11Nov/16

Sabar: Cabang Keimanan dan Penyempurna Tauhid

Oleh: Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syiar

Dalam hidup ini, seringkali kita diingatkan untuk sabar. Namun, seringkali hal itu mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan. Secara bahasa, sabar berasal dari kata al habsu, yang berarti menahan. Secara istilah syariat sabar berarti menahan jiwa di atas ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah, salah seorang ulama membagi sabar menjadi 3 bagian macam1, yakni:

1.Sabar di Dalam Ketaatan kepada Allah read more

17Sep/16

Apa yang Sudah Kita Tinggalkan untuk Anak Cucu Kita?

Oleh Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syi’ar
Jama’ah Shalahuddin UGM

Akhir zaman semakin larut, dunia semakin menjauh meninggalkan kita, dan akhirat semakin dekat mengejar kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan utusan terakhir kepada manusia akhir zaman pun kini jaraknya sudah semakin jauh dari kehidupan kita. Akhir zaman akan terus berjalan, tetapi apa yang sudah kita wariskan untuk generasi kita selanjutnya? Mari sejenak kita renungkan sebuah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini: read more

11Sep/16

Tole, Mitos Kaum Muslimin dan Idul Adha

Oleh Fakhirah Inayaturrobbani
Departemen Kajian Strategi Jamaah Shalahuddin

“Le, sini, mari duduk sejenak, Pakdhe kangen sekaligus punya cerita. Sambil kita nikmati sayup-sayup angin semilir di musim yang aneh ini, yang sejenak hujan deras sejenak kemudian panas menyengat.” Tole, sebutan sayang untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa. Anak laki-laki yang dimaksud itu pun mengangguk paham. Tanpa banyak bicara mulai mendekati pakdhe-nya tersebut.

“Sudah jamak didengar di telinga kita ya, Le. ‘Ah, kaum muslimin tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak fraksinya (seperti partai saja), terlalu banyak alirannya, di Indonesia saja banyaknya minta ampun, belum di luar negeri’.” Pakdhe mulai bercerita. Anak laki-laki yang dipanggil tole itu pun mendengarkan dengan takzim setiap kata yang terlontar dari pakdhe-nya. read more

10Mei/16

Menautkan Hati di Senja yang Redup

Oleh Ima Kusumawati, Manajer Dosha 1437 H

Waktu menunjukkan pukul 06.30. Seseorang telah berpakaian rapi menuntun motor menuju halaman rumah. Dari belakang diikuti sesosok gadis kecil yang menggunakan jilbab putih, berbaju putih, dan memakai rok panjang warna merah. Sang ibu melambaikan tangan tanda melepaskan suami dan anaknya untuk beraktivitas pagi ini. Suasana pagi yang masih sedikit berkabut menambah kesejukan kampung ini. Para petani sudah berinteraksi dengan lumpur di sawah. Bapak/Ibu guru sudah berdiri di depan gerbang sekolah menyambut anak-anak didiknya. Di pasar sudah ramai para pedagang dan pembeli saling menawar untuk mendapatkan barang yang ingin dibeli. Suasana ini saya rasakan di kampung saya. Setiap pagi hingga menjelang senja tiba, semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. read more

14Mei/15

“Nikmat Dicintai Allah”

NIKMAT DICINTAI ALLAH

Oleh Fakhirah Inayaturrabbani (Kajian Strategis JS UGM 1436 H/2015 M)

Bagaimana rasanya dicintai oleh sosok yang luar biasa?

Sebut saja jika kita menjadi murid kesayangan di sekolah, paling dicintai oleh para guru. Bahkan, kepala sekolah tak segan mengabarkan perihal kita pada setiap acara sekolah, mengabarkan bahwa kita adalah murid yang paling kompeten sekaligus anak emas beliau.

