02Mei/17

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini. read more

21Apr/17

Hari Kartini

Siapa yang tak mengenal sosok R.A. Kartini. Seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi wanita atau yang biasa kita kenal dengan emansipasi wanita. Sosok wanita yang fenomenal ini memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, beliau lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 dan meninggal di Rembang pada tanggal 17 September 1904. Hari kelahiran Kartini pun ditetapkan sebagai hari yang bersejarah dan diperingati untuk mengenang jasa besar dari R.A. Kartini. Seperti yang sudah pernah kita pelajari sejak sekolah dasar di mata pelajaran IPS, kita mengenal bagaimana sikap diskriminasi para penjajah saat itu yang hanya membolehkan kaum ningrat untuk mengeyam sekolah, terkhusus bagi laki-laki, sedangkan kaum dengan kasta yang rendah terutama wanita sama sekali tidak diperbolehkan bersekolah dan mendapat ilmu sedikit pun. Kaum wanita dahulu dianggap hanya boleh mengurus rumah dan anak. Hal inilah yang membuat sosok Kartini mencoba memerdekakan hak wanita yang sejatinya sama dengan kaum lelaki yaitu mengeