Author Archives: Jama'ah Shalahuddin UGM

(Masih) Melawan Ketakutan yang Berlebihan

Oleh : Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin

Kronologi Penolakan UAS di UGM

Seperti yang telah tersebar di jagad maya dan bahkan menjadi tren di twitter, penolakan atas kedatangan Ustaz Abdul Somad (UAS) dari UGM disampaikan melalui Warek Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan bersama dengan Warek bidang SDM dan Aset kepada pihak Takmir Maskam UGM pada Rabu (9/10) pagi. Pelobian pertama dilakukan oleh Rektor yang saat itu sedang berada di Kairo kepada Sekretaris Maskam UGM, Prof. Edy Meiyanto via telepon. Negosiasi ini berujung pada permintaaan kepada Takmir Maskam untuk menemui Warek Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan (Prof. Djagal) bersama dengan Warek bidang SDM dan Aset (Prof. Bambang). Pihak Maskam diwakili oleh Ketua Takmir (Pak Mashuri) dan Wakil Ketua Takmir (Prof. Zufrizal). read more

Menafsirkan Kehendak Tuhan dan Persoalan Perbedaan Pendapat dalam Agama

Pendahuluan

Islam dalam konsepnya yang paling dasar adalah sebuah agama yang menekankan pokok ajarannya sebagai kepatuhan total manusia kepada tuhan. Konsep ini amatlah penting sehingga dikatakan bahwa tidaklah suatu orang benar-benar beriman jika ia belum memiliki sikap pasrah kepada tuhan.[1] Muhammad Asad seorang mufassir Al-Quran dalam komentarnya terhadap ayat (Innaddina ‘inda llahil Islam)“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam[2]  menerjemahkan kata Islam di ayat ini dengan merujuk kepada makna generik dari kata-kata Islam, yaitu sebagai sikap kepasrahan dan ketundukan, bukan sebagai institusi keagamaan formal. Sehingga apabila dibaca ulang maka ayat tersebut akan berbunyi “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah sikap pasrah (Kepada-Nya [Islam])” (Dalam Bahasa Inggris, “Behold, The only true religion in the sight of god is [man’s] self-surrender unto Him”.[3] Maka dari itu, bagi seorang muslim wujud paling hakiki dari suatu iman terhadap agamanya adalah sikap tawakkal dan ikhlas dalam mengikuti segala kehendak tuhan yang bersifat ilahiah (Divine Will) dalam menjalani keseharian hidupnya, baik dalam hal ibadah maupun dalam hal muamalah. read more

Ke(tidak)siapan Kalimantan Menyambut Warga Kosmopolitan Jakarta

Oleh : Rizky Wisuda Wardani – pembelajar yang masih belajar

Jakarta, kota metropolitan dengan begitu banyak cerita yang tersimpan didalamnya. Jakarta, tempat dimana orang-orang memikirkan pekerjaan yang terus mengejar seakan tidak boleh berhenti walau sampai di rumah. Jakarta, terkadang menjadi tujuan utama para kaum urban dalam mengadu nasib karena “katanya” kalau kerja di Jakarta pasti bisa sukses. Tapi, nanti itu hanya akan menjadi cerita bagi kaum yang sudah menikmati Jakarta, kaum-kaum yang sedari dulu sudah hidup di Jakarta dan merasakan kerasnya Ibu kota. Nanti, Jakarta bukan lagi Ibu kota yang di incar oleh para kaum urban, bukan lagi tempat para petinggi-petinggi negara, dan bukan lagi tempat yang layak untuk menjadi tempat singgah. Pemindahan Ibu kota, menjadi sebab utama orang-orang memikirkan apakah semua akan lepas dari Jakarta? Apakah berlomba-lomba ke pulau seberang untuk segera mendirikan perusahaan akan menjadi pilihan para pebisnis muda? Lalu, apakah Jakarta akan menjadi kota dan bergabung dengan Jawa Barat? Karena itu, pembahasan ini akan menarik. read more

Asap Kalimantan: Terbengkalainya kewajiban para pemimpin bumi?

Oleh : Kastrat JS x SF

Islam merupakan agama rahmatan lil-alamin yang artinya mengayomi semesta dan segala isinya (menyeluruh), tanpa kecuali. Hakikat dari seorang muslim adalah menerapkan seluruh nilai-nilai dalam islam sebagai gaya hidupnya, termasuk di dalamnya berkenaan dengan menjaga lingkungan. Perlu kita sadari bahwa bumi yang kita pijak ini adalah sebuah titipan Ilahi yang harus kita rawat. Sebagai penduduk yang tinggal di bumi sudah sewajarnya kita menjaga keberlangsungan dan kenyamanan kehidupan kita sendiri dengan merawat yang telah ada. Lebih lanjut, disinilah peran umat muslim untuk ikut berperan aktif menjaga, merawat, dan memperbaiki segala kerusakan yang ada akibat dari beberapa perbuatan manusia di Bumi. Peran umat Islam, yang dalam surah Al-Baqarah dikatakan bahwa merekalah pemimpin/khalifah di muka bumi, agaknya perlu untuk diingat kembali. Sebagai khalifah atau pemimpin di Bumi hendaknya melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin dengan menjaga Bumi dan segala isinya serta mengingatkan manusia yang satu dengan yang lainnya, baik itu pelestarian alam maupun perdamaian di dalamnya. read more

Mudahnya Belajar Menjadi Pembeda

Opini Tahu Bulat #1*

Oleh : Anonim

Kamu tau nggak sih psychological burden seseorang yang berkumpul dengan orang-orang dengan tipikal yang jauh berbeda darinya? Pernah ngalamin belum sih ngulang kuliah bersama dedek-dedek tingkat yang berjarak 2-3 tahun darimu? Lah, itu cuma 2-3 tahun. Ini saia sendirian di grup yang sekitar 80% penduduknya 4-5 tahun lebih muda dari saia, dan hanya kenal sekitar 10% di antaranya (itupun nggak kenal deket, heuheu T.T).

Penulis tidak berniat untuk mencurahkan hati (curhat) di tulisan ini. Penulis hanya berupaya menggali salah satu persoalan akut di Jama’ah Shalahuddin dengan mengawalinya melalui satu pemikiran personal. Persoalan akut yang penulis maksud ialah sikap anggota Jama’ah Shalahuddin yang tidak intelek dalam memandang perbedaan di antara mereka. Mengapa penulis sebut persoalan akut? Alasan utamanya yakni persoalan ini telah terjadi sejak lama, jauh sebelum penulis bergabung di lembaga ini. Penulis melacak sejarah masalah ini bermula sejak meluasnya pemahaman gerakan Islam transnasional di wilayah kampus awal dekade 1990-an. Alasan lainnya yakni adanya logika imperial (conquer and expand) antaranggota yang mengakibatkan perebutan pengaruh dan nilai di antara mereka. read more