11Apr/15

“Ki Bagus Hadikusumo dan Pergulatan Sila Pertama”

“Ki Bagus Hadikusumo dan Pergulatan Sila Pertama”
Oleh Hijrauly Albebian
(Departemen Kajian Strategis JS UGM)

“dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya, satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan keputusan rakyat, serta luas dan lapang dada, tidak memaksa tentang agama. Jika tuan-tuan benar-benar menginginkan keadilan, kerakyatan, dan toleransi, maka dirikanlah pemerintah ini atas dasar Islam, karena Islam mengajarkan masalah tersebut. Allah berfirman dalam surat an-9Nahl 90, an-Nisa 5, Ali Imran 159, asy-Syura 38, dan Al-Baqarah 256.”
Teks diatas adalah salah satu petikan pidato Ki Bagus Hadikusumo saat sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, sebagai tanggapan atas pidato kelompok kebangsaan tanggal 29, 30, dan 31 Mei (pagi). Teks pidato ini memang tidak dijumpai di kebanyakan buku-buku teks yang biasanya mengutip dari dokumen negara susunan Muhammad Yamin.
Latar Belakang Ki Bagus Hadikusumo
Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu founding fathers yang sangat teguh ingin menjadikan ajaran Islam sebagai dasar negara. Beliau bersikeras dengan pendiriannya untuk tidak mengganti bunyi 7 kata dalam piagam Jakarta sebagai dasar negara kita, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Beliau meyakini, Islam adalah harga mati untuk Indonesia.
Keteguhannya dalam menyerukan ajaran Islam menjadi dasar negara Indonesia didasari oleh latar belakang beliau. Lahir dari golongan priyayi, sejak kecil Hidayat atau Raden Dayat (nama kecil Ki Bagus Hadikusumo) sudah terbiasa dengan tradisi Islam. Ayah beliau, Raden Kaji Lurah Hasyim yang berprofesi sebagai abdi dalem pamethakan (jabatan dalam keraton di bidang agama Islam) membuatnya memperoleh pendidikan yang baik. Meskipun untuk pendidikan umum beliau hanya sampai kelas tiga sekolah dasar, karena beliau lebih tertarik dengan pendidikan agama. Beliau memilih Pondok Pesantren Wonokromo Yogyakarta untuk menimba ilmu agama.
Selain itu lingkungan Kauman, Yogyakarta memberinya banyak kesempatan untuk dapat belajar langsung dengan ulama-ulama hebat. Pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan adalah seorang guru fikihnya. Khasanah keilmuan Islamnya juga bertambah lantaran kegemarannya membaca karya-karya ahli agama Timur Tengah seperti Ibnu Taimiyah, Imam Syafii dan Al Ghazali. read more

08Jan/14

“Mencari Sekeping Hati yang Hilang”

heartRasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan Jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.”

 (Muttafaq ‘alahi).

                HATI, sebuah kata yang berasal dari bahasa arab qalbunyaitu anggota badan yang letaknya di sebelah kiri dada dan merupakan bagian terpenting bagi pergerakan darah. Dikatakan juga  hati sebagai qalb, karena sifatnya yang berubah-ubah.  Ibnul Qoyyim Al Jauziyah pernah mengatkan bahwa hati manusia terbagi dalam 3 kondisi:  Qalbun Salim  (hati yang sehat), Qalbun Mayyit  (hati yang mati) dan Qalbun Maridh (hati yang sakit). read more

02Jan/14

Budaya Ilmiah, Bukan Budaya Anti Golongan: Jamaah Shalahuddin UGM dengan Ormas-ormas di Jogjakarta Menggelar Bedah Buku

Sebuah kegiatan positif yang diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM yang bekerja sama dengan ormas-ormas di Jogjakarta. Kegiatan yang bernuansa ilmiah tersebut sudah selayaknya menjadi suatu budaya di dunia akademisi, yakni sebagai salah satu bentuknya dengan melakukan bedah buku. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin dengan ormas-ormas di Jogjakarta yaitu bedah buku yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” pada 15 Desember 2013 di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta. Buku yang telah diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, menjadi daya tarik tersendiri bagi aktivis Jama’ah Shalahuddin UGM dan Ormas lainnya untuk mengetahui lebih dalam isi buku tersebut. Kegitan tersebut mengundang narasumber Prof. Dr. Yunahar Ilyas sebagai perwakilan MUI Pusat sekaligus tim dari penyelesaian buku tersebut. Kemudian Dr. Muinudinillah, M. A. perwakilan dari Dewan Syariah Surakarta dan M. Zaitun Rasmin, Lc. M. A. dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), ketiga narasumber tersebut menjelaskan terkait dengan Syiah. Namun, penjelasan tersebut tidak memojokkan Syiah, hanya mengetahui dan membaca bagaimana pergerakan Syiah itu sendiri. Karena Jama’ah Shalahuddin menjaga bagaimana dan apa yang harus dilakukan di dalam dunia akademis. Sehingga suatu hal yang bersifat judgement terhadap salah satu golongan sangat dihindari karena dapat menjadikan disintegrasi sosial dalam kesatuan Indonesia, khususnya dalam masyarakat Jogjakarta.

16Des/13

Seni Menikmati Ujian Sakit

nikmat-Sakit

Seringkali manusia lalai dengan nikmat Alloh berupa sehat. Manusia sering lalai dengan sesuatu yang tak terasa menempel pada dirinya, termasuk sehat, nikmat yang keberadaannya sering tak dirasakan manusia. Padahal ia (sehat) melekat pada jasad yang aktivitasnya padat merayap. Sampai-sampai baru bisa merasakan nikmatnya tubuh kuat ketika sakit menggantikan sehat. Begitulah hidup, keberadaannya selalu berpasangan, ada sehat maka ada sakit. “sepandai-pandainya tupai melompat, ia pasti akan jatuh juga”. Sekuat-kuatnya manusia, ia tetaplah manusia yang memiliki titik lemah, pada saatnya ia akan jatuh sakit juga. Sakit datang ketika imunitas tubuh menurun sehingga sumber penyakit yang sejatinya sudah menempel di dalam tubuh mudah menyerang dan merusak kekebalan. read more

18Okt/13

Sebuah Pengantar Menuju Hikmah Idul Adha

sajadha1434h

Hidup adalah momentum. Momentum adalah deretan waktu yang pada saatnya nanti akan menjadi kenangan dalam hidup kita. Momentum dalam hidup kita dihadirkan agar selalu menjadi lebih baik dan itulah yang selalu diamanahkan oleh hidup.

“Ahsanu ‘Amala” (amal yang paling baik) itulah amanah hidup kita. Maksudnya, hidup tidak mengizinkan kita hanya menjadi orang baik tetapi hidup menuntut kita menjadi yang lebih baik untuk menuju kematian yang paling baik. Karena sebaik apa pun kita di dunia, akhirnya akan berujung pada kematian. Dan ujung dari yang “lebih” adalah yang “paling”. Kata “lebih baik” berujung pada “paling baik”.