16Apr/14

Penataan Peran Wanita dalam Islam serta Dampak dari Perkembangan Pemikiran Feminisme

Penataan Peran Wanita dalam Islam serta Dampak dari Perkembangan Pemikiran Feminisme

Faridah Nur’aini
Kepala Departemen Kemuslimahan Jama’ah Shalahuddin UGM 1435 H

JS Editorial

PENDAHULUAN
Sepanjang sejarah dunia, wanita pernah mengalami nasib yang tak memandang tempat juga zaman, yaitu wanita lebih sering dianggap objek daripada manusia. Peradaban Yunani Kuno membolehkan wanita diperjualbelikan layaknya budak, tidak memiliki hak sipil dan juga hak waris. Begitu pun wanita belum naik kelas di peradaban Romawi. Di India terkenal dengan tradisi Hindu yang bernama Sati, sebuah prosesi membakar diri bagi janda yang ditinggal mati suaminya. Peradaban Cina Kuno juga menempatkan wanita sebagai warga kelas dua. Demikian nasib wanita ditinjau dari segi peradaban. Sama halnya saat masa sebelum Islam datang, masyarakat Arab sangat berduka dengan kelahiran perempuan dan tega membunuh atau menguburkan anak perempuannya hidup-hidup.
Ketika “kabut hitam” menyelimuti wajah wanita, maka cahaya Islam datang dan bersinar meneranginya. Islam menempatkan kedudukan wanita pada proporsi yang mengakui kemanusiaan mereka. Ayat al-qur’an yang pertama kali melihat kesejajaran wanita dengan kaum pria adalah QS. Al-Lail: 3-10. Islam tidak membedakan antara pria dan wanita. Al-qur’an telah menghilangkan diskriminasi gender, tanpa menghilangkan peran kaum pria sebagai qawwamun (Pemimpin bagi kaum wanita). Disini terlihat bahwa agama islam merupakan agama yang mempunyai prinsip-prinsip keadilan gender. Di awal sejarah islam juga sudah mencatat peranan wanita yang sangat signifikan, hal ini bisa kita lihat dari sebuah hadis yang dinisbahkan kepada nabi yang berbunyi:
“Ambilah setengah pengetahuan agama dari al-Humaira (yaitu Aisyah)” read more

11Des/12

Paradigma Dakwah Kampus

dakwah kampus

“Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada goal dan resikonya. Jalani hidupmu dan hadapi resikonya”. Dakwah adalah salah satu pilihan hidup. Setiap orang dapat memilih untuk hidup bersamanya atau dibersamainya atau bahkan jauh darinya. Konsekuensi dari seseorang memilih jalan dakwah sudah barang tentu Allah akan memberikan syurga yang nikmatnya tiada terkira, selama apa yang dia lakukan berawal dengan niat yang baik, dengan cara yang baik pula ia lakukan. Karena dakwah itu agung, pekerjaan yang mulia. Ia adalah jalan hidup yang dipilih oleh kekasih Allah, para Rasul dan para sahabat. Akan tetapi dalam track perjalanannya, tentunya tidak semulus yang dibayangkan. Dakwah itu panjang, dakwah itu berliku dan penuh dengan onak duri. Kadang seseorang mendapat kesenangan didalamnya, tapi sering kali mendapatkan kepahitan bersamanya. Kenapa dakwah itu pahit, karena syurga itu manis. Ya.. Itulah pilihan hidup. Jalani hidupmu dan hadapi resikonya. Semua ada goalnya masing-masing kawan, dan dakwah akan bermuara kepada syurga bagi para penggiatnya.

19Jan/12

Still Thinking Conventional?

ekonomi syariah

The gap between the welfare level of rural communities and the city became a vital issue to be discussed at this time. Media Indonesia said Indonesia’s economic growth is considered not yet inclusive and is unable to answer the problem of income inequality. Economic gaps still occur because the government has not seriously considered oriented towards the creation of a equitable economy. From BPS data 2010, Indonesia Gini Coeffecient edged down just 0.12 over the last five years. Gini Coeffecient of 0.331 recorded in 2010, while in 2005 at the 0.343 level. However, it also revealed that income improvements occurred only in urban, from 0.362 in 2009 to 0.352 in 2010. In contrast, income inequality in rural communities to widen even more Gini Coeffecient rose from 0.288 to 0.297.

As a result of this prosperity gap levels arise various problems that we can not take lightly. Issues such as the disintegration of the nation, distrust to government, destruction of infrastructure and other so often occurs in response to the injustice felt by the community.

11Des/11

Sebuah Analisis Globalisasi: “(Re)interpretasi Gerakan Islam”

globalization

Dalam KBBI, globalisasi (arus global) diartikan proses masuknya ke ruang lingkup dunia.Agaknya definisi ini masih terlalu umum dan memiliki berbagai definisi turunan, yang bisa jadi salah satu dari definisi turunan tersebut terlampau jauh dari makna induknya. Sehingga diperlukan penelusuran lebih jauh tentang terminology globalisasi ini. Sampai saat ini, asal istilah globalisasi masih menjadi bahan perdebatan. Frank (1998) menyebutkan bahwa istilah globalisasi pertama kali muncul saat terjalinnya perdagangan antara Peradaban Lembah Indus (bagian barat daya India) dengan Sumer (bagian selatan Mesopotamia) 3000 tahun sebelum masehi[1]. Zaman keemasan Islam (750-1255 M) merupakan tahap awal yang juga penting dari globalisasi ini, karena memang pada masa rentang masa itu Islamlah yang memberikan kontribusi terbesar di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya bagi dunia.

04Apr/11

Kepemimpinan, Islam dan Indonesia

leader

-sebuah refleksi pemikiran dan harapan akan kejayaan Islam di negeri ini-

Fakta Sejarah

Dimulai dengan sebuah peristiwa fathul makkah sebuah ekskalasi pasukan besar-besaran pada masanya dan berujung pada penaklukan kota mekkah, tanpa ada tumpah setetes pun. Kemudian Islam semakin menyebar keluar jazirah arab, menggetarkan bangsa romawi yang gagah, menyentuh kota Andalusia yang mempesona. Islam menunjukkan bahwa sebagai sebuah ideologi yang kokoh, Islam dapat memimpin. Tidak hanya dalam sekejap mata, tapi tercatat tidak kurang dari seribu tahun dan lebih dari seperempat wilayah dunia, yang hidup makmur di bawah kepemimpinan Islam. read more