01Feb/19

Kolaborasi Cinta Surga

Oleh: Sri Mawar Aprilyanti dan Juli Fathonah (staf BSO Gadjah Mada Menghafal Qur’an)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 25). read more

14Jan/19

Pesan Al-Qur’an dalam Pemanfaatan Perikanan dan Kelautan untuk Kesejahteraan Umat Manusia

Oleh: Tiyang Alit

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An-Nahl [16] : 14).

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh manusia. Isi kandungan mencakup seluruh aspek mulai dari aqidah (keyakinan), ibadah (sembahyang), akhlak (perilaku) dan mu’amalah (sosial). Juga berisikan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk umat manusia dari sisi sejarah, alam semesta (astronomi), jual beli (ekonomi), pertanian hingga benda-benda mikroskopis, perihal perikanan dan kelautan tak terlepas pula mengenai kesejahteraan sosial dan kaitan-kaitannya. read more

14Jan/19

Setiap Hari Adalah Tahun Baru

Oleh: Rama Shidqi Pratama (Fakultas ISIPOL 2015)

Gegap gempita Tahun Baru 2019 sudah kita lewati beberapa hari lalu. Banyak yang mencoba mengenang masa-masa setahun ke belakang, dan berharap akan hal-hal yang baik dalam setahun ke depan. Namun, apakah yang disebut Tahun Baru selalu terjadi pada 1 Januari?

Ada banyak sekali kalender di dunia ini, dengan basis penanggalan yang beraneka rupa. Ada kalender Hijriyah, yang dipakai oleh umat Islam. Ada kalender Saka yang dipakai orang Hindu. Ada kalender Majusi yang dulu dipakai orang Persia. Ada kalender suku Aztec. Ada kalender Julian, yang menjadi kalender Masehi – sebelum dipresisikan ulang menjadi sistem Gregorian. Bahkan ada kalender Juche di Korea Utara, yang perhitungannya dimulai dari tahun Kim Il-Sung, pendiri negara itu lahir.
Ada yang berdasar pada perhitungan matahari atas bumi, seperti kalender Masehi. Ada juga yang berdasar pada perhitungan bulan atas bumi, seperti kalender Hijriyah dan kalender Jawa. Ada juga yang memadukan keduanya. read more

25Des/18

Geguyon Mring Gugon Tuhon (2): Intelektual dan Persatuan

Oleh: Raka Nur Wijayanto (FISIPOL 2013, Sekretaris Umum Jama’ah Shalahuddin UGM 1437 H)

“No doubt, unity is something to be desired, to be striven for,

but it cannot be willed by mere declarations.” (Theodore Bikel)

Mengeja Problematika

Lima tahun lalu, pada awal-awal keikutsertaan penulis di Jama’ah Shalahuddin, penulis pernah mengikuti acara Deklarasi Masyarakat Pecinta Sunnah di Masjid Kampus UGM yang salah satunya diinisiasi oleh Jama’ah Shalahuddin. Deklarasi ini bertujuan untuk menyatukan golongan-golongan umat Islam untuk cinta terhadap sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ. Namun, beberapa hari kemudian muncul penolakan dari sebagian pihak. KMNU UGM mengklarifikasi pencatutan nama lembaga mereka dan membantah keikutsertaaan mereka dalam deklarasi tersebut.[1] Pegiat Forum Persatuan Umat Beragama (FPUB) kecewa terhadap seminar dalam deklarasi tersebut karena kampus sebagai pusat komunitas intelektual seharusnya menyadari isu yang bertendensi anti terhadap golongan tertentu mudah menyulut konflik yang lebih luas yang membahayakan keutuhan bangsa.[2] Aktivis Jaringan Gusdurian Yogyakarta juga mengkritisi acara tersebut, menganggap bahwa seharusnya masyarakat dipancing dengan cara koeksistensi (mengenal, memahami, dan mau hidup bersama) dibanding melebarkan jurang perbedaan.[3] read more

16Des/18

Geguyon Mring Gugon Tuhon (1): Intelektual dan Independensi

Oleh: Raka Nur Wijayanto

“Unlike a drop of water which loses its identity when it joins the ocean, we don’t lose our being in the society in which we live. Our life is independent. We aren’t born for the development of the society alone, but for the development of ourselves. (B. R. Ambedkar)

Menertawai Indoktrinasi

Bagi penulis, Jama’ah Shalahuddin seperti buah manggis. Mencicipinya pertama kali terasa manis, tetapi seketika berubah pahit jika telah menggigit bijinya. Pada awalnya, penulis merasa senang mengikuti keseharian di Jama’ah Shalahuddin setelah mendapatkan pengetahuan dari kakak-kakak tingkat terkait komitmen dan konsistennya lembaga ini di jalan kebaikan. Namun, tidak ada produk hasil kreativitas manusia yang tanpa cacat dan tanpa celah. Bak meningginya mentari yang menyingkap lebih banyak gelap, penulis mulai menyadari beragam ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas. Salah satunya tentang konsep independensi yang didengungkan oleh para sesepuh, baik secara historis, struktural, maupun fungsional. read more