Category Archives: JS Menulis

Negara Agraris Kita Apa Kabar?

Oleh: Rohmatul Ummah (Kepala Departemen Kemuslimahan JS 1439 H)

Aku tertegun. Sebenarnya aku tidak dapat mendefinisikan apa yang ada, tapi setidaknya seperti itulah kira-kira rasanya… takjub, kagum, namun di sisi lain ada rasa sedih yang terselip, ada rasa duka yang terasa jadi luka. Kamu tau apa? Sudah tahu dari judulnya, bukan? Ya, ini tentang negara kita. Negaraku… negaramu… negara kita. Indonesia.

The number of farmers age 25 to 34 grew 2.2 percent between 2007 and 2012, according to the 2014 USDA census, a period when other groups of farmers — save the oldest — shrunk by double digits. In some states, such as California, Nebraska and South Dakota, the number of beginning farmers has grown by 20 percent or more. read more

Dunia Shafeera Chapter 4: Kekuatan Baru

Perempuan mana yang ingin berada di posisiku saat ini? Aku yakin, tidak ada satupun yang mau. Aku tidak tahu lagi harus dibawa kemana arus hubunganku bersama suamiku setelah insiden-insiden yang telah berlalu. Bak berusaha untuk menyatukan kembali ornamen gelas yang telah pecah, hancur berkeping-keping hingga menjadi butiran kaca. Berdarah-darah, dengan hasil yang tidak akan pernah jelas.

Untuk kedua orang tua kami, kami bertahan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi itulah satu-satunya hal yang menjaga rumah tangga kami dari keruntuhan. Semakin hari, rasanya semuanya semakin berat. Sekedar saling tatap saja menjadi beban yang tidak bisa kami pikul. Semakin jelas bagiku, bahwa pernikahan bukanlah dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang dianggap remeh; seremeh sekedar memilih ia yang menyenangkan hatimu, atau hati orang tuamu. Parameternya harus lebih absolut dari itu, sebab pasanganmu sungguh menentukan baik atau tidaknya hidupmu. read more

Dunia Shafeera Chapter 3: Sejuta Luka

Dunia Shafeera: Chapter 3

Semenjak hari itu, suasana di dalam rumah mulai berubah. Satu tahun berlalu dengan begitu lama dan menjenuhkan sejak pengungkapan isi hatiku kala itu. Semakin hari, semakin banyak ketidaksesuaian antara diriku dan dirinya yang semakin terasa. Pola pikirku dan pola pikirnya bagaikan dua kutub magnet identik yang tidak akan pernah bertemu. Basa-basi yang sederhana tetapi esensial dalam menjaga kelanggengan hubungan menjadi semakin langka di bawah atap kami. Ini adalah sesuatu yang meresahkan, dan walaupun sebenarnya ada segelintir rasa di dalam diriku yang mendorongku untuk pergi saja dari kediaman ini, aku tidak ingin melepas janji suci di hadapan Allah yang telah terikrar dengan begitu saja. read more

Dunia Shafeera Chapter 2: Impian yang Tertolak

Dunia Shafeera: Chapter 2

Hari baru. Hari yang baru di tempat yang masih terasa asing bagiku. Telah 2 bulan terlewat sejak terikrarnya janji suci bahwa aku adalah istrinya, dan dia adalah suamiku. Harus aku akui, tidak semuanya seburuk yang aku bayangkan. Setidaknya dia mencukupiku, dan aku pun mencukupinya. Rumah ini adalah rumah mereka yang memiliki harta berlebih, setiap orang yang memasukinya pasti betah dan ingin berlama-lama. Berbeda dengan diriku dan hatiku, yang masih merasa bahwa tempat ini bukanlah milikku.

Setiap pagi ia bangun dan langsung bergegas ke tempat kerja. Bersiap, berbersih, berbenah. Sebagai istri aku hanyalah seorang fasilitator, dan dia yang mempersiapkan dirinya sendiri. Ia tak banyak bicara, tetapi setelah 2 bulan aku mulai hafal dengan ritmenya. read more

Dunia Shafeera Chapter 1: Akad Tanpa Harap

Dunia Shafeera: Chapter 1

Permulaan. Apakah permulaan selalu berawal dari hal-hal yang baik? Yang kutahu, permulaan itu seperti bagaimana waktu pagi bertandang. Semburatnya yang memancarkan rona keceriaan berpadu padan dengan kehangatan. Dalam harap yang tiada pernah senyap. Dalam sekumpulan detik yang terus berbisik. Berbisik kepada seorang diri ini, yang tak akan mampu menampik sekawanan realita, yang kini tengah membentang sepanjang sisa usia. Lagi dan lagi, ia terus saja mengusik. Baru saja perjumpaan dan perpisahan telah bersepakat. Sedang ‘ketakutan’ tengah tertengadah sembari mendambakan sang ‘keberanian’ akan menjemputnya. read more

Islam Dulu, Feminisme Belakangan

Oleh: Farahita Nandini


Merebaknya Ide Feminisme di Indonesia

Peristiwa Women March yang diselenggarakan pada tanggal 20 Januari 2017 lalu adalah salah satu momentum yang membuat saya berpikir kembali, apakah jika perempuan terus-terusan menuntut hak-hak mereka, maka semua hal tersebut akan terwujud? Apakah semua permasalahan perempuan sudah ‘selesai’ jika tuntutan mereka dikabulkan? Lalu, apa lagi setelah itu?

