census, a period when other groups of farmers — save the oldest — shrunk by double digits. In some states, such as California, Nebraska and South Dakota, the number of beginning farmers has grown by 20 percent or more.

Ya, informasi ini penyebabnya. Faktanya, dari sensus Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture/USDA), pada 2007-2012 jumlah petani berusia 25-34 tahun tumbuh 2,2 persen atau sekitar 2.384 petani baru. Di beberapa negara bagian seperti California, Nebraska, dan South Dakota, jumlah petani muda tumbuh lebih dari 20 persen. (The Washington Post, 23 November 2017)

Dan kamu tahu apa yang lebih membuatnya menawan (sekaligus meresahkan)?

For only the second time in the last century, the number of farmers under 35 years old is increasing, according to the U.S. Department of Agriculture’s latest Census of Agriculture. Sixty-nine percent of the surveyed young farmers had college degrees — significantly higher than the general population.

Singkatnya, petani muda (di bawah usia 35 tahun) di Amerika Serikat meningkat. Yang membuat ini jadi hal yang menawan adalah 69% di antaranya berpendidikan cukup tinggi —bergelar sarjana. Generasi baru ini memang tidak dapat menjadi jaminan untuk menggantikan para petani yang sudah lanjut usia, namun itu semua cukup dapat menjadi kontribusi nyata pertumbuhan gerakan pangan lokal dan dapat membantu melestarikan tempat pertanian menengah di lanskap pedesaan.

Dan yang membuat ini meresahkan… Indonesia, apa kabar? Indonesia, yang sering menyebut dirinya (dan juga kita sebut-sebut) sebagai negara agraris… apa kabar?

 

Negara Agraris.
Kita tak lupa dengan pelajaran sejarah kala duduk di bangku Sekolah Dasar, kan? Kala Portugis, Belanda hingga Jepang begitu tergila-gila serta ingin menguasai Indonesia. Mereka penuh nafsu mengerahkan segala kemampuan, bahkan rela mati berperang demi menguasai Nusantara. Tentu saja kegilaan mereka beralasan, bukan? Mereka tergiur dengan tanah dan lahan pertanian Indonesia yang suburnya tak terkira dengan hasil melimpah membentang sepanjang Nusantara. Sekarang, ketika kita sudah merdeka… apa yang terjadi?

Selain kenyataan bahwa lahan pertanian menyusut seluas 150.000 hingga 200.000 hektar tiap tahunnya (Kementrian ATR/ BPN, 2013), hal tersebut diperparah dengan fakta yang menyatakan bahwa lebih dari 80% petani di Indonesia berusia lebih dari 50 tahun dan umumnya tidak berpendidikan tinggi (www.petanimuda.org). Kebutuhan akan regenerasi petani terhambat dengan minimnya pemuda yang bekerja di sektor pertanian, karena sebanyak 70% pemuda menganggap menjadi petani adalah hal yang tidak menarik. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Nur Iswan (Pelaku Usaha Pangan dan Pertanian) dalam Diskusi Beras Jadi Komoditas Strategis 10 September 2017 bahwa “…tidak ada anak muda di Indonesia yang berminat dan bermimpi menjadi petani…” (Ariyanti, 2017). Tidak hanya itu, peliknya permasalahan yang ada ditambah dengan polemik 8000 kasus sengketa lahan di Indonesia. (Sofyan Djalil; Menteri Agraria dan Tata Ruang, 2018)

Lalu di tengah badai terpaan permasalahan terhadap dunia lahan dan pertanian di Indonesia ini… menurutmu, bagaimana? Negara Agraris Kita Apa Kabar?

Mari, sama-sama mencintai negeri ini dengan ambil bagian untuk memberi tanggapan terhadap hal ini.

—————————————————-

Yuk tanggapi permasalahan ini di ugm.id/kitaagraris!

