04Mei/10

Matahariku

pagi

Matahariku

Sebenarnya ku ingin kau selalu menyinari hari-hariku

Tapi aku mengerti kau juga harus pergi

Tuk memberikan kehidupan di belahan yang lain

Dan jiwa yang lain sangat mengharapkan kehadiranmu

Aku tau

Jika kau tak pergi

Maka aku tak akan pernah bisa

Memandang indahnya bintang dan tenangnya cahaya bulan

Merasakan sapuan lembut angin malam

Lalu memejamkan mata tuk menantimu esok hari

22Apr/10

Atas Kursi Rotan

rotan

Selepas isyak segera ku kembali ke kontrakan. Jalan- jalan sempit sepanjang gang, redup dengan temaram lampu kuning Kota Semarang. Tak ubah Semarang di zaman Belanda, penjajah yang merontakan rakyat kita. Masjid Ar Rahman berjarak 600 meteran dari kontrakan. Kontrakan mahasiswa tua, betapa tidak hampir semua yang tinggal di sana adalah yang menunggu dengan tenang ujian pendadaran. Begitu juga denganku, rencana bulan mei ujian pendadaran akan datang. Semoga keinginan ini segera terwujud, dan dapat kembali ke dunia sesungguhnya.

Agenda hidupku tidak pernah berucap, bahwa aku akan menjadi mahasiswa IAIN seperti saat ini. Apalagi IAIN Walisongo, terlebih Jurusan Tarbiyah. Melihat sejarah yang telah ku lewati masa lalu. Keonaran dalam tingkah laku semasa remaja SMA membuat ngiris untuk mengingatnya. Meski masih dimaklumi namun kadang membikin hati menangis pedih bak teriris. Masa kelam penuh penyesalan kini.

18Apr/10

Dan Gunung Bertasbih Kepada-Nya

gunung

Suatu saat, ditengah perkuliahan, dosen saya tiba-tiba menghentikan penjelasannya dan beliau memberikan suatu cerita yang cukup berkesan bagi saya dan semua mahasiswa yang hadir dalam ruangan itu. Beliau bercerita, dahulu ketika masih muda pernah diajak oleh salah seorang yang cukup berpengaruh di Badan Vulkanologi Jogjakarta – nama lembaga ini saya sedikit lupa, tapi kira-kira seperti itu – pergi ke puncak Gunung Merapi. Setelah beberapa jam mendaki, akhirnya sampailah beliau dan temannya tersebut di salah satu kawah Merapi (kawah kering). Sambil melepas lelah di dekat kawah tersebut, beliau ditanya oleh temannya kira-kira bagaimana jika gunung yang sedang mereka daki itu tiba-tiba meletus. Sambil memakan bekal yang mereka bawa, dosen saya dengan santai menjawab bahwa mau bagaimana lagi jika kenyataannya begitu.

02Apr/10

Time

waktu

06.30, Pagi yang cerah,

Agak berat memang membuka mata di pagi ini, meskipun tadi sempet terbangun tuk shalat shubuh tapi badan ini kembali tergeletak tak berdaya setelahnya.

Aku bingung ingin melakukan apa saja pagi ini. Padahal kemarin begitu banyak agenda yang harus aku ingin selesaikan seakan-akan ingin menambah waktu yang hanya 24 jam menjadi 30 atau bahkan 50 jam sehari.

28Feb/10

Tafsir Surat Al Haaqqah 38-43

al-quran

Pada surat Al Haaqqah ayat ke 38 serta ke-39, Allah berfirman, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” Ada beberapa pendapat dari para ulama mengenai tafsir ayat tersebut, khususnya mengenai kalimat “apa yan{jcomments on}g kamu lihat dan yang tidak kalian lihat.” Adapun pendapat yang ada tidak saling bertentangan, sebaliknya pendapat-pendapat yang ada tersebut saling melengkapi dan dapat menyebutkan contohnya masing-masing. Pendapat yang tidak saling bertentangan dan bertolak belakang ini disebut sebagai ikhtilaf tanawu’.

Dalam tafsir karya Imam as Salaby disebutkan beberapa pendapat mengenai makna dari ayat yang telah disebutkan di atas. Pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

14Feb/10

Memory yang Hampir Terhapus (Sebuah Kenangan akan RDK 1430 H)

Dengarlah wahai angin, pertengkaran kecil yang penuh senyuman mempertaruhkan keberadaanmu di hari esok. Mereka tak menghiraukan lagi bisikanmu yang hanya kan menambah berat mata ini tuk melihat kenyataan dunia yang sebenarnya dan menghambat laju electron tuk melewati selubung myelin lalu merangkainya menjadi bayangan dunia damba. Mereka juga tak menggubris panggilan lembut tumpukan spons dan bantal yang mengajak mereka tuk berkunjung ke alam mimpi, menikmati keindahannya, dan menyelami sungai khayalnya. Aku kasihan melihat sang  pena, tampak ia sangat kelelahan menjadi budak jemari yang terus memaksanya menari diatas lembaran-lembaran kertas putih penuh goresan kecil. Terkadang ia mengalami hentakan kuat agar darah hitamnya yang sempat terhenti kembali dapat merekam sejarah senja itu.