Category Archives: JS Menulis

Apa yang Sudah Kita Tinggalkan untuk Anak Cucu Kita?

Oleh Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syi’ar
Jama’ah Shalahuddin UGM

Akhir zaman semakin larut, dunia semakin menjauh meninggalkan kita, dan akhirat semakin dekat mengejar kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan utusan terakhir kepada manusia akhir zaman pun kini jaraknya sudah semakin jauh dari kehidupan kita. Akhir zaman akan terus berjalan, tetapi apa yang sudah kita wariskan untuk generasi kita selanjutnya? Mari sejenak kita renungkan sebuah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini: read more

Tole, Mitos Kaum Muslimin dan Idul Adha

Oleh Fakhirah Inayaturrobbani
Departemen Kajian Strategi Jamaah Shalahuddin

“Le, sini, mari duduk sejenak, Pakdhe kangen sekaligus punya cerita. Sambil kita nikmati sayup-sayup angin semilir di musim yang aneh ini, yang sejenak hujan deras sejenak kemudian panas menyengat.” Tole, sebutan sayang untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa. Anak laki-laki yang dimaksud itu pun mengangguk paham. Tanpa banyak bicara mulai mendekati pakdhe-nya tersebut.

“Sudah jamak didengar di telinga kita ya, Le. ‘Ah, kaum muslimin tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak fraksinya (seperti partai saja), terlalu banyak alirannya, di Indonesia saja banyaknya minta ampun, belum di luar negeri’.” Pakdhe mulai bercerita. Anak laki-laki yang dipanggil tole itu pun mendengarkan dengan takzim setiap kata yang terlontar dari pakdhe-nya. read more

Muslimahs Role as Peacemakers (1): An Introduction

Oleh Raka Nur Wijayanto (Sekretaris Umum Jamaah Shalahuddin)

“There is disconnection between Islam as an emancipatory faith, patriarchy’s denial of Muslim women’s right and pluralist society’s obsession with blinkered stereotypes of Muslim women; seeing them only as subjugated victims. Patriarchy on the one hand and secular/modern versus the religious/traditional debates on the other: in both cases the Muslim woman’s opinion was not sought. She was neither asked how she wanted to practise her faith, nor was she asked whether it oppressed her. Her story was left untold, her voice remain unheard.”

(Contractor. Sariya, Muslim Women in Britain: De-Mystifying the Muslimah, Routledge, London, 2012, p. 4)

Culmination Point

Aleppo Membara: Saatnya Umat Bersatu

Oleh Khusnul Khotimah

Satu pekan telah berlalu pasca serangan udara 27 April 2016 oleh Rezim Assad dan anteknya Rusia yang menyasar wilayah Aleppo, Suriah. Alih-alih mengatakan, jika serangan ini ditujukan kepada kelompok oposisi, tetapi justru serangan ini diluncurkan kepada masyarakat sipil, yang menyasar ke pasar-pasar, apartemen dan rumah sakit anak-anak. Akibatnya sekitar 400 orang lebih mengalami luka-luka dan 200 orang lebih lainnya meninggal dunia. Bukan hanya itu, tempat tinggal, rumah sakit, pasar dan stasiun juga mengalami kerusakan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah islam salat Jumat dihentikan, karena khawatir akan menjadi sasaran serangan selanjutnya.
Sungguh ironis, di tengah-tengah kondisi yang seperti ini, justru negeri-negeri muslim baik di Timur tengah maupun di seluruh dunia, termasuk Indonesia tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka. Di manakah letak ukhuwah kita? Bukankan kita umat Islam adalah satu? Seperti sabda Rasulullah SAW: read more

Menautkan Hati di Senja yang Redup

Oleh Ima Kusumawati, Manajer Dosha 1437 H

Waktu menunjukkan pukul 06.30. Seseorang telah berpakaian rapi menuntun motor menuju halaman rumah. Dari belakang diikuti sesosok gadis kecil yang menggunakan jilbab putih, berbaju putih, dan memakai rok panjang warna merah. Sang ibu melambaikan tangan tanda melepaskan suami dan anaknya untuk beraktivitas pagi ini. Suasana pagi yang masih sedikit berkabut menambah kesejukan kampung ini. Para petani sudah berinteraksi dengan lumpur di sawah. Bapak/Ibu guru sudah berdiri di depan gerbang sekolah menyambut anak-anak didiknya. Di pasar sudah ramai para pedagang dan pembeli saling menawar untuk mendapatkan barang yang ingin dibeli. Suasana ini saya rasakan di kampung saya. Setiap pagi hingga menjelang senja tiba, semua orang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. read more

Pernyataan Sikap JS “TERORISME DAN PENANGGULANGANNYA DI INDONESIA”

‘Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (T.Q.S. Al-Maidah [5] : 8)

 

PERNYATAAN SIKAP JAMA’AH SHALAHUDDIN

33/HK.10.1d/Kastrat/JS/IV/2016

TENTANG TERORISME DAN PENANGGULANGANNYA DI INDONESIA read more

Memupuk Ghirah dan Upaya Restorasi Akhlak

Memupuk Ghirah dan Upaya Restorasi Akhlak

Oleh : Fadhli

(Mahasiswa Jurusan Tafsir UIN Sunan Kalijaga & Staff Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM 2015)

     Pergeseran paradigma pergaulan yang oleh Hamka disindir dengan international minded telah banyak mengubah cara berinteraksi masyarakat Indonesia di era modern. Tatanan pergaulan di barat sedikit banyaknya telah berperan aktif mengubahnya secara bertahap. Perlahan Umat Islam terus kehilangan ghirahnya sebagai umat yang beradab, umat yang memiliki harga diri, menjaga kehormatan diri dan keluarga beserta agamanya. Seperti yang telah dijelaskan Hamka, international minded ini terus memaksa kita bertingkah bebas, kebebasan yang keblablasan tepatnya. Orang-orang harus merelakan adik-kakak perempuannya dibawa laki-laki yang tak dikenal hingga larut malam. Orang-orang harus merelakan pinggang suami/istrinya dipegang oleh tamu-tamu setan yang bisa jadi tamu tersebut adalah teman mereka sendiri. Bahkan harus berlapang dada walau dia berdekapan dada dengan orang yang bukan mahramnya. read more

“Masjid Imajinatif”, Salah Satu Perwajahan Gelanggang Mahasiswa UGM

Masjid Imajinatif”, Salah Satu Perwajahan Gelanggang Mahasiswa UGM

Oleh Fajar Hamid -Tim Gelanggang 2012-

Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam seperti salat, i’tikaf, maupun ibadah-ibadah lainnya. Secara bahasa masjid berasal dari kata يسجد – سجد (sajada-yasjudu) yang arti sujud. Dan kata المسجد termasuk pengembangan dari kata يسجد–سجد. Sebagai tempat ibadah ada etika-etika yang harus diterapkan di dalam masjid. Seperti salat tahiyatul masjid. Salat ini merupakan wujud penghormatan kepada masjid yang dilakukan sebanyak dua rakaat. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia salat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714). read more

“Does Homosexual good or bad ?”

Does Homosexual good or bad? Accepted or unaccepted?

-Fakhirah I. (Staff of Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM 2015)-

The disclosure of homosexuality reaches the peak as the US prime court legalized same sex marriage in all US federation state. However, if we trace the history, we will find that being homosexual is still criticized in many cultures around the world. Moreover, a number of countries still reluctantly accept homosexuality as a normal behavior, including Indonesia. However, since secularism and liberalism comes to the body of our society, it changes our mind and behavior, and the impact is lots of deviant movements dare to show their teeth, such as LGBT. read more

X