Category Archives: JS Menulis

Refleksi Jum’at Edisi I “Hakikat Niat, Ikhlas, dan Kesungguhan”

Refleksi Jum’at
Edisi I

“Hakikat Niat, Ikhlas, dan Kesungguhan”

Orang yang ikhlas tak dimotivasi oleh pengharapan akan pujian. Orang yang ikhlas beramal, berkarya dan berbuat dengan kesungguhan hanya akan termotivasi oleh-Nya. Meski demikian, bagi orang yang bisa memahami, motivasi yang satu bisa melahirkan beberapa niat baik yang berbeda dari amal yang satu. Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali atau yang sering kita kenal Imam Ghazali menjelaskan ini dalam satu bab pada kitabnya, Mukhtashar Ihya’ Ulum al-Din.

Sebagai pembelajar, apapun status kita, baik pelajar, mahasiswa, santri ataupun pengemban dakwah sudah seyogyanya kita selesai dengan pemahaman ini. Al Ghazali coba memaparkan ini dalam penjelasan ‘Hakikat Niat’.

“Islam Memandang Pembangunan Kota”

“Islam Memandang Pembangunan Kota”
Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM 1436 H/2015 M

         Yogyakarta adalah kota istimewa. Dan merupakan kota yang masih mempertahankan sistem kerajaan di Indonesia. Di setiap zamannya Yogyakarta telah mengalami perubahan yang sangat banyak, baik itu yang disukai maupun tidak disukai. Di mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada abad 21 ini pun mengalami banyak perubahan.

Melihat pada tahun 2014 ini, banyak perubahan suasana di Yogyakarta itu sendiri, seperti munculnya gedung – gedung hotel, gedung – gedung apartemen, mall – mall, dan lain – lain. Di kemunculan itu menuai banyak tanggapan dari masyarakat, baik yang menerima maupun yang menolak. Adapun mereka yang menerima menyambut baik dengan adanya hal tersebut. Karena mereka menganggap akan bermanfaat bagi mereka yang menerima saja. Sedangkan yang menolak mereka beranggapan bahwa akan mengganggu lingkungan mereka di karenakan banyak hal yang akan hilang dari mereka, salah satunya yakni akan berkurasnya kapasitas air.

Haji Oemar Said Tjokroaminoto: Guru Sang Penggerak

H.O.S TJOKROAMINOTO

GURU PARA PENGGERAK

Oleh : Fakhirah Inayaturrobbani -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

” Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid , sepintar-pintar siasat…”

Ia terdiam sejenak menatap seluruh muka para hadirin, lalu kembali melanjutkan, ”…Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang disebabkan hanya karena susu. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya adalah penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri… tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita, mengatur hidup kita tanpa partisipasi kita….”[1]

Ribuan peserta vargedering perdana Sarekat Islam menyimak dengan seksama sebuah orasi yang disampaikan oleh seorang pemuda berperawakan sedang namun bersuara baritone yang berat dan besar itu. Tanpa bantuan pengeras suara sekalipun, suaranya mampu menggema ke seluruh ruangan sekaligus menyusup ke dalam hati para peserta vargadering kongres perdana Sarekat Islam di Bandung (1912).

Islamisasi Ilmu: Sebuah Tantangan Sekularisasi Ilmu di Dunia Barat

Islamisasi Ilmu: Sebuah Tantangan Sekularisasi Ilmu di Dunia Barat

Oleh: Najmi Wahyughifary -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

            Pendahuluan

            Permasalahan peradaban selalu berkaitan erat dengan permasalahan bangunan filsafat dan ilmu yang mendasari sebuah peradaban. Filsafat Barat telah melalui fase-fase poros pemikiran yang silih berganti baik berpaham kosmosentris, antroposentris, teosentris sampai kembali lagi ke antroposentris. Filsuf-filsuf Barat mengklaim Renaissance sebagai kelahiran kembali pemikiran filsafat Yunani Kuno dengan berbagai macam tokohnya baik Plato dan Aristoteles serta lainnya. Filsafat Barat mengalami sebuah gejolak besar yang disebut sebagai revolusi ilmiah (scientific revolution) yang ditandai dengan adanya zaman Renaissance dan Aufklarung. Renaissance yang terjadi pada abad ke-16 dimaknai sebagai kelahiran kembali peradaban Yunani-Romawi. Pelopor-pelopornya disebut “humanis”

