Catatan Shalahuddin adalah sebuah sub kategori yang fokus menampung pengalaman-pengalaman para anggota Shalahuddin yang beraneka rupa. Jangan lewatkan pengalaman-pengalaman seru mereka.

02Mei/15

Vektor Kehidupan oleh Yarabisa Yanuar (DPS)

Vektor Kehiduan

Oleh Yarabisa Yanuar

Departemen Pelayanan dan Syiar

Grafik vektor gaya menunjukan beberapa gaya yang bekerja terhadap suatu titik tertentu dan akan menghasilkan sebuah resultan gaya, yaitu jumlah dari berbagai gaya yang bekerja pada titik tadi. Vektor adalah besaran yang memiliki arah, sehingga titik tersebut akan bergerak sesuai resultan gaya yang bekerja pada arah tertentu pula.

Perhatikan bahwa sesungguhnya yang terjadi pada titik tersebut sama dengan yang terjadi pada kehidupan manusia. Jika dalam grafik vektor terdiri dari sumbu x dan sumbu y, maka vektor kehidupan juga terdiri dari 2 sumbu, yaitu sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai besarnya usaha yang seorang muslim lakukan. Besarnya usaha terbagi menjadi usaha positif (amal sholih) dan usaha negatif (perbuatan dosa) sebagaimana sumbu y terdiri dari y positif dan y negatif, tetapi sumbu x negatif tidak digunakan karena dalam kehidupan, waktu tidak pernah bernilai negatif. read more

11Apr/15

ABDUL ROZAQ FAKHRUDDIN “DA’I, PEMIMPIN DAN RAKYAT KECIL”

ABDUL ROZAQ FAKHRUDDIN
“DA’I, PEMIMPIN DAN RAKYAT KECIL”

Sandea Yahya Angkasa
(Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin)

Kyai Haji Fakhruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) di Pura Pakualaman Yogyakarta. Penghulu inilah yang nantinya mempunyai anak yang akan menjadi ‘orang besar’ nantinya. Beliau dipilih menjadi penghulu karena memang mempunyai ilmu agama yang sangat mendalam, hingga seorang tokoh besar Indonesia seperti HAMKA pernah menjadi muridnya. Kyai Haji Fakhrudin mempunyai istri yang bernama Siti Maemunah binti KH Idris Pakualaman. Mereka berdua mempunyai sebelas anak. Diantara sebelas anak tersebut, yang paling dikenal seluruh Indonesia adalah anak ketujuh, yaitu Abdul Rozaq Fakhruddin.
Abdul Rozaq Fakhruddin atau yang biasa dipanggil Pak AR, lahir pada 14 Februari 1916 di Clangap, Purwanggan, Pakualaman, Yogyakarta, 4 tahun kurang semenjak berdirinya Muhammadiyah. Pada tahun 1923, Pak AR kecil masuk ke sekolah formal di Standaardschool (SD) Muhammadiyah Bausasran Yogyakarta. Dahulu kebanyakan warge masyarakat, terlebih masyarakat desa, menimba ilmu kepada seorang Kyai. Waktu hanya masyarakat kota kaya saja yang banyak masuk sekolah formal. Namun, jika di daerah tersebut sudah ada sekolah Muhammadiyah, kebanyakan masyarakat bersekolah di Muhammadiyah, selain karena biayanya terjangkau, juga karena memang sekolah Muhammadiyah diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Masa kecil Pak AR sama seperti kehidupan anak – anak biasa ketika itu. Bersekolah di Standaardschool Muhammadiyah, sempat cuti sekolah, dan belajar di pondok. Ketika menginjak kelas 3, beliau diajak pulang oleh orang tuanya pulang ke desa leluhurnya di Bleberan, Brosot, Galur, Kulon Progo, karena KH Fakhruddin telah pension dari jabatan penghulu dan juga karena usaha batiknya yang jatuh.
Tak lama setelah Pak AR diajak pulang oleh orang tuanya, beliau kembali lagi ke kota Yogyakarta dan tinggal bersama salah seorang kakaknya yang bernama Zuhriyah di Kota gede. Pada tahun 1926, Pak AR melanjutkan sekolahnya di Standaardschool Muhammadiyah Penggan, Kotagede, Yogyakarta. Beliau melanjutkan sekolahnya walaupun di tempat yang berbeda. Di sana beliau sekolah hingga lulus kelas 5 pada tahun 1928. Dulu SD Muhammadiyah atau SD pada umumnya pendidikannya hanya sampai kelas 5, berbeda dengan sekarang yang pendidikannya sampai kelas 6.
Setelah lulus hinnga kelas 5 dari Standaardschool Muhammadiyah, Pak AR melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Namun beliau hanya menempuh hingga duduk di kelas 2 Mu’allimin, karena ayahnya memanggil beliau pulang ke desanya dan meminta mengaji (menimba ilmu agama) saja. Di sana beliau mengaji kepada dua kyai ternama di desanya saat itu, yaitu KH Abdullah Rosad, KH Abu Amar, dan kepada KH Fakhruddin, ayahnya sendiri.
Masa kecil Pak AR sudah diisi dengan menimba ilmu agama. Tidak heran jika berkunjung di rumahnya banyak dijumpai buku – buku. Lalu masa kecilnya sudah banyak mempelajari kitab – kitab kuning, walaupun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Namun beliau berguru kepada orang – orang yang belajar di Timur Tengah, contohnya ayahnya sendiri KH. Fakhruddin.
Menurut Sukriyanto AR , Pak AR belajar setiap pagi hingga siang hari selama beberapa bulan. Menurut Pak AR di antara kitab agama yang dipelajari dengan metode sorogan pada tiga kyai tersebut adalah Matan Takrib, Syarah Takrib, Qatrul Ghaits, Jurumiyah dan kitab – kitab lainnya. Sementara di setiap hari itu sesudah Maghrib hingga pukul 9 malam, beliau diminta belajar di Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.
Pak AR kecil yang hanya anak biasa yang pernah cuti selama pendidikannya dapat mempelajari berbagai kitab – kitab kuning yang belum tentu bisa dipelajari oleh banyak orang dalam waktu yang singkat. Ini dikarenakan faktor lingkungannya yang membentuk Pak AR menjadi orang yang paham agama di waktu muda. Di tambah pula keluarganya yang paham tentang agama dan selalu bertaqwa kepada Allah. Dari semua itu membentuk akhlak seorang Pak AR. read more

