Category Archives: JS Menulis

Geguyon Mring Gugon Tuhon (1): Intelektual dan Independensi

Oleh: Raka Nur Wijayanto

“Unlike a drop of water which loses its identity when it joins the ocean, we don’t lose our being in the society in which we live. Our life is independent. We aren’t born for the development of the society alone, but for the development of ourselves. (B. R. Ambedkar)

Menertawai Indoktrinasi

Bagi penulis, Jama’ah Shalahuddin seperti buah manggis. Mencicipinya pertama kali terasa manis, tetapi seketika berubah pahit jika telah menggigit bijinya. Pada awalnya, penulis merasa senang mengikuti keseharian di Jama’ah Shalahuddin setelah mendapatkan pengetahuan dari kakak-kakak tingkat terkait komitmen dan konsistennya lembaga ini di jalan kebaikan. Namun, tidak ada produk hasil kreativitas manusia yang tanpa cacat dan tanpa celah. Bak meningginya mentari yang menyingkap lebih banyak gelap, penulis mulai menyadari beragam ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas. Salah satunya tentang konsep independensi yang didengungkan oleh para sesepuh, baik secara historis, struktural, maupun fungsional. read more

Dunia Shafeera Chapter 5: Pengungkapan

Dunia Shafeera: Chapter 5

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menelepon Ibu, kerap kali, ialah yang meneleponku. Bukannya aku benci berbicara dengannya… hanya saja, aku tidak ingin Ibu menyadari ketidakharmonisanku dan suamiku melalui pertukaran informasi yang terlalu banyak. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Oleh karena itu, aku menahan diri dari berkabar kepada Ibu, kecuali bila ia mempersoalkan diriku yang akhir-akhir waktu jarang meneleponnya. Sore itu, ponselku kembali berdering, memampangkan dengan jelas bahwa yang sedang berusaha untuk menghubungiku adalah Ibu. Sambil mempersiapkan mental serta jawaban-jawaban yang sudah seharusnya aku berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan terlontar, aku pun mengangkatnya. read more

Teruntuk Agni

Berita itu sampai kepadaku dengan cara yang kurang lebih sama dengan cara ia sampai kepada orang lain. Di siang hari yang terasa begitu panjang itu, aku memutuskan untuk rehat sejenak dari rutinitas dan membuka media sosialku. Kubuka timeline dan aku pun melihat video-video lawakan yang tidak berhasil menaikkan mood-ku, kritikan yang senantiasa diluncurkan terhadap pemerintah, lantas kemudian tertegun sejenak. “Apa ini?” Sebuah berita yang berbeda dari biasanya. Aku pun membuka tautan tersebut dan cukup terkejut saat membaca kontennya. Berita itu mengulas mengenai kejadian menyedihkan yang telah terkubur setelah setahun lamanya. Tentang seorang gadis bernama samaran Agni, yang harus dengan mandiri memperjuangkan keadilan terhadap kasus pemerkosaan yang dialaminya. read more

Negara Agraris Kita Apa Kabar?

Oleh: Rohmatul Ummah (Kepala Departemen Kemuslimahan JS 1439 H)

Aku tertegun. Sebenarnya aku tidak dapat mendefinisikan apa yang ada, tapi setidaknya seperti itulah kira-kira rasanya… takjub, kagum, namun di sisi lain ada rasa sedih yang terselip, ada rasa duka yang terasa jadi luka. Kamu tau apa? Sudah tahu dari judulnya, bukan? Ya, ini tentang negara kita. Negaraku… negaramu… negara kita. Indonesia.

The number of farmers age 25 to 34 grew 2.2 percent between 2007 and 2012, according to the 2014 USDA census, a period when other groups of farmers — save the oldest — shrunk by double digits. In some states, such as California, Nebraska and South Dakota, the number of beginning farmers has grown by 20 percent or more. read more

Dunia Shafeera Chapter 4: Kekuatan Baru

Dunia Shafeera: Chapter 4

Perempuan mana yang ingin berada di posisiku saat ini? Aku yakin, tidak ada satupun yang mau. Aku tidak tahu lagi harus dibawa kemana arus hubunganku bersama suamiku setelah insiden-insiden yang telah berlalu. Bak berusaha untuk menyatukan kembali ornamen gelas yang telah pecah, hancur berkeping-keping hingga menjadi butiran kaca. Berdarah-darah, dengan hasil yang tidak akan pernah jelas.

Untuk kedua orang tua kami, kami bertahan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi itulah satu-satunya hal yang menjaga rumah tangga kami dari keruntuhan. Semakin hari, rasanya semuanya semakin berat. Sekedar saling tatap saja menjadi beban yang tidak bisa kami pikul. Semakin jelas bagiku, bahwa pernikahan bukanlah dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang dianggap remeh; seremeh sekedar memilih ia yang menyenangkan hatimu, atau hati orang tuamu. Parameternya harus lebih absolut dari itu, sebab pasanganmu sungguh menentukan baik atau tidaknya hidupmu. read more