22Okt/18

Dunia Shafeera Chapter 2: Impian yang Tertolak

Dunia Shafeera: Chapter 2

Hari baru. Hari yang baru di tempat yang masih terasa asing bagiku. Telah 2 bulan terlewat sejak terikrarnya janji suci bahwa aku adalah istrinya, dan dia adalah suamiku. Harus aku akui, tidak semuanya seburuk yang aku bayangkan. Setidaknya dia mencukupiku, dan aku pun mencukupinya. Rumah ini adalah rumah mereka yang memiliki harta berlebih, setiap orang yang memasukinya pasti betah dan ingin berlama-lama. Berbeda dengan diriku dan hatiku, yang masih merasa bahwa tempat ini bukanlah milikku.

Setiap pagi ia bangun dan langsung bergegas ke tempat kerja. Bersiap, berbersih, berbenah. Sebagai istri aku hanyalah seorang fasilitator, dan dia yang mempersiapkan dirinya sendiri. Ia tak banyak bicara, tetapi setelah 2 bulan aku mulai hafal dengan ritmenya. read more

18Okt/18

Dunia Shafeera Chapter 1: Akad Tanpa Harap

Dunia Shafeera: Chapter 1

Permulaan. Apakah permulaan selalu berawal dari hal-hal yang baik? Yang kutahu, permulaan itu seperti bagaimana waktu pagi bertandang. Semburatnya yang memancarkan rona keceriaan berpadu padan dengan kehangatan. Dalam harap yang tiada pernah senyap. Dalam sekumpulan detik yang terus berbisik. Berbisik kepada seorang diri ini, yang tak akan mampu menampik sekawanan realita, yang kini tengah membentang sepanjang sisa usia. Lagi dan lagi, ia terus saja mengusik. Baru saja perjumpaan dan perpisahan telah bersepakat. Sedang ‘ketakutan’ tengah tertengadah sembari mendambakan sang ‘keberanian’ akan menjemputnya. read more

17Okt/18

Melihat Kebhinekaan dalam Jama’ah Shalahuddin

Oleh: Fakhirah Inayaturrobbani

Pengantar

Jama’ah Shalahuddin (JS) merupakan lembaga dakwah kampus (LDK) intra kampus tingkat universitas yang diakui secara legal oleh Universitas Gadjah Mada. Suasana multikultural terasa kental di organisasi ini, sebab anggotanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, secara sadar JS meletakkan kemajemukan menjadi modal dasar organisasi yang dicantumkan dalam pasal D. Modal Dasar Gerak Dakwah Jama’ah Shalahuddin (Jamaah Shalahuddin, 2015).

Menariknya, selain keberagaman asal suku dan budaya, dalam tubuh Jamaah Shalahuddin juga terdapat berbagai corak pemikiran Islam yang berbeda-beda dari tiap-tiap anggotanya. Hal ini dapat disebabkan, tidak sedikit anggota JS yang bergabung dengan organisasi mahasiwa baik ke-Islaman maupun umum esktra kampus UGM.  Perbedaan corak pemikiran ini dapat didasari oleh pandangan fiqih hingga implementasi syariah yang berbeda. Sehingga, mempunyai konsekuesi logis menimbulkan perbedaan pendapat dalam memandang titik penyelesaian masalah. Pada essai kali ini saya akan fokus pada keragaman corak pemikiran Islam di tubuh JS dan bagaimana JS menghadapinya. read more

17Okt/18

Islam Dulu, Feminisme Belakangan

Oleh: Farahita Nandini


Merebaknya Ide Feminisme di Indonesia

Peristiwa Women March yang diselenggarakan pada tanggal 20 Januari 2017 lalu adalah salah satu momentum yang membuat saya berpikir kembali, apakah jika perempuan terus-terusan menuntut hak-hak mereka, maka semua hal tersebut akan terwujud? Apakah semua permasalahan perempuan sudah ‘selesai’ jika tuntutan mereka dikabulkan? Lalu, apa lagi setelah itu?

Hari ini, wacana feminisme sangat laku di Indonesia. Merebaknya paham dan gerakan yang berlandaskan atas dasar tercapainya hak-hak perempuan ini, tak lepas dari peranan pergeseran sistem politik pasca reformasi. Era Orde Baru adalah zaman pengekangan, bahkan segala komunitas yang bertentangan dengan arah gerak pemerintahan –termasuk bagaimana perempuan berpenampilan diatur sangat ketat.[1] Namun, sejak memasuki era reformasi, feminisme mendapatkan tempatnya seiring masifnya pertukaran pemahaman secara bebas. read more

13Sep/18

Berhijab Syar’i: Sebuah Jalan Memaknai Kehidupan

Oleh: Virta Attirah Damananda
Kemuslimahan JS UGM

Saya adalah seorang muslimah. Apa makna dari pernyataan tersebut? Makna dari pernyataan tersebut adalah bahwa saya ber-istislam, alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apa maksud dari “berserah sepenuhnya”? Maksudnya adalah bahwa saya meyakini kalau hanya Allah-lah yang sejatinya berkuasa atas alam semesta ini–Dialah yang menciptakan dan mengatur segalanya, termasuk diri saya sendiri. Alhasil, konsekuensi dari keyakinan tersebut adalah terposisikannya diri saya sebagai seorang hamba dan Allah sebagai Tuhan. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap seorang hamba terhadap Tuhannya? Sikap seorang hamba yang tepat terhadap Tuhannya adalah sepatutnya ia menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. read more