Category Archives: JS Menulis

Narasi Pola Pergerakan Islam Mahasiswa Kini dan Masa Depan

Oleh : Muhammad Miftah Jauhar

Seorang tokoh pergerakan Islam di Indonesia sekarang menceritakan bahwa terdapat 3 fase pola gerakan Islam di lingkungan kampus. Fase pertama yaitu fase sebelum tahun 1970an, saat nuansa Islam di kampus masih bernuansa kuat dengan 2 entitas besar Islam di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU). Pada fase ini, perkembangan Islam di kampus masih belum terlihat adanya perkembangan signifikan, kegiatan bernuansa Islam pun berupa kegiatan tradisional. Fase kedua yaitu saat pemerintah Indonesia mencetuskan NKK BKK sebagai respon pemerintah yang risih terkait kegiatan politik kampus. Beberapa pihak berpendapat bahwa mahasiswa saat itu sangat aktif dalam mengkritik pemerintah, sehingga pemerintah melarang segala kegiatan berbasis politik di kampus. Hal ini terjadi sekitar tahun 1978 dan membuat kalangan mahasiswa kehilangan ruang untuk berapresiasi, ruang selain akademik, dan ruang kritis mahasiswa. Namun justru karena adanya pelarangan tersebut dari pemerintah, nuansa baru yang tidak terpikirkan oleh pemerintah muncul, kegiatan keagamaan terutama Islam merebak di lingkungan kampus. Salah satu akibatnya adalah munculnya Lembaga Dakwah Kampus pertama kali di Indonesia yaitu Jama’ah Shalahuddin (JS) UGM. Pada fase ini, perkembangan Islam di Indonesia terutama lingkungan kampus sangat signifikan. Di UGM, dengan bantuan JS UGM melalui kegiatan Lautan Jilbab oleh Cak Nun berhasil membuat gebrakan baru terkait pemakaian jilbab oleh mahasiswi Islam. read more

Harmoni Kehidupan : Islam, Cinta, IPTEK, dan Indonesia

Oleh : Muhammad Miftah Jauhar

Rumah tidak akan berdiri kokoh jika salah satu penyangga rumah tersebut rapuh. Peradaban Islam tidak akan lahir jika komponen-komponen yang menopangnya tidak sempurna, Bahkan laptop yang digunakan untuk menulis sedikit kisah ini pun tidak akan bisa menyelesaikan tugasnya jika kehilangan salah satu tombolnya. Jika merujuk kepada fenomena remaja, tentu kisah Dilan tidak akan sempurna jika tidak ada Milea. Begitulah Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini saling melengkapi, saling mendukung, dan saling berkontribusi dalam pelaksanaan kehidupan sesuai dengan perintahNya. read more

RILIS Tragedi Penembakan di Christchurch

RILIS

Tragedi Penembakan di Christchurch

 Oleh:

JAMA’AH SHALAHUDDIN 

“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kronologi Singkat

Setiap muslim laksana satu tubuh, luka pada suatu bagian akan dirasakan oleh yang lainnya. Telah terjadi tragedi kelam yang dideklarasikan sebagai kejadian luar biasa oleh Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Adern. Penembakan brutal di dua masjid di Kota Christchurch, Masjid An Noor dan Masjid Linwood, terjadi pada siang hari Jumat (15/3). Penembakan terjadi sekitar pukul 13:40 waktu setempat, dimana umat muslim berkumpul pasca pelaksanaan ibadah shalat Jum’at. Dalam insiden tersebut dikabarkan bahwa 49 korban tewas dan terdapat dua WNI yang terkena tembakan. read more

Dari Penggembalaan Kambing Menuju Kepemimpinan Umat

Oleh: Setia Budi Sumandra

A. Pendahuluan

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali telah menggembalakan kambing.” Lalu para sahabat beliau bertanya: “Demikian juga engkau?” Beliau menjawab: “Ya, aku dahulu menggembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qiraath.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Rasulullah SAW dan para Rasul yang lain merupakan pemimpin-pemimpin umat yang sudah terbukti berhasil memimpin umatnya dengan seni kepemimpinan yang sampai saat ini tetap menyisakan pengaruh dan keagungan nama mereka. Di balik kepemimpinan gemilang mereka, tentunya terdapat proses untuk mencapai seni kepemimpinan yang luar biasa tersebut. Proses ini dibekali oleh Allah dengan pekerjaan mulia yang zaman saat ini banyak ditinggalkan manusia milenial karena dianggap ndeso. Pekerjaan tersebut adalah menggembala kambing. read more

Kurma dalam Perspektif Qur’an, Hadits, dan Sains

Oleh: Setia Budi Sumandra (FMIPA 2016, Manajer BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an 1439 H)

Pendahuluan

“Dan di Bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar-Ra’d: 4)

Kurma memiliki nama latin phoenix dactylifera, merupakan buah jadul (6.000-4.000 SM) yang sampai zaman modern ini masih laris dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada orang yang pulang dari berhaji tetapi tidak membawa oleh-oleh buah kurma. Bahkan saya juga belum pernah mendengar pada tiap bulan Ramadhan, bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak pernah memakan buah kurma dari awal sampai akhir Ramadhan. Teman-teman saya yang non-muslim pun banyak yang mengkonsumsi kurma ketika bulan Ramadhan. Begitulah buah kurma, jadul tetapi tetap mantul dan dijadikan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir seperti yang disampaikan oleh Allah dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 4 pada awal pembukaan artikel ini. Artinya, kalau ada orang yang tidak bisa mengambil pelajaran yang mengantarkan dirinya kepada kebesaran Allah dari buah kurma, maka ada yang salah dalam proses berfikir dari orang tersebut. read more