Dunia Shafeera: Chapter 5

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menelepon Ibu, kerap kali, ialah yang meneleponku. Bukannya aku benci berbicara dengannya… hanya saja, aku tidak ingin Ibu menyadari ketidakharmonisanku dan suamiku melalui pertukaran informasi yang terlalu banyak. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Oleh karena itu, aku menahan diri dari berkabar kepada Ibu, kecuali bila ia mempersoalkan diriku yang akhir-akhir waktu jarang meneleponnya. Sore itu, ponselku kembali berdering, memampangkan dengan jelas bahwa yang sedang berusaha untuk menghubungiku adalah Ibu. Sambil mempersiapkan mental serta jawaban-jawaban yang sudah seharusnya aku berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan terlontar, aku pun mengangkatnya.

“Assalaamu ‘alaykum Shafeera… apa kabar, Nak?” Terdengar suara Ibu yang mengharapkan akan terdengarnya nada suara anaknya yang gembira, atau setidaknya baik-baik saja, dari tempat ia meneleponku. Rasa-rasanya aku sudah tak kuasa lagi untuk berpura-pura, tetapi kukubur sejenak semua pedih agar Ibu tidak tahu bahwa sebenarnya aku sedang melewati pengalaman terpahit dalam hidupku. “Wa ‘alaykumussalaam… Shafeera sehat, Bu. Ibu bagaimana?” Jawabku dengan respon yang standar. “Alhamdulillah, Ibu juga sehat, Nak. Shaf… rasanya sudah lama sekali sejak Ibu terakhir bertemu dengan kamu. Sebenarnya, Ibu kangen sekali.” Aku menegak liurku. Jangan bilang…

“Ibu kesana, ya? Ibu ingin sekali bertemu kamu dan suamimu,” permintaan yang sebenarnya sederhana, andaikata semua sedang baik-baik saja di antara aku dan suamiku, seperti yang saat ini masih menjadi persepsi Ibu–Ibu yang menjadi perantara pertama pernikahan kami. Pernikahan yang kini berujung pada kehendak poligami dari pihak suami dengan landasan yang mengecewakan nan tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku menolak permintaan dari seseorang yang aku rela menikahi lelaki yang tidak aku kehendaki karenanya? Apalagi permintaan ini sebenarnya tidak seberat kehendak yang mengawali cerita yang pedih ini.

“Bagaimana Shaf, tidak apa, kan?” Tanyanya kembali, memastikan bahwa respon penyanggupan dariku memang merupakan sesuatu yang pasti ia dapatkan, setelah beberapa detik kubiarkan ia tanpa jawaban. Keheningan itu pun aku putus, “Eh? Iya Bu… datanglah ke tempat Shaf, aku pun sudah sangat rindu.” Jawaban itu sebenarnya merupakan formalitas semata atas keniscayaan bahwa permintaan Ibu sudah seharusnya aku penuhi; sementara aku sendiri pun belum meminta izin kepada suamiku, yang saat itu belum tiba di rumah.

Mengetahui berharganya hubungan antara kedua orang tua kita, sebenarnya suamiku tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui kehadiran Ibu di kediaman ini; dan itulah jawaban yang tanpa basa-basi ia berikan saat aku menyampaikan kepadanya mengenai permohonan Ibu. “Bagus, Shaf. Alhamdulillah Ibumu mau ke sini,” ujarnya, “Nanti saya undang juga Ibu dan Ayah saya, biar mereka bisa berbincang-bincang lagi setelah sekian lama.” Entah sandiwara seperti apa yang akan kami pertunjukkan saat Ibu tiba di sini. Ibu yang nanti akan menginap di rumah ini… pusat dari segala konflik yang tengah aku alami dengan suamiku.

 

***

 

“Assalaamu ‘alaykum…” suara yang familiar itu menyapa dengan hangat setelah berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Suara Ibu… suara yang kudengar kala aku ia timang saat aku belum berdaya. Suara yang senantiasa memberikan semangat di kala aku berputus asa. Suara yang telah mengiringi perjalanan kehidupanku, dari saat aku berada di dalam rahimnya hingga kini aku telah menjadi tanggung jawab orang lain. “Wa ‘alaykumussalaam…” jawabku. Sebuah perasaan nyaman yang mendalam menyelimutiku. Sosok Ibu ternyata amat kurindukan. Semenjak aku pindah kediaman dan menjadi seorang istri, aku belum pernah bertemu dengan Ibu lagi. Setelah segala pahit yang harus kucecap, segala perih yang menguras batinku, seolah-olah ada sebuah cahaya yang menerangi dan menghangatkan, yang kembali memberikan tujuan dan kebahagiaan yang selama ini hilang dari kehidupanku saat aku berjumpa dengannya kembali.

Tak kuasa, aku pun bergegas ke arah Ibu dan mendekapnya erat. Ibu pasti kaget melihat reaksiku yang bisa dibilang cukup berlebihan itu. Kenyamanan inilah yang selama ini tidak pernah aku dapatkan di bawah atap yang aku sebut rumahku ini. Rumah seorang Shafeera beserta suaminya, seorang Shaf yang belum merasakan segelintir kasih sayang pun dari sosok lelaki yang ia nikahi. Berada di dalam kenyamanan pelukan Ibu, tiba-tiba seakan-akan seluruh perih yang terpendam berakumulasi dan tertumpah dengan begitu saja. Derai air mataku pun mengalir secara spontan dan sederas-derasnya.