1. Pemberi feedback terbuka bagi semua kalangan (umum).
2. Follow instagram @gmmq_ugm dan @ldkjsugm
3. Feedback tulisan terkait tentang “Konflik Agraria: Apa Kabar Nusantara?”
4. Wajib membaca artikel berikut ugm.id/AgrariaGMMQ1 dan ugm.id/AgrariaGMMQ2
5. Paling lambat pengumpulan tulisan dilakukan pada tanggal 20 November 2018 pukul 23.59 WIB
6. Tulisan berisi minimal 700 hingga 2000 kata
7. Tulisan menggunakan bahasa Indonesia, tetapi tidak membatasi penggunaan bahasa asing sebagai tulisan pendukung.
8. 12 pt; spasi 1,5 remove space; Times New Roman; Justify; A4 normal
9. Format dokumen dalam bentuk .doc atau .docx

 

Sumber:

Ariyanti, Fiki. 2017. Pengusaha: Tak Ada Anak Muda RI yang Ingin Jadi Petani. http://bisnis.liputan6.com/read/3088567/pengusaha-tak-ada-anak-muda-ri-yang-ingin-jadi-petani

Ayuni, Nesia. 18 Maret 2015. Antara Agraris atau Maritim. https://nasional.sindonews.com/read/977969/161/antara-agraris-atau-maritim-1426642441 Badan Pusat Statistik. Juni 2018. Keadaan Pekerja di Indonesia Februari 2018. Jakarta: BPS RI

Dadang. 25 Maret 2008. Indonesia, Agraris atau Bahari? https://www.its.ac.id/news/2008/03/25/indonesia-agraris-atau-bahari/

Damhuri, Eiba. 18 Januari 2018. Negara Agraris, Fakta Atau Utopia? https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/18/01/17/p2pl16440-negara-agraris-fakta-atau-utopia

Dewey, Caitlin. 23 November 2017. A growing number of young Americans are leaving desk jobs to farm. https://www.washingtonpost.com/business/economy/a-growing-number-of-young-americans-are-leaving-desk-jobs-to-farm/2017/11/23/e3c018ae-c64e-11e7-afe9-4f60b5a6c4a0_story.html?noredirect=on&utm_term=.24a8c9ec3115

Kanedi2. 22 Desember 2017. Negara Agraris Tapi Defisit Petani. https://www.watyutink.com/opini/Salah-Arah-Pembangunan

Kolers, Avery. 2009. Land, Conflict and Justice: A Political Theory of Territory. Cambridge: Cambridge University Press.

Media Fisipol. 11 Oktober 2017. Konflik Agraria dan Ketimpangan Struktur Feodalisme Picu Revolusi Sosial Banyuwangi. http://fisipol.ugm.ac.id/konflik-agraria-dan-ketimpangan-struktur-feodalisme-picu-revolusi-sosial-banyuwangi/

Paskarina, Caroline. Maret 2016. Wacana Negara Maritim dan Reimajinasi Nasionalisme Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/316192769_WACANA_NEGARA_MARITIM_DAN_REIMAJINASI_NASIONALISME_INDONESIA

Prabowo, Dani. 11 April 2018. Setiap Tahun, 200.000 Hektar Lahan Sawah Menyusut. https://properti.kompas.com/read/2018/04/11/160000321/setiap-tahun-200000-hektar-lahan-sawah-menyusut

Rachmawan, Dicky. 19 April 2018. Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?  http://pmb.lipi.go.id/indonesia-krisis-padi-atau-krisis-petani/

Rahayu, Andina. 2017. Indonesia Adalah Negara Agraris yang Terancam. Profesi Petani Diperkirakan Akan Punah 50 Tahun Lagi. https://www.hipwee.com/feature/jumlah-petani-makin-menipis-tiap-tahunnya-persoalan-serius-bagi-masa-depan-negara-agraris-ini/

Yohana Artha Uly. 9 April 2018. Lahan Sawah Berkurang hingga 200.000 Ha Tiap Tahun. https://economy.okezone.com/read/2018/04/09/320/1884213/lahan-sawah-berkurang-hingga-200-000-ha-tiap-tahun

One thought on “Negara Agraris Kita Apa Kabar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.