Prof. Dr. H.M. Rasjidi: “Pertahankan Pemikiran Islam Dari Pengaruh Dunia Barat”

Prof. Dr. H.M. Rasjidi

“Pertahankan Pemikiran Islam Dari Pengaruh Dunia Barat”

Oleh Rahma Nurdiyanti -Departemen Kajian Strategis JS UGM-

Dunia pemerintahan Indonesia pernah dihiasi oleh seorang cendekiawan muslim yang kritis dan berani mengkritisi pemikiran kawan nya. Prof. Dr. HM. Rasjidi, lahir di Kotagede Yogyakarta 20 Mei 1915, merupakan sarjana Cairo Mahasiswa Indonesia pertama. Ia juga  menteri agama pertama di Indonesia mulai 3 Januari 1946 hingga 2 Oktober 1946. Ia pun pernah menjadi Ketua Diplomatik RI pertama yang mengikuti utusan diplomatik Mesir ke Yogyakarta. Pada akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir pada 30 Januari 2001

Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

Oleh : Egi Fajar Mauludy

Departmen Kajian Strategis Jamaah Shalahuddin UGM

Siapa tak kenal Buya HAMKA (1980 – 1981) atau Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah? Dengan beberapa karyanya yang fenomenal hingga kini. Siapa para kalangan muda dizaman sekarang yang tidak mengenal romannya, Tenggelamnya kapal van der wijck? Dibawah lindungan ka’bah?

Beliau di lahirkan di Sungai Batang Maninjau (Sumatera Barat) pada 16 Februari 1908 (13 Muharram 1326 H) dari kalangan keluarga yang taat beragama. Ayahnya ulama terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, pembawa paham-paham pembaharuan Islam di Minangkabau.[1]

“Ki Bagus Hadikusumo dan Pergulatan Sila Pertama”

“Ki Bagus Hadikusumo dan Pergulatan Sila Pertama”
Oleh Hijrauly Albebian
(Departemen Kajian Strategis JS UGM)

“dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya, satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan keputusan rakyat, serta luas dan lapang dada, tidak memaksa tentang agama. Jika tuan-tuan benar-benar menginginkan keadilan, kerakyatan, dan toleransi, maka dirikanlah pemerintah ini atas dasar Islam, karena Islam mengajarkan masalah tersebut. Allah berfirman dalam surat an-9Nahl 90, an-Nisa 5, Ali Imran 159, asy-Syura 38, dan Al-Baqarah 256.”
Teks diatas adalah salah satu petikan pidato Ki Bagus Hadikusumo saat sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, sebagai tanggapan atas pidato kelompok kebangsaan tanggal 29, 30, dan 31 Mei (pagi). Teks pidato ini memang tidak dijumpai di kebanyakan buku-buku teks yang biasanya mengutip dari dokumen negara susunan Muhammad Yamin.
Latar Belakang Ki Bagus Hadikusumo
Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu founding fathers yang sangat teguh ingin menjadikan ajaran Islam sebagai dasar negara. Beliau bersikeras dengan pendiriannya untuk tidak mengganti bunyi 7 kata dalam piagam Jakarta sebagai dasar negara kita, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Beliau meyakini, Islam adalah harga mati untuk Indonesia.
Keteguhannya dalam menyerukan ajaran Islam menjadi dasar negara Indonesia didasari oleh latar belakang beliau. Lahir dari golongan priyayi, sejak kecil Hidayat atau Raden Dayat (nama kecil Ki Bagus Hadikusumo) sudah terbiasa dengan tradisi Islam. Ayah beliau, Raden Kaji Lurah Hasyim yang berprofesi sebagai abdi dalem pamethakan (jabatan dalam keraton di bidang agama Islam) membuatnya memperoleh pendidikan yang baik. Meskipun untuk pendidikan umum beliau hanya sampai kelas tiga sekolah dasar, karena beliau lebih tertarik dengan pendidikan agama. Beliau memilih Pondok Pesantren Wonokromo Yogyakarta untuk menimba ilmu agama.
Selain itu lingkungan Kauman, Yogyakarta memberinya banyak kesempatan untuk dapat belajar langsung dengan ulama-ulama hebat. Pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan adalah seorang guru fikihnya. Khasanah keilmuan Islamnya juga bertambah lantaran kegemarannya membaca karya-karya ahli agama Timur Tengah seperti Ibnu Taimiyah, Imam Syafii dan Al Ghazali. read more

