Author Archives: Jama'ah Shalahuddin UGM

Lebah: Sang Matematikawan, Penari, dan Penghasil Madu

Oleh: Setia Budi Sumandra (FMIPA 2016, Manajer BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an 1439 H)

A. Pendahuluan

Siapa yang tidak kenal dengan madu. Madu adalah makanan lezat bukan hanya bagi beruang, tapi juga bagi manusia. Madu juga dikenal memiliki bermacam-macam manfaat. Intinya hampir semua orang tahu bahwa madu merupakan makanan yang penting bagi manusia. Akan tetapi sedikit sekali manusia yang menyadari sifat-sifat luar biasa yang dimiliki oleh sang penghasil madu, Lebah.

Lebah adalah hewan yang hidup sebagai koloni di dalam sarang unik yang dibangun dan dijaga dengan sangat teliti. Lebah sendiri memiliki ukuran panjang yaitu sekitar 1-2 cm. Lebah hidup di dalam sarang yang dapat menampung sekitar 60-70 ribu lebah. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melaksanakan pekerjaannya secara terencana, rapi, dan teratur. Lebih hebat lagi, ribuan lebah tersebut bekerjasama sesuai bidang masing-masing secara terencana dan harmonis dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama dengan upaya yang sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikit pun. read more

Etika Profetik Lingkungan dalam Khazanah Intelektual Muslim

Oleh: Rini Jayanti

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat  Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raaf : 56)

Dunia sedang mengalami keprihatinan mendalam sehingga berada dalam krisis yang kompleks. Krisis tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak di muka bumi ini tanpa terkecuali melampaui batas negara, ideologi, sosial, ekonomi, budaya dan agama. Krisis tersebut adalah Krisis Lingkungan. Krisis tersebut tanpa disadari semakin meluas sedangkan manusia lambat laun melupakan tanggungjawab keilahiannya akan hakikat dirinya sebagai khalifatullah al-ardi. Alam semesta hanya menjadi budak hawa nafsu manusia demi pemenuhan keserakahan diri dan kekuasaan. read more

Dari Penggembalaan Kambing Menuju Kepemimpinan Umat

Oleh: Setia Budi Sumandra

A. Pendahuluan

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing.” Lalu para sahabat beliau bertanya: “Demikian juga engkau?” Beliau menjawab: “Ya, aku dahulu menggembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qiraath.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Rasulullah SAW dan para Rasul yang lain merupakan pemimpin-pemimpin umat yang sudah terbukti berhasil memimpin umatnya dengan seni kepemimpinan yang sampai saat ini tetap menyisakan pengaruh dan keagungan nama mereka. Di balik kepemimpinan gemilang mereka, tentunya terdapat proses untuk mencapai seni kepemimpinan yang luar biasa tersebut. Proses ini dibekali oleh Allah dengan pekerjaan mulia yang zaman saat ini banyak ditinggalkan manusia milenial karena dianggap ndeso. Pekerjaan tersebut adalah menggembala kambing. read more

Delima : Buah Segar yang Disebut Dalam Al-Qur’an

Oleh: Brenda Hayuning Zaenardi

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah.” (Q.S. Sad [38] : 27)

Dan Dia lah yang menurunkan hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala jenis tumbuh-tumbuhan, kemudian Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau, Kami keluarkan pula dari tanaman itu butir-butir (buah) yang bergugus-gugus; dan dari pohon-pohon tamar (kurma), dari mayang-mayangnya (Kami keluarkan) tandan-tandan buah yang mudah dicapai dan dipetik; dan (Kami jadikan) kebun-kebun dari anggur dan zaitun serta buah delima, yang bersamaan (bentuk, rupa dan rasanya) dan yang tidak bersamaan. Perhatikanlah kamu kepada buahnya apabila ia berbuah, dan ketika masaknya. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda (yang menunjukkan kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang beriman. ” (Q.S. Al-An’am [6] : 141) read more

Kurma dalam Perspektif Qur’an, Hadits, dan Sains

Oleh: Setia Budi Sumandra (FMIPA 2016, Manajer BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an 1439 H)

Pendahuluan

“Dan di Bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar-Ra’d: 4)

Kurma memiliki nama latin phoenix dactylifera, merupakan buah jadul (6.000-4.000 SM) yang sampai zaman modern ini masih laris dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada orang yang pulang dari berhaji tetapi tidak membawa oleh-oleh buah kurma. Bahkan saya juga belum pernah mendengar pada tiap bulan Ramadhan, bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak pernah memakan buah kurma dari awal sampai akhir Ramadhan. Teman-teman saya yang non-muslim pun banyak yang mengkonsumsi kurma ketika bulan Ramadhan. Begitulah buah kurma, jadul tetapi tetap mantul dan dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir seperti yang disampaikan oleh Allah dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 4 pada awal pembukaan artikel ini. Artinya, kalau ada orang yang tidak bisa mengambil pelajaran yang mengantarkan dirinya kepada kebesaran Allah dari buah kurma, maka ada yang salah dalam proses berfikir dari orang tersebut. read more