Category Archives: Cerpen

Dunia Shafeera Chapter Part 6.2: Kesempatan

Akhir Kisah: Kesempatan

“Assalamu ‘alaykum,” ucapku sembari membuka pintu mobil itu. “Wa ‘alaykumussalam,” jawabnya. Entah mengapa, di momen ini, ada yang berbeda dari gelagatnya. Selama ini, di saat ia memasuki rumah setelah melewati hari yang membuatnya penat, aku dapat menilai dari ekspresinya bahwa tidak semestinya ia aku ganggu. Namun di detik ini, ia terasa begitu berbeda; tetap diam seperti biasanya, tetapi dengan aura yang memancarkan penerimaan atas diriku. Rasa-rasanya, di dalam mobil ini, aku mampu untuk menjadi diriku sendiri tanpa membuatnya menolak kehadiranku. read more

Dunia Shafeera Chapter 6.1: Keputusan

Jarum jam di ruang tamu menunjukkan pukul empat sore. Hawa di kala itu sama sekali tidak tertebak, tetapi di sinilah kuharap segalanya dapat terurai dengan sebaik-baiknya. Kami saling sambut-menyambut, bersalam-salaman, bercium pipi. Memberikan senyum terbaik, simbolisasi dari suatu diplomasi. Semua pun duduk pada posisinya masing-masing, tertata rapi, seakan segalanya telah terencana sejak sehari sebelumnya. Padahal, tidak siapapun dari kami mengetahui hal-hal yang kelak akan terjadi.

  read more

Dunia Shafeera Chapter 5: Pengungkapan

Dunia Shafeera: Chapter 5

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menelepon Ibu, kerap kali, ialah yang meneleponku. Bukannya aku benci berbicara dengannya… hanya saja, aku tidak ingin Ibu menyadari ketidakharmonisanku dan suamiku melalui pertukaran informasi yang terlalu banyak. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Oleh karena itu, aku menahan diri dari berkabar kepada Ibu, kecuali bila ia mempersoalkan diriku yang akhir-akhir waktu jarang meneleponnya. Sore itu, ponselku kembali berdering, memampangkan dengan jelas bahwa yang sedang berusaha untuk menghubungiku adalah Ibu. Sambil mempersiapkan mental serta jawaban-jawaban yang sudah seharusnya aku berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan terlontar, aku pun mengangkatnya. read more

Dunia Shafeera Chapter 4: Kekuatan Baru

Dunia Shafeera: Chapter 4

Perempuan mana yang ingin berada di posisiku saat ini? Aku yakin, tidak ada satupun yang mau. Aku tidak tahu lagi harus dibawa kemana arus hubunganku bersama suamiku setelah insiden-insiden yang telah berlalu. Bak berusaha untuk menyatukan kembali ornamen gelas yang telah pecah, hancur berkeping-keping hingga menjadi butiran kaca. Berdarah-darah, dengan hasil yang tidak akan pernah jelas.

Untuk kedua orang tua kami, kami bertahan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi itulah satu-satunya hal yang menjaga rumah tangga kami dari keruntuhan. Semakin hari, rasanya semuanya semakin berat. Sekedar saling tatap saja menjadi beban yang tidak bisa kami pikul. Semakin jelas bagiku, bahwa pernikahan bukanlah dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang dianggap remeh; seremeh sekedar memilih ia yang menyenangkan hatimu, atau hati orang tuamu. Parameternya harus lebih absolut dari itu, sebab pasanganmu sungguh menentukan baik atau tidaknya hidupmu. read more

Dunia Shafeera Chapter 3: Sejuta Luka

Dunia Shafeera: Chapter 3

Semenjak hari itu, suasana di dalam rumah mulai berubah. Satu tahun berlalu dengan begitu lama dan menjenuhkan sejak pengungkapan isi hatiku kala itu. Semakin hari, semakin banyak ketidaksesuaian antara diriku dan dirinya yang semakin terasa. Pola pikirku dan pola pikirnya bagaikan dua kutub magnet identik yang tidak akan pernah bertemu. Basa-basi yang sederhana tetapi esensial dalam menjaga kelanggengan hubungan menjadi semakin langka di bawah atap kami. Ini adalah sesuatu yang meresahkan, dan walaupun sebenarnya ada segelintir rasa di dalam diriku yang mendorongku untuk pergi saja dari kediaman ini, aku tidak ingin melepas janji suci di hadapan Allah yang telah terikrar dengan begitu saja. read more