Category Archives: Karya Seni

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini. read more

Menata Hati Sebelum Mati – Gerakan Menutup Aurat Internasional

air-mata-keinsafan

Manusia tak luput dari salah itu benar, namun jangan jadikan itu sebagai alasan tuk selalu berbuat kesalahan. Ketika berbuat kesalahan maka yang selalu dijadikan alasan yaitu manusia tak luput dari salah. Perfectional itu yang harus kita cari. Mengerjakan sesuatu dengan sempurna itu yang harus kita lakukan meski tidak akan pernah bisa sempurna.

Dan Allah tidak melihat kesempurnaanmu dalam menjalaninya namun Niat tulusmu yg disertai usaha untuk menjalankannya. karena engkau tidak bisa sempurna, maka biarkanlah Allah yg akan menyempurnakannya.

Zainab binti Jahsy Radhiallaahu’anha

mawar

Zainab binti Jahsy -Radhiallaahu’anha- “Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta’at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa. Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Rumahku

gubuk_derita

Tak semegah istanah Negara, tak seindah mahligai sang Raja. Hanya beratapkan Rumbia, berlantaikan tanah dan berdindingkan Anyaman bambu.

Jikalau hujan datang, aku kebasahan karena dedaunan rumbia yang mulai rapuh. Jikalau angin berhembus, aku kedinginan karena sulaman bambu dinding rumahku sedikit demi sedikit mulai patah. Meskipun begitu aku tetap bertahan untuk tinggal di situ. Setidaknya itu adalah rumahku. Rumah yang aku bangun oleh jerih payahku sendiri. Bukan dari hasil rampasan hak orang lain.