“Shaf… ada apa?” Intuisi kuat seorang Ibu terhadap anaknya pun langsung membuatnya berkesimpulan bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dengan keadaanku. Terhalang oleh isakanku yang sangat menjadi, aku tidak kuasa untuk berbicara. Melihatku yang terkurung dalam tangis, Ibu pun menghela napas panjang dan membiarkanku melepas semua rasa. Ia terus menjaga pelukan itu seraya membelai punggung anak gadisnya yang setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, menyambutnya dengan sebuah tangisan yang menjadi.

Tidak ada yang terasa berbeda. Aku dan Ibu duduk di halaman belakang rumah, menatap ke taman yang setiap pagi aku beri siraman air segar, dengan segelas kopi untuk Ibu dan segelas teh untukku. Tangisku telah usai, tetapi rasa perih yang terpendam masih meninggalkan bekas-bekasnya pada air wajahku. Di titik ini, kurasa Ibu pun telah bertanya-tanya mengenai alasan di balik tangis yang hebat itu dan menantikan sebuah penjelasan dariku. “Shafeera tidak tahan, Bu,” ucapku, memulai suatu pembicaraan mengenai hal yang selama ini aku pendam sebagai sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang jangan sampai diketahui oleh Ayah dan Ibu yang menjadi penyebab terbesar atas terjadinya ia. Namun, kini aku pun bercerita secara gamblang di depan Ibu mengenai perkara yang saat ini menjadi konflik terbesar kehidupanku.

Maafkan Shafeera yang mengagetkan Ibu, ya. Maaf. Maaf Shafeera tidak pernah berkabar bahwa semua ini begitu menyakitkan untuk Shaf. Shafeera hanya ingin membahagiakan Ayah dan Ibu, membalas jasa Ayah dan Ibu yang tidak terhitung untuk Shaf. Sebenarnya…

Sebenarnya Shaf tidak pernah ingin menikah dengan lelaki ini, Bu. Namun karena Ibu dan Ayah… Shaf pun akhirnya setuju. Akan tetapi, hal-hal yang terjadi di bawah atap rumah ini sungguh masih meninggalkan luka-luka yang begitu mendalam di diri Shaf. Mulai dari ia yang menolak untuk memberi jalan tengah atas keinginan Shaf untuk melanjutkan pendidikan, dengan dalih bahwa perempuan tidak memerlukan itu. Kemudian saat ia  memukul Shaf setelah Shaf memergok secarik kertas yang ia terima dari seorang perempuan, dengan pesan yang menyiratkan kasih sayang.

Kini… ia bilang, ia hendak meminang perempuan lain, Bu, untuk mencari kebahagiaan yang tidak ia temukan bersama Shafeera. Ibunya pun menyetujui hal itu, asalkan memang itu membuatnya bahagia. Namun, bagaimana dengan kebahagiaan Shaf, Bu? Air mataku kembali mengurai, Bagi Shaf juga, pernikahan kedua itu tidak akan pernah menjadi jalan keluar atas semua ini. Selain itu… Shaf merasa bahwa Shaf tidak lebih dari seorang penjaga rumah–seorang perempuan yang mendiami sebuah ruang yang hanya berisi kehampaan.

Kembali lagi aku di sini, dalam salah satu tempat ternyaman di dunia… dekapan Ibu. Air mata Ibu kini pun mengalir bersama dengan air mataku. “Maafkan Ibu, Shafeera, anakku sayang, anakku yang selalu menjadi kebangaan Ibu. Ibu tidak menyangka. Ayah dan Ibu hanya ingin agar kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang bisa Ayah dan Ibu berikan. Ibu tidak pernah berpikir, bahwa semuanya akan menjadi seperti ini…

Maafkan Ibu, Shafeera… maafkan Ayah. Kita akan lalui ini bersama ya, Nak? Kita bicarakan baik-baik dengan suamimu dan juga orang tuanya. Karena sekarang adalah segala yang kita miliki, maka Shaf… Ibu minta, jangan berperih terhadap semua yang telah berlalu. Kamu kuat, Nak… dan kamu tidak sendirian. Ada Ibu, ada Ayah. Kita undang Ayah kemari, supaya bersama, kita dapat mencari jalan keluar yang terbaik. Ya, Nak?” Aku masih terlarut dalam episode kedua tangisanku, tetapi hatiku sedikit lega; karena kini, luka ini tidak harus aku simpan sendirian.

Pertemuan itu pun diorganisir secepatnya. Secara diplomatis, Ibu menyambut suamiku dengan memasang wajah yang ramah, dan langsung menyampaikan bahwa ia ingin secepatnya bertemu dengan kedua orang tuanya, “Bagaimana, apakah bisa?” Ibu pun berkata bahwa ayahku juga akan segera kemari. “Maaf kalau terkesan tiba-tiba,” ujar Ibu kepadanya. Suamiku menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Bisa-bisa saja, kok. Ayah-Ibu saya pun sudah hendak saya undang kemari, begitu saya tahu bahwa Ibu akan berkunjung.”

Lidahku mengelu, hatiku berdebar luar biasa, tetapi harapan seakan membawa semangat pada diri ini. Shafeera, inilah saatnya kamu bersiap-siap untuk menyongsong hari esok yang lebih indah lagi. Hari esok yang menjanjikan kesembuhan atas segala luka yang telah terlanjur menggores. Namun dengan cara yang seperti apa, saat ini, semua itu masih menjadi sebuah misteri.

 

 

Bersambung ke Part 6: The Last Story

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.