Hari ini, wacana feminisme sangat laku di Indonesia. Merebaknya paham dan gerakan yang berlandaskan atas dasar tercapainya hak-hak perempuan ini, tak lepas dari peranan pergeseran sistem politik pasca reformasi. Era Orde Baru adalah zaman pengekangan, bahkan segala komunitas yang bertentangan dengan arah gerak pemerintahan –termasuk bagaimana perempuan berpenampilan diatur sangat ketat.[1] Namun, sejak memasuki era reformasi, feminisme mendapatkan tempatnya seiring masifnya pertukaran pemahaman secara bebas. read more

Berhijab Syar’i: Sebuah Jalan Memaknai Kehidupan

Oleh: Virta Attirah Damananda
Kemuslimahan JS UGM

Saya adalah seorang muslimah. Apa makna dari pernyataan tersebut? Makna dari pernyataan tersebut adalah bahwa saya ber-istislam, alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apa maksud dari “berserah sepenuhnya”? Maksudnya adalah bahwa saya meyakini kalau hanya Allah-lah yang sejatinya berkuasa atas alam semesta ini–Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya, termasuk diri saya sendiri. Alhasil, konsekuensi dari keyakinan tersebut adalah terposisikannya diri saya sebagai seorang hamba dan Allah sebagai Tuhan. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap seorang hamba terhadap Tuhannya? Sikap seorang hamba yang tepat terhadap Tuhannya adalah sepatutnya ia menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. read more

Islamophobia dan Bagaimana Seharusnya Kita Melawan

Oleh: Wardah Hafidz Mei Safaroh (Kajian Strategis)

Pasca terjadinya tragedi WTC 11 September 2001 silam yang merobohkan gedung kembar paling modern pada masa itu, Islam menjadi agama yang dituduh melakukan serangkaian aksi teror tersebut. Islam menjadi bagian dari isu penting yang diperbincangkan dunia di awal abad millenial. Berawal dari peristiwa WTC, pelabelan terhadap Islamsebagai agama “teroris”, “ekstrimis”, “intoleran”, dan lain-lain yang serupa mulai bermunculan.Ajaran Islam dipandang bahkan dituduh menjadi penyebab dari munculnya tindak kekerasan yang diklaim dilakukan oleh beberapa oknum kelompok Islam yang tidak bertanggungjawab. Munculnya Islamophobia, perasaan anti dan takut terhadap Islam, menjadi begitu terasa di negara-negara Amerika dan Eropa setelah tragedi WTC.Di Jerman misalnya, setidaknya ada 950 kejadian serangan kepada sejumlah umat muslim dan masjid sepanjang tahun 2017. Lalu di Spanyol, dilaporkan ada 500 kejadian yang menyasar masjid bahkan diantaranya termasuk perempuan dan anak-anak (VIVA, Maret 2018). Sementara itu di Inggris, sebanyak 80 persen umat Islam disana mengakusudah pernah menjadi korban dari isu-isu Islamophobia. Sepertiga di antaranya mengeluhkan atas diskriminasi yang sering terjadi di bandara-bandaraKerajaan Inggris (Republika, September 2014). read more

Kita Masih Teman, Kan?

Oleh: Fachrul Budi Prayoga (Fakultas Teknik 2016)

Aku sadar, di sela-sela aku berusaha keras mendapatkan IP terbaikku tiap semester. Berusaha memperjuangkan yang terbaik agar orang tuaku tersenyum. Seringkali, dhuha saat pagi terlewat. Dzikir setelah sholat kadang kutunda. Dimana-mana, ku hanya memikirkan bagaimana tepat waktu untuk ngambis, tapi sering lupa dengan tepat sasaran saat mati nanti.

Aku sadar, di sela-sela event yang kudaftar. Aku masih ingat, mencari relasi dan pengalaman, juga bahkan untuk berkontribusi besar untuk perkumpulan mahasiswa di kampus, menjadi alasanku mengambil semua itu. Tapi seringkali, aku lupa bahwa aku juga semestinya berkontribusi untuk aku juga. Diri ini butuh asupan ibadah, yang mana sering terlambat karena rapat. Yang mana seringkali tidak senyaman bercengkrama dengan Rabb, saat aku tidak sibuk. read more

Student Loan dan Kemana Lagi Kita Berharap?

Oleh: Afina Zahra Fatharani (Departemen Kajian Strategis JS & IMF Fisipol)

Pengantar: Tanggungjawab Intelektual Kita

14 abad silam, Islam hadir di tengah-tengah masyarakat dunia dengan tujuan memerdekan manusia, salah satunya menuntaskan kebodohan dalam rangka menjadikan manusia sebagai khalifah fil ardh yaitu pemimpin di muka bumi. Oleh karenanya, konsekuensi setiap insan yang memilih Islam sebagai falsafah hidupnya adalah wajib membekali dirinya dengan ilmu agar kelak menjadi pemimpin yang baik. Perintah ini selaras dengan kewajiban dalam menuntut ilmu yang diterangkan dalam peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira, Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai dengan 5. read more

X