Lebah: Sang Matematikawan, Penari, dan Penghasil Madu

Oleh: Setia Budi Sumandra (FMIPA 2016, Manajer BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an 1439 H)

A. Pendahuluan

Siapa yang tidak kenal dengan madu. Madu adalah makanan lezat bukan hanya bagi beruang, tapi juga bagi manusia. Madu juga dikenal memiliki bermacam-macam manfaat. Intinya hampir semua orang tahu bahwa madu merupakan makanan yang penting bagi manusia. Akan tetapi sedikit sekali manusia yang menyadari sifat-sifat luar biasa yang dimiliki oleh sang penghasil madu, Lebah.

Lebah adalah hewan yang hidup sebagai koloni di dalam sarang unik yang dibangun dan dijaga dengan sangat teliti. Lebah sendiri memiliki ukuran panjang yaitu sekitar 1-2 cm. Lebah hidup di dalam sarang yang dapat menampung sekitar 60-70 ribu lebah. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melaksanakan pekerjaannya secara terencana, rapi, dan teratur. Lebih hebat lagi, ribuan lebah tersebut bekerjasama sesuai bidang masing-masing secara terencana dan harmonis dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama dengan upaya yang sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikit pun.

Ada banyak organisasi atau pun perusahaan di muka bumi ini yang memiliki struktur kepengurusan atau pun jabatan dan SOP yang rapi. Ada anggota yang menemukan kesalahan atau sesuatu yang penting, maka dilaporkan ke koordinator, koordinator tersebut kemudian melanjutkan ke wakil ketua, kemudian diteruskan ke ketua organisasi. Atau kita ambil permisalan untuk perusahaan, ada pekerja melapor kepada mandor, kemudian diteruskan oleh mandor ke insinyur, dan dari insinyur dilaporkan ke manajer pelaksana, dan dilanjutkan ke manajer umum. Akan tetapi, setelah segala persyaratan ini terpenuhi dan sistem organisasi nya telah terbentuk, hanya beberapa puluh atau ratus tenaga kerja saja yang mampu bekerjasama secara harmonis. Berbeda dengan lebah seperti yang telah disebutkan sebelumnya di atas.

B. Lebah Sang Matematikawan

“Dan Tuhanmu mewahyukan tentang lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (Q.S An-Nahl: 68)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala memberikan tafsir terhadap ayat ini. Beliau menyampaikan, Yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah ilham, petunjuk dan bimbingan bagi lebah, agar ia menjadikan gunung-gunung sebagai rumah yang menjadi tempat tinggal, juga pepohonan, serta tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian lebah-lebah itu membuat rumah-rumahnya dengan penuh ketekunan dalam menyusun dan menatanya, di mana tidak ada satu bagian pun yang rusak.

Jika Allah mengilhamkan, yang memiliki makna petunjuk dan bimbingan, berarti ada sesuatu yang sangat menarik dan penuh hikmah yang akan kita dapatkan jika kita mendalami tentang apa yang diilhami, yaitu sarang Lebah. Jika kita perhatikan, sarang lebah (terbentuk dari lilin) yang dibuat untuk penyimpanan madu berbentuk heksagonal baik bagian depan maupun bagian belakangnya. Pertanyaannya adalah, mengapa heksagonal? Bukankah terdapat banyak geometri lain yang bisa digunakan, seperti kubus, balok, prisma, segitiga, persegi, dan tabung?

Para ilmuwan matematika menemukan bahwa bentuk geometri heksagonal merupakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit karena kelilingnya paling kecil dibandingkan dengan geometri yang lain. Misalkan tabung atau kubus satu dengan lainnya yang sejenis Anda gabungkan di bagian kiri kanan atau atas bawah atau pojok atas bawah di bagian kanan dan kirinya, maka semua itu pasti akan meninggalkan celah kosong. Berbeda dengan geometri yang heksagonal atau segi enam. Selain itu, yang lebih mengagumkan adalah semua kotak segi enam tersebut membentuk sudut 109° atau angka 28 yang ditunjuk jarum jam. Adapun bagian tengah (perpotongan/simetrisitas antara segi enam bagian depan dan belakang) membentuk sudut kemiringan 13° yang membentuk lengkung ke bawah (seperti sudut datang dan pantul pada cermin dengan kemiringan 13° terhadap bidang datar) untuk mencegah agar madu tidak tumpah.

Lebah membangun sarang pada titik-titik yang berbeda

Terdapat informasi lain yang penting diketahui, yaitu lebah membangun sarang mereka dari titik-titik yang berbeda dan oleh lebah-lebah pekerja yang berbeda sampai mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan tersebut selesai, maka tidak akan tampak ketidakserasian atau pun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Kita juga dapat melihat bahwa semua sudut sel-sel segi enam tidak ada yang menyimpang dari 109°.  Ajaibnya adalah  kemampuan geometri yang rumit ini dimiliki oleh setiap lebah tanpa harus sekolah di SD, SMP,SMA, S1, sampai profesor terlebih dahulu. Bagaimana mungkin?

