02Mei/17

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini.

read more

30Mar/17

HARI FILM NASIONAL :

diilustrasikan oleh Bagus Faza Mujtaba

Keberadaan film di Indonesia sudah ada sejak lama, bahkan sejak saat masa penjajahan. Tepatnya bermula sekitar tahun 1926. Sejarah dari dunia perfilman Indonesia terbilang cukup panjang dan berliku selain bersaing dengan film asing.  Kualitas sebuah film juga mempengaruhi minat penonton. Tahun 1980-an dapat dikatakan sebagai tahun keemasan bagi dunia perfilman Indonesia karena pada tahun ini banyak film tanah air yang berkualitas memenuhi beberapa bioskop lokal. Namun memasuki tahun 1990-an Indonesia mengalami sedikit kemunduran di bidang film karena banyaknya produksi film dengan konten dewasa dan industri film barat juga mulai memasuki bioskop-bioskop di tanah air. Tapi disela-sela persaingan film-film tersebut, beberapa film dengan konten petualangan anak-anak dan percintaan remaja pun muncul dan cukup membawa angin segar pada dunia perfilman. Seiring berjalannya waktu, minat penonton berubah dan membuat para sineas atau film maker berlomba membuat sebuah film dengan konten yang positif agar dapat merangkul semua kalangan. Genre keluarga, remaja, dan adaptasi dari sebuah novel menjadi andalan para sutradara. Bahkan beberapa industri film kini mulai memproduksi film dengan konsep islami sebagai sarana dakwah walaupun masih banyak rintangan dan tantangan dalam pembuatan dan promosinya.

read more

17Sep/16

Apa yang Sudah Kita Tinggalkan untuk Anak Cucu Kita?

Oleh Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syi’ar
Jama’ah Shalahuddin UGM

Akhir zaman semakin larut, dunia semakin menjauh meninggalkan kita, dan akhirat semakin dekat mengejar kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan utusan terakhir kepada manusia akhir zaman pun kini jaraknya sudah semakin jauh dari kehidupan kita. Akhir zaman akan terus berjalan, tetapi apa yang sudah kita wariskan untuk generasi kita selanjutnya? Mari sejenak kita renungkan sebuah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

read more

11Sep/16

Tole, Mitos Kaum Muslimin dan Idul Adha

Oleh Fakhirah Inayaturrobbani
Departemen Kajian Strategi Jamaah Shalahuddin

“Le, sini, mari duduk sejenak, Pakdhe kangen sekaligus punya cerita. Sambil kita nikmati sayup-sayup angin semilir di musim yang aneh ini, yang sejenak hujan deras sejenak kemudian panas menyengat.” Tole, sebutan sayang untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa. Anak laki-laki yang dimaksud itu pun mengangguk paham. Tanpa banyak bicara mulai mendekati pakdhe-nya tersebut.

“Sudah jamak didengar di telinga kita ya, Le. ‘Ah, kaum muslimin tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak fraksinya (seperti partai saja), terlalu banyak alirannya, di Indonesia saja banyaknya minta ampun, belum di luar negeri’.” Pakdhe mulai bercerita. Anak laki-laki yang dipanggil tole itu pun mendengarkan dengan takzim setiap kata yang terlontar dari pakdhe-nya.

read more

05Sep/16

Muslimahs Role as Peacemakers (1): An Introduction

Oleh Raka Nur Wijayanto (Sekretaris Umum Jamaah Shalahuddin)

“There is disconnection between Islam as an emancipatory faith, patriarchy’s denial of Muslim women’s right and pluralist society’s obsession with blinkered stereotypes of Muslim women; seeing them only as subjugated victims. Patriarchy on the one hand and secular/modern versus the religious/traditional debates on the other: in both cases the Muslim woman’s opinion was not sought. She was neither asked how she wanted to practise her faith, nor was she asked whether it oppressed her. Her story was left untold, her voice remain unheard.”