05Mar/15

Memahami Politik Standar Ganda

Prolog

Sebuah alur permasalahan tersirat dalam pikiran setelah kami mendengarkan apa yang tertulis di kartu-kartu tersebut. Pembangunan tempat pendidikan yang tidak optimal serta kerusakan alam di hulu sungai merupakan beberapa identifikasi masalah yang tertangkap di dalam kartu-kartu yang kami dapat secara acak pada misi sebelumnya. Di antara dinginnya gerimis yang membasahi tubuh kami serta kesunyian yang terekam di jajaran bukit tempat kami berpijak, terasa kehangatan suasana dari lisan-lisan individu yang berbicara di dalam kelompok. Beberapa teman berpendapat bahwa kerusakan hutan merupakan kunci permasalahan dalam cerita tersebut. Ada yang menambahkan bahwa kerusakan alam merupakan salah satu kesalahan besar yang dibuat oleh manusia di muka bumi ini yang mana menyalahi kodrat mereka sebagai khalifah. read more

06Jan/14

Secercah Cahaya dari Pagutan

anak pagutan

JSUGM – Ahad, 5 Januari 2014 Suasana baru yang dihadirkan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM khususnya oleh Departemen Sosial Masyarakat. Pagi yang nampak cerah dihiasi dengan keceriaan oleh adik-adik dari Desa Pagutan, Kulonprogo, Jogjkarta. Sahabat-sahabat Shalahuddin dengan adik-adik Pagutan nampak membaur tidak ada sekat, mereka bersama-sama seolah seperti keluarga yang saling mengayomi.

Kegiatan Jalan-jalan adik-adik Pagutan membawa spirit tersendiri yang hendak ditanamkan. Sahabat Shalahuddin ingin memberikan sebuah motivasi yang dikemas dengan jalan-jalan dengan tujuan “Membangkitkan Semangat untuk Mewujudkan Cita-cita Anak-anak Pagutan”. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh sahabat Shalahuddin dengan harapan akan semakin massifnya kepedulian sahabat Shalahuddin kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang merupakan aset baik bagi masyarakat luas, negara dan agama. read more

02Jan/14

Budaya Ilmiah, Bukan Budaya Anti Golongan: Jamaah Shalahuddin UGM dengan Ormas-ormas di Jogjakarta Menggelar Bedah Buku

Sebuah kegiatan positif yang diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM yang bekerja sama dengan ormas-ormas di Jogjakarta. Kegiatan yang bernuansa ilmiah tersebut sudah selayaknya menjadi suatu budaya di dunia akademisi, yakni sebagai salah satu bentuknya dengan melakukan bedah buku. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin dengan ormas-ormas di Jogjakarta yaitu bedah buku yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” pada 15 Desember 2013 di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta. Buku yang telah diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menjadi daya tarik tersendiri bagi aktivis Jama’ah Shalahuddin UGM dan Ormas lainnya untuk mengetahui lebih dalam isi buku tersebut. Kegitan tersebut mengundang narasumber Prof. Dr. Yunahar Ilyas sebagai perwakilan MUI Pusat sekaligus tim dari penyelesaian buku tersebut. Kemudian Dr. Muinudinillah, M. A. perwakilan dari Dewan Syariah Surakarta dan M. Zaitun Rasmin, Lc. M. A. dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), ketiga narasumber tersebut menjelaskan terkait dengan Syiah. Namun, penjelasan tersebut tidak memojokkan Syiah, hanya mengetahui dan membaca bagaimana pergerakan Syiah itu sendiri. Karena Jama’ah Shalahuddin menjaga bagaimana dan apa yang harus dilakukan di dalam dunia akademis. Sehingga suatu hal yang bersifat judgement terhadap salah satu golongan sangat dihindari karena dapat menjadikan disintegrasi sosial dalam kesatuan Indonesia, khususnya dalam masyarakat Jogjakarta.