Ini semua karena ilham dari Yang Maha Memiliki Ilmu, Allah SWT. Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala ketika menafsirkan Q.S An-Nahl ayat 68 di atas pada kalimat terakhir beliau yaitu,  “Kemudian lebah-lebah itu membuat rumah-rumahnya dengan penuh ketekunan dalam menyusun dan menatanya, di mana tidak ada satu bagian pun yang rusak.

C. Lebah Sang Penari

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang memikirkan.” (Q.S An-Nahl: 69)

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala memberikan tafsir terhadap ayat ini. Beliau menyampaikan, “Selanjutnya, Allah Ta’ala memberi izin kepada lebah-lebah itu dalam bentuk ketetapan qadariyyah (sunnatullah) dan pengerahan untuk memakan segala macam buah-buahan, berjalan di berbagai macam jalan yang telah dimudahkan oleh Allah, di mana ia bisa dengan sekehendaknya berjalan di udara yang agung ini dan juga daratan yang membentang luas, juga lembah-lembah, serta gunung-gunung yang tinggi menjulang. Kemudian masing-masing dari mereka kembali ke rumah-rumah mereka, tanpa ada satu pun yang keliru memasuki rumahnya baik sebelah kanan maupun kirinya, tetapi masing-masing memasuki rumahnya sendiri-sendiri, yang di dalamnya terdapat ribuan anak-anaknya dengan persediaan madu. Dia membangun sarang dari bahan yang ada di kedua sayapnya, lalu memuntahkan madu dari dalam mulutnya, dan bertelur dari duburnya.”

Sumber makanan lebah adalah nektar (sari bunga) yang akan diolah menjadi madu. Ini adalah tugas yang sangat berat karena, seperti hasil penelitian, untuk memproduksi ½ kilogram madu maka lebah harus mengunjungi 4 juta kuntum bunga. Itu merupakan angka yang sangat banyak. Oleh karena itu, mereka memiliki guidance bees (lebah-lebah pemandu). Ketika mereka melakukan ekspedisi dan menemukan sumber bunga, mereka kemudian akan kembali dan menginformasikan lebah-lebah yang lain tentang posisi sumber bunga. Di sinilah menariknya. Bagaimanakah cara mereka menginformasikannya?

Menari merupakan ekspresi seni untuk menemukan nilai keindahan. Tetapi lebah membuat itu menjadi lebih unik. Mereka menari untuk menemukan posisi. Adnan Oktar atau yang lebih dikenal dengan Harun Yahya menjelaskan bahwa awalnya lebah pemandu membiarkan lebah-lebah lain mencicipi sedikit nektar yang ia kumpulkan. Kemudian melakukan gerakan tarian berdasarkan posisi matahari. Misalnya, jika tarian berupa garis lurus ke arah bagian atas sarang, maka sumber makanan tepat mengarah ke arah matahari. Jika bunga berada pada arah sebaliknya, lebah akan membuat garis ke arah tersebut. Jika lebah menari ke arah kanan, maka ini menunjukkan bahwa sumber bunga berada tepat sembilan puluh derajat ke arah kanan. Gerakan tarian ini berdasarkan posisi matahari. Karena posisi matahari bergeser 1 derajat ke barat setiap 4 menit, maka ketika lebah pemandu memberitahu arah lokasi bunga, dalam setiap empat menit, sudut yang mereka beritahukan juga bertambah satu derajat ke barat.

Lebah pemandu tak hanya menunjukkan arah sumber bunga, tetapi juga jarak ke tempat tersebut. Jika manusia melakukan perhitungan jarak memanfaatkan rumus GLB, GLBB, atau yang lebih akurat menggunakan persamaan jarak dari hukum relativitas Einstein, maka Lebah memanfaatkan lama waktu tarian dan jumlah getaran untuk memberi petunjuk kepada lebah-lebah lain tentang jarak sumber bunga secara akurat. Bagaimana membuktikan ini?

Terdapat sebuah penelitian di California. Dalam penelitian ini, tiga wadah berisi air gula diletakkan di tiga tempat yang berbeda. Sesaat kemudian, lebah-lebah pemandu menemukan sumber makanan tersebut. Lebah pemandu yang mendatangi wadah pertama diberi tanda titik, yang mendatangi wadah kedua ditandai dengan garis, dan yang mendatangi wadah ketiga diberi tanda silang. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah dalam sarang tampak mengamati dengan cermat para lebah pemandu ini. Para ilmuwan lalu memberi tanda titik pada lebah-lebah yang mengamati lebah pemandu bertanda titik, dan demikian halnya, mereka juga memberi lebah-lebah lain tanda yang sama dengan yang ada pada lebah pemandu yang mereka amati. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah bertanda titik mendatangi wadah pertama, yang bertanda garis tiba di wadah kedua dan yang bertanda silang di wadah ketiga.

Jadi terbukti bahwa lebah-lebah dalam sarang menemukan arah berdasarkan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh lebah-lebah pemandu. Maka benarlah seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir, lebah bebas terbang di daratan yang luas. Disamping itu, selain mereka dapat menemukan sumber makanan, mereka juga dapat kembali ke rumah-rumah mereka tanpa salah sarang.