(Contractor. Sariya, Muslim Women in Britain: De-Mystifying the Muslimah, Routledge, London, 2012, p. 4)

Culmination Point

05Okt/15

“Masjid Imajinatif”, Salah Satu Perwajahan Gelanggang Mahasiswa UGM

Masjid Imajinatif”, Salah Satu Perwajahan Gelanggang Mahasiswa UGM

Oleh Fajar Hamid -Tim Gelanggang 2012-

Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam seperti salat, i’tikaf, maupun ibadah-ibadah lainnya. Secara bahasa masjid berasal dari kata يسجد – سجد (sajada-yasjudu) yang arti sujud. Dan kata المسجد termasuk pengembangan dari kata يسجد–سجد. Sebagai tempat ibadah ada etika-etika yang harus diterapkan di dalam masjid. Seperti salat tahiyatul masjid. Salat ini merupakan wujud penghormatan kepada masjid yang dilakukan sebanyak dua rakaat. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia salat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714).

read more

01Jun/15

Proses dan Bentuk Kebudayaan Pluralitas di Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada

Proses dan Bentuk Kebudayaan Pluralitas di Jama’ah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada

oleh: Wisnu Al Amin

( Mahasiswa PSDK FISIPOL UGM dan Aktivis Jama’ah Shalahuddin UGM 1436 H)

Islam merupakan agama yang pengikutnya sudah tersebar di seluruh negara-negara yang ada di dunia. Baik dalam jumlah mayoritas maupun minoritas di suatu negara. Pada masa awal, Islam lahir di Jazirah Arab. Yang berawal dari kelahiran Nabi Muhammad Saw, pada hari senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun Gajah (Bahri, Fadhli (eds.) 2013, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I, halaman 131). Pada masa itu memang belum ditetapkan tahun Islam, layaknya tahun Masehi. Kendati demikian, perhitungan tahun pada masa itu di Jazirah Arab adalah berdasarkan peristiwa besar yang sedang terjadi. Nabi Muhammad Saw yang dilahirkan sebagai manusia biasa sekaligus sebagai utusan Allah Subhanahuwata’ala (Tuhan Semesta Alam) untuk menyebarkan Islam. Tetapi, misi utamanya adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia.

read more

25Mei/15

Aplikasi Manajemen Tawazun Muslimah Dakwah

Aplikasi Manajemen Tawazun Muslimah Dakwah

Oleh Amin Septianingsih

 

 

Keseimbangan manajemen tawazun dapat dipertimbangkan dalam tiga aspek yaitu aspek thabi’I (alamiah), aspek syar’i, dan aspek da’awi. Dari aspek thabi’i manajemen tawazun bertujuan untuk mengarahkan muslimah agar hidup wajar sesuai fitrahnya, sunnatullah yang berlaku bagi dirinya. Sebagai seorang daiyah hidup alamiah sebagaimana manusia lainnya belumlah cukup. Untuk itu kapasitas alamiah kemanusiaanya haruslah memiliki nilai lebih dibandingkan manusia pada umumnya. Manajemen tawazun dalam hal ini diperlukan untuk menggugah kemanusiaan alamiah seorang daiyah agar menjadi manusia yang unggul di atas manusia pada umumnya.

read more

15Mei/15

Jati Diri UGM Sebagai Jati Diri Jamaah Shalahuddin oleh Fajar Hamid

JATI DIRI UGM SEBAGAI JATI DIRI JAMAAH SHALAHUDDIN

Oleh: Fajar Hamid

Jamaah Shalahuddin merupakan bagian dari Universitas Gadjah Mada. Oleh karena itu, peranannya pun harus merepresentasikan jati diri UGM. Surat Keputusan Majelis Wali Amanah (MWA) UGM Nomor 19/SK/MWA/2006 tentang Jati Diri dan Visi UGM telah menentukan lima jati diri UGM, yaitu Universitas Nasional, Universitas Perjuangan, Universitas Pancasila, Universitas Kerakyatan, dan Universitas Kebudayaan. Setiap jati diri yang tertuang dalam surat keputusan tersebut memiliki makna yang luar biasa. Sudah barang tentu, ketika berbicara tentang Jamaah Shalahuddin, jati diri UGM harus disesuaikan dengan kondisi Jamaah Shalahuddin saat awal berdiri sampai sekarang.

read more

02Mei/15

Ekonomi Islam: Mencari Keadilan Bukan Sekadar Keuntungan Oleh: Adi Setiyo Purnomo

Ekonomi Islam: Mencari Keadilan Bukan Sekadar Keuntungan

Oleh: Adi Setiyo Purnomo

(Shariah Entrepreneurship)

 

Bismillah,

 

Tidak ada bunga, tetapi menggunakan sistem bagi hasil, dan terdapat akad sebelum bertransaksi, kalimat- kalimat yang sering kita dengar ketika berbicara ekonomi islam. Semua itu memang menjadi instrumen dalam berekonomi islam, tetapi apa sebenarnya nilai yang bisa kita petik dari pengamalan sistem ekonomi islam? Sangat penting kita mengetahui hal ini agar kita bukan bagian orang-orang yang tanpa sadar telah melakukan praktek-praktek  yang ternyata menyimpang dari konsepsi ekonomi islam J

read more