29Mar/17

Islam dan Nasionalisme

Pendahuluan

Pada akhir tahun 2016 lalu , bangsa Indonesia diwarnai dengan berbagai aksi yang terjadi di beberapa kota Indonesia seperti Yogyakarta, Padang, Bandung dan sebagainya. Aksi ini bermunculan ketika video Basuki Tjahya Purnama yang sedang berpidato di Kepulauan Seribu menjadi viral di sosial media. Dalam video tersebut yang diunggah oleh saudara Buni Yani pada tanggal 6 Oktober 2016 terlihat bahwa saat berpidato calon gubernur DKI Jakarta ini menyebut kata-kata yang berpotensi menimbulkan reaksi umat Islam karena dianggap sebuah penistaan terhadap alquran. Basuki Tjahya Purnama atau biasa disapa Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 tentang umat Islam dilarang mengangkat nasrani dan yahudi sebagai pemimpin, kasus tersebut diproses oleh Polri hingga akhirnya puncak aksi umat Islam terjadi pada 4 November 2016 atau yang dikenal dengan aksi 411 yang berawal di Masjid Istiqlal kemudian mobilisasi ke Istana Negara, aksi ini diikuti oleh sekitar 2 juta umat Islam dari seluruh Indonesia . Massa aksi memberi waktu 2 minggu kepada pihak berwajib agar segera menindaklanjuti kasus tersebut, batas waktu yang diberikan ternayata tidak memberi progres dari kasus penistaan sehingga aksi yang lebih besar terjadi pada 2 Desember 2016 dengan massa aksi sekitar 7 juta orang berkumpul memenuhi lapangan Monas hingga sepanjang jalan disekitarnya (news.liputan6.com, 2016). read more

11Nov/16

Sabar: Cabang Keimanan dan Penyempurna Tauhid

Oleh: Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syiar

Dalam hidup ini, seringkali kita diingatkan untuk sabar. Namun, seringkali hal itu mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan. Secara bahasa, sabar berasal dari kata al habsu, yang berarti menahan. Secara istilah syariat sabar berarti menahan jiwa di atas ketaatan kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah, salah seorang ulama membagi sabar menjadi 3 bagian macam1, yakni:

1.Sabar di Dalam Ketaatan kepada Allah read more

17Sep/16

Apa yang Sudah Kita Tinggalkan untuk Anak Cucu Kita?

Oleh Yarabisa Yanuar
Departemen Pelayanan dan Syi’ar
Jama’ah Shalahuddin UGM

Akhir zaman semakin larut, dunia semakin menjauh meninggalkan kita, dan akhirat semakin dekat mengejar kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan utusan terakhir kepada manusia akhir zaman pun kini jaraknya sudah semakin jauh dari kehidupan kita. Akhir zaman akan terus berjalan, tetapi apa yang sudah kita wariskan untuk generasi kita selanjutnya? Mari sejenak kita renungkan sebuah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini: read more

11Sep/16

Tole, Mitos Kaum Muslimin dan Idul Adha

Oleh Fakhirah Inayaturrobbani
Departemen Kajian Strategi Jamaah Shalahuddin

“Le, sini, mari duduk sejenak, Pakdhe kangen sekaligus punya cerita. Sambil kita nikmati sayup-sayup angin semilir di musim yang aneh ini, yang sejenak hujan deras sejenak kemudian panas menyengat.” Tole, sebutan sayang untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa. Anak laki-laki yang dimaksud itu pun mengangguk paham. Tanpa banyak bicara mulai mendekati pakdhe-nya tersebut.

“Sudah jamak didengar di telinga kita ya, Le. ‘Ah, kaum muslimin tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak fraksinya (seperti partai saja), terlalu banyak alirannya, di Indonesia saja banyaknya minta ampun, belum di luar negeri’.” Pakdhe mulai bercerita. Anak laki-laki yang dipanggil tole itu pun mendengarkan dengan takzim setiap kata yang terlontar dari pakdhe-nya. read more

05Sep/16

Muslimahs Role as Peacemakers (1): An Introduction

Oleh Raka Nur Wijayanto (Sekretaris Umum Jamaah Shalahuddin)

“There is disconnection between Islam as an emancipatory faith, patriarchy’s denial of Muslim women’s right and pluralist society’s obsession with blinkered stereotypes of Muslim women; seeing them only as subjugated victims. Patriarchy on the one hand and secular/modern versus the religious/traditional debates on the other: in both cases the Muslim woman’s opinion was not sought. She was neither asked how she wanted to practise her faith, nor was she asked whether it oppressed her. Her story was left untold, her voice remain unheard.”

(Contractor. Sariya, Muslim Women in Britain: De-Mystifying the Muslimah, Routledge, London, 2012, p. 4)

Culmination Point