D. Lebah Sang Penghasil Madu
Sebelum saya membahas tentang madu, saya ingin memberikan brainstorming terlebih dahulu tentang perawatannya. Perawatan yang baik akan menghasilkan kualitas madu yang bukan hanya kualitas nya saja yang terjamin, tetapi juga kemurniannya. Mari kita tilik bagaimana lebah menjaga madu.

Lebah menjaga madu dengan penjagaan pada tiga aspek, yaitu suhu, kelembapan, dan bakteri dari luar. Lebah menjaga suhu sarang tempat madu agar tetap konstan, yaitu 35°C selama 10 bulan pada tahun tersebut. Lebah juga menjaga kelembapan sarang pada tingkat tertentu. Cara mereka menjaga suhu dan kelembapan ini adalah dengan 2 cara, yaitu menaruh kelompok khusus yang bertugas menjaga pertukaran udara dan mengipas-ngipasi sarang dengan sayap mereka di jalur masuk sarang sehingga udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain.

Adapun untuk menjaga sterilisasi dari bakteri yang ada di dalam sarang, maka lebah menggunakan getah lebah atau yang biasa kita kenal dengan propolis untuk mengawetkan binatang yang secara kebetulan bersarang (salah sarang) di sarang mereka. Pada mulanya hewan yang bersarang akan dibunuh. Untuk mencegah timbulnya bakteri, maka lebah membalsem binatang tersebut dengan propolis. Adapun propolis itu sendiri merupakan bahan istimewa karena sifatnya yang anti bakteri sehingga sangat baik digunakan sebagai pengawet. Bagaimana lebah mengetahui bahwa propolis merupakan bahan terbaik untuk pembalseman yang mana propolis hanya bisa dihasilkan manusia dengan teknologi yang canggih? Kembali lagi, itu semua dikarenakan Allah SWT lah yang memberikan wahyu atau ilham kepada lebah.

Dengan terjaminnya kualitas perawatan madu, maka saya sekarang berhak untuk menjabarkan tentang madu. Fakta menyatakan bahwa madu dihasilkan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kebutuhan lebah. Nektar atau sari bunga tidak bisa diperoleh pada musim dingin. Oleh karena itu ketika musim panas, lebah menyimpan cadangan makanan mereka dalam bentuk madu untuk musim dingin selanjutnya. Tetapi yang menakjubkan adalah sejak jutaan tahun yang lalu, lebah menghasilkan madu 10 kali lebih banyak daripada jumlah yang mereka butuhkan. Mengapa ini bisa terjadi? Ibarat ayam, mengapa harus bertelur lebih dari satu? Jawabannya adalah karena semua itu diperuntukkan bagi manusia (Q.S An-Nahl: 69).

Di ayat ke 69 dari surah An-Nahl sudah diberitahukan kepada kita oleh Allah SWT bahwa madu mengandung obat yang dapat menyembuhkan manusia. Ini juga sesuai dengan Hadis rasulullah SAW. Dalam kitab Shahih al-Bukhari disebutkan dari Ibnu `Abbas, dimana dia bercerita, Rasulullah bersabda: “Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu pada pembekaman, pada minum madu, atau pembakaran dengan api. Aku melarang umatku dari kayy (pengobatan dengan cara pembakaran).”

Hal terbukti secara ilmiah. Harun Yahya memberikan penjelasan bahwa madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu.

Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Demikianlah lebah, makhluk ajaib yang penuh dengan segudang hikmah. Fakta menyatakan bahwa Lebah tidak memiliki akal. Tetapi karena Allah memberikan ilham kepada Lebah, maka Lebah menjadi makhluk yang penuh manfaat. Apalagi manusia yang merupakan sebaik-baik makhluk karena memiliki akal. Oleh karena itu, jika Allah memberikan ilham kepada akalnya, maka dia akan menjadi makhluk yang penuh dengan manfaat melebihi manfaat dari seekor Lebah. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberikan ilham oleh Allah SWT.

 

 

Daftar Pustaka

Katsir, Ibnu. https://alquranmulia.wordpress.com/2015/09/18/tafsir-ibnu-katsir-surah-an-nahl-ayat-68-69/ . Diakses 04 Februari 2019.

Yahya, Harun. https://id.harunyahya.com/id/Eser-Tipi/4509/KEAJAIBAN-LEBAH-MADU . Diakses 04 Februari 2019.

Yahya, Harun. https://id.harunyahya.com/id/Eser-Tipi/4519/LEBAH-MADU-SANG-ARSITEK-DAN-PENARI-ULUNG . Diakses 04 Februari 2019.

Yahya, Harun. https://id.harunyahya.com/id/Eser-Tipi/4507/KISAH-MENGAGUMKAN-KEHIDUPAN-LEBAH-MADU . Diakses 04 Februari 2019.

Harun. https://id.harunyahya.com/id/Eser-Tipi/4515/LEBAH-MADU . Diakses 04 Februari 2019.

Harun. https://id.harunyahya.com/id/Eser-Tipi/27761/LEBAH-MADU-KEMAMPUAN-ARSITEKTUR-SUPERIOR . Diakses 04 Februari 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.