ABDUL ROZAQ FAKHRUDDIN “DA’I, PEMIMPIN DAN RAKYAT KECIL”

ABDUL ROZAQ FAKHRUDDIN
“DA’I, PEMIMPIN DAN RAKYAT KECIL”

Sandea Yahya Angkasa
(Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin)

Kyai Haji Fakhruddin adalah seorang lurah naib (penghulu) di Pura Pakualaman Yogyakarta. Penghulu inilah yang nantinya mempunyai anak yang akan menjadi ‘orang besar’ nantinya. Beliau dipilih menjadi penghulu karena memang mempunyai ilmu agama yang sangat mendalam, hingga seorang tokoh besar Indonesia seperti HAMKA pernah menjadi muridnya. Kyai Haji Fakhrudin mempunyai istri yang bernama Siti Maemunah binti KH Idris Pakualaman. Mereka berdua mempunyai sebelas anak. Diantara sebelas anak tersebut, yang paling dikenal seluruh Indonesia adalah anak ketujuh, yaitu Abdul Rozaq Fakhruddin.
Abdul Rozaq Fakhruddin atau yang biasa dipanggil Pak AR, lahir pada 14 Februari 1916 di Clangap, Purwanggan, Pakualaman, Yogyakarta, 4 tahun kurang semenjak berdirinya Muhammadiyah. Pada tahun 1923, Pak AR kecil masuk ke sekolah formal di Standaardschool (SD) Muhammadiyah Bausasran Yogyakarta. Dahulu kebanyakan warge masyarakat, terlebih masyarakat desa, menimba ilmu kepada seorang Kyai. Waktu hanya masyarakat kota kaya saja yang banyak masuk sekolah formal. Namun, jika di daerah tersebut sudah ada sekolah Muhammadiyah, kebanyakan masyarakat bersekolah di Muhammadiyah, selain karena biayanya terjangkau, juga karena memang sekolah Muhammadiyah diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Masa kecil Pak AR sama seperti kehidupan anak – anak biasa ketika itu. Bersekolah di Standaardschool Muhammadiyah, sempat cuti sekolah, dan belajar di pondok. Ketika menginjak kelas 3, beliau diajak pulang oleh orang tuanya pulang ke desa leluhurnya di Bleberan, Brosot, Galur, Kulon Progo, karena KH Fakhruddin telah pension dari jabatan penghulu dan juga karena usaha batiknya yang jatuh.
Tak lama setelah Pak AR diajak pulang oleh orang tuanya, beliau kembali lagi ke kota Yogyakarta dan tinggal bersama salah seorang kakaknya yang bernama Zuhriyah di Kota gede. Pada tahun 1926, Pak AR melanjutkan sekolahnya di Standaardschool Muhammadiyah Penggan, Kotagede, Yogyakarta. Beliau melanjutkan sekolahnya walaupun di tempat yang berbeda. Di sana beliau sekolah hingga lulus kelas 5 pada tahun 1928. Dulu SD Muhammadiyah atau SD pada umumnya pendidikannya hanya sampai kelas 5, berbeda dengan sekarang yang pendidikannya sampai kelas 6.
Setelah lulus hinnga kelas 5 dari Standaardschool Muhammadiyah, Pak AR melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Namun beliau hanya menempuh hingga duduk di kelas 2 Mu’allimin, karena ayahnya memanggil beliau pulang ke desanya dan meminta mengaji (menimba ilmu agama) saja. Di sana beliau mengaji kepada dua kyai ternama di desanya saat itu, yaitu KH Abdullah Rosad, KH Abu Amar, dan kepada KH Fakhruddin, ayahnya sendiri.
Masa kecil Pak AR sudah diisi dengan menimba ilmu agama. Tidak heran jika berkunjung di rumahnya banyak dijumpai buku – buku. Lalu masa kecilnya sudah banyak mempelajari kitab – kitab kuning, walaupun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Namun beliau berguru kepada orang – orang yang belajar di Timur Tengah, contohnya ayahnya sendiri KH. Fakhruddin.
Menurut Sukriyanto AR , Pak AR belajar setiap pagi hingga siang hari selama beberapa bulan. Menurut Pak AR di antara kitab agama yang dipelajari dengan metode sorogan pada tiga kyai tersebut adalah Matan Takrib, Syarah Takrib, Qatrul Ghaits, Jurumiyah dan kitab – kitab lainnya. Sementara di setiap hari itu sesudah Maghrib hingga pukul 9 malam, beliau diminta belajar di Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.
Pak AR kecil yang hanya anak biasa yang pernah cuti selama pendidikannya dapat mempelajari berbagai kitab – kitab kuning yang belum tentu bisa dipelajari oleh banyak orang dalam waktu yang singkat. Ini dikarenakan faktor lingkungannya yang membentuk Pak AR menjadi orang yang paham agama di waktu muda. Di tambah pula keluarganya yang paham tentang agama dan selalu bertaqwa kepada Allah. Dari semua itu membentuk akhlak seorang Pak AR. read more

