05Feb/19

Dunia Shafeera Chapter Part 6.2: Kesempatan

Akhir Kisah: Kesempatan

“Assalamu ‘alaykum,” ucapku sembari membuka pintu mobil itu. “Wa ‘alaykumussalam,” jawabnya. Entah mengapa, di momen ini, ada yang berbeda dari gelagatnya. Selama ini, di saat ia memasuki rumah setelah melewati hari yang membuatnya penat, aku dapat menilai dari ekspresinya bahwa tidak semestinya ia aku ganggu. Namun di detik ini, ia terasa begitu berbeda; tetap diam seperti biasanya, tetapi dengan aura yang memancarkan penerimaan atas diriku. Rasa-rasanya, di dalam mobil ini, aku mampu untuk menjadi diriku sendiri tanpa membuatnya menolak kehadiranku. read more

04Feb/19

Dunia Shafeera Chapter 6.1: Keputusan

Jarum jam di ruang tamu menunjukkan pukul empat sore. Hawa di kala itu sama sekali tidak tertebak, tetapi di sinilah kuharap segalanya dapat terurai dengan sebaik-baiknya. Kami saling sambut-menyambut, bersalam-salaman, bercium pipi. Memberikan senyum terbaik, simbolisasi dari suatu diplomasi. Semua pun duduk pada posisinya masing-masing, tertata rapi, seakan segalanya telah terencana sejak sehari sebelumnya. Padahal, tidak siapapun dari kami mengetahui hal-hal yang kelak akan terjadi.

  read more

28Okt/18

Dunia Shafeera Chapter 4: Kekuatan Baru

Dunia Shafeera: Chapter 4

Perempuan mana yang ingin berada di posisiku saat ini? Aku yakin, tidak ada satupun yang mau. Aku tidak tahu lagi harus dibawa kemana arus hubunganku bersama suamiku setelah insiden-insiden yang telah berlalu. Bak berusaha untuk menyatukan kembali ornamen gelas yang telah pecah, hancur berkeping-keping hingga menjadi butiran kaca. Berdarah-darah, dengan hasil yang tidak akan pernah jelas.

Untuk kedua orang tua kami, kami bertahan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi itulah satu-satunya hal yang menjaga rumah tangga kami dari keruntuhan. Semakin hari, rasanya semuanya semakin berat. Sekedar saling tatap saja menjadi beban yang tidak bisa kami pikul. Semakin jelas bagiku, bahwa pernikahan bukanlah dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang dianggap remeh; seremeh sekedar memilih ia yang menyenangkan hatimu, atau hati orang tuamu. Parameternya harus lebih absolut dari itu, sebab pasanganmu sungguh menentukan baik atau tidaknya hidupmu. read more

26Okt/18

Dunia Shafeera Chapter 3: Sejuta Luka

Dunia Shafeera: Chapter 3

Semenjak hari itu, suasana di dalam rumah mulai berubah. Satu tahun berlalu dengan begitu lama dan menjenuhkan sejak pengungkapan isi hatiku kala itu. Semakin hari, semakin banyak ketidaksesuaian antara diriku dan dirinya yang semakin terasa. Pola pikirku dan pola pikirnya bagaikan dua kutub magnet identik yang tidak akan pernah bertemu. Basa-basi yang sederhana tetapi esensial dalam menjaga kelanggengan hubungan menjadi semakin langka di bawah atap kami. Ini adalah sesuatu yang meresahkan, dan walaupun sebenarnya ada segelintir rasa di dalam diriku yang mendorongku untuk pergi saja dari kediaman ini, aku tidak ingin melepas janji suci di hadapan Allah yang telah terikrar dengan begitu saja. read more

22Okt/18

Dunia Shafeera Chapter 2: Impian yang Tertolak

Dunia Shafeera: Chapter 2

Hari baru. Hari yang baru di tempat yang masih terasa asing bagiku. Telah 2 bulan terlewat sejak terikrarnya janji suci bahwa aku adalah istrinya, dan dia adalah suamiku. Harus aku akui, tidak semuanya seburuk yang aku bayangkan. Setidaknya dia mencukupiku, dan aku pun mencukupinya. Rumah ini adalah rumah mereka yang memiliki harta berlebih, setiap orang yang memasukinya pasti betah dan ingin berlama-lama. Berbeda dengan diriku dan hatiku, yang masih merasa bahwa tempat ini bukanlah milikku.

Setiap pagi ia bangun dan langsung bergegas ke tempat kerja. Bersiap, berbersih, berbenah. Sebagai istri aku hanyalah seorang fasilitator, dan dia yang mempersiapkan dirinya sendiri. Ia tak banyak bicara, tetapi setelah 2 bulan aku mulai hafal dengan ritmenya. read more