Hal ini baru tingkat sekolah. Bagaimana jika di tingkat universitas. Kita merupakan anak emas Rektor, yang kemana-mana tak lupa disebut namanya sebagai orang kepercayaan rektorat. Bagaimana rasanya? read more

08Mei/15

Refleksi Jum’at Edisi II: “Ikhlas Sebagai Inti Ajaran Islam”

Refleksi Jum’at Edisi II: Ikhlas Sebagai Inti Ajaran Islam

Di antara tanda memiliki niat baik dalam melaksanakan suatu pekerjaan adalah tidak malas, panik, atau putus asa tatkala menemui kesulitan atau kendala. Orang yang baik niatnya, pada kenyataan tak gampang menyerah dan kepada Allah senantiasa berserah. Bila niat ikhlas tidak saja menentukan diterimanya suatu amal, namun juga bisa melipatgandakan pahala, tentu ikhlas adalah ajaran yang sangat penting. Bahkan Syekh Ibn Taimiyyah menyebutnya sebagai inti ajaran Islam. Dalam salah bab pada kitabnya yang berjudul al-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fi’ al-A’mal al-Qalbiyah, Syaikh Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ikhlas sebagai inti ajaran Islam. read more

23Apr/15

Refleksi Jum’at Edisi I “Hakikat Niat, Ikhlas, dan Kesungguhan”

Refleksi Jum’at
Edisi I

“Hakikat Niat, Ikhlas, dan Kesungguhan”

Orang yang ikhlas tak dimotivasi oleh pengharapan akan pujian. Orang yang ikhlas beramal, berkarya dan berbuat dengan kesungguhan hanya akan termotivasi oleh-Nya. Meski demikian, bagi orang yang bisa memahami, motivasi yang satu bisa melahirkan beberapa niat baik yang berbeda dari amal yang satu. Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali atau yang sering kita kenal Imam Ghazali menjelaskan ini dalam satu bab pada kitabnya, Mukhtashar Ihya’ Ulum al-Din.

Sebagai pembelajar, apapun status kita, baik pelajar, mahasiswa, santri ataupun pengemban dakwah sudah seyogyanya kita selesai dengan pemahaman ini. Al Ghazali coba memaparkan ini dalam penjelasan ‘Hakikat Niat’.

18Apr/15

Haji Oemar Said Tjokroaminoto: Guru Sang Penggerak

H.O.S TJOKROAMINOTO

GURU PARA PENGGERAK

Oleh : Fakhirah Inayaturrobbani -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

” Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid , sepintar-pintar siasat…”

Ia terdiam sejenak menatap seluruh muka para hadirin, lalu kembali melanjutkan, ”…Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang disebabkan hanya karena susu. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya adalah penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri… tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita….”[1]

Ribuan peserta vargedering perdana Sarekat Islam menyimak dengan seksama sebuah orasi yang disampaikan oleh seorang pemuda berperawakan sedang namun bersuara baritone yang berat dan besar itu. Tanpa bantuan pengeras suara sekalipun, suaranya mampu menggema ke seluruh ruangan sekaligus menyusup ke dalam hati para peserta vargadering kongres perdana Sarekat Islam di Bandung (1912).

18Apr/15

Prof. Dr. H.M. Rasjidi: “Pertahankan Pemikiran Islam Dari Pengaruh Dunia Barat”

Prof. Dr. H.M. Rasjidi

“Pertahankan Pemikiran Islam Dari Pengaruh Dunia Barat”

Oleh Rahma Nurdiyanti -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

Dunia pemerintahan Indonesia pernah dihiasi oleh seorang cendekiawan muslim yang kritis dan berani mengkritisi pemikiran kawan nya. Prof. Dr. HM. Rasjidi, lahir di Kotagede Yogyakarta 20 Mei 1915, merupakan sarjana Cairo Mahasiswa Indonesia pertama. Ia juga  menteri agama pertama di Indonesia mulai 3 Januari 1946 hingga 2 Oktober 1946. Ia pun pernah menjadi Ketua Diplomatik RI pertama yang mengikuti utusan diplomatik Mesir ke Yogyakarta. Pada akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada 30 Januari 2001

18Apr/15

Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

Oleh : Egi Fajar Mauludy

Departmen Kajian Strategis Jamaah Shalahuddin UGM

Siapa tak kenal Buya HAMKA (1980 – 1981) atau Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah? Dengan beberapa karyanya yang fenomenal hingga kini. Siapa para kalangan muda dizaman sekarang yang tidak mengenal romannya, Tenggelamnya kapal van der wijck? Dibawah lindungan ka’bah?

Beliau di lahirkan di Sungai Batang Maninjau (Sumatera Barat) pada 16 Februari 1908 (13 Muharram 1326 H) dari kalangan keluarga yang taat beragama. Ayahnya ulama terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, pembawa paham-paham pembaharuan Islam di Minangkabau.[1]