Memahami Politik Standar Ganda

Prolog

Sebuah alur permasalahan tersirat dalam pikiran setelah kami mendengarkan apa yang tertulis di kartu-kartu tersebut. Pembangunan tempat pendidikan yang tidak optimal serta kerusakan alam di hulu sungai merupakan beberapa identifikasi masalah yang tertangkap di dalam kartu-kartu yang kami dapat secara acak pada misi sebelumnya. Di antara dinginnya gerimis yang membasahi tubuh kami serta kesunyian yang terekam di jajaran bukit tempat kami berpijak, terasa kehangatan suasana dari lisan-lisan individu yang berbicara di dalam kelompok. Beberapa teman berpendapat bahwa kerusakan hutan merupakan kunci permasalahan dalam cerita tersebut. Ada yang menambahkan bahwa kerusakan alam merupakan salah satu kesalahan besar yang dibuat oleh manusia di muka bumi ini yang mana menyalahi kodrat mereka sebagai khalifah. read more

“Mencari Sekeping Hati yang Hilang”

heartRasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan Jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.”

 (Muttafaq ‘alahi).

                HATI, sebuah kata yang berasal dari bahasa arab qalbunyaitu anggota badan yang letaknya di sebelah kiri dada dan merupakan bagian terpenting bagi pergerakan darah. Dikatakan juga  hati sebagai qalb, karena sifatnya yang berubah-ubah.  Ibnul Qoyyim Al Jauziyah pernah mengatkan bahwa hati manusia terbagi dalam 3 kondisi:  Qalbun Salim  (hati yang sehat), Qalbun Mayyit  (hati yang mati) dan Qalbun Maridh (hati yang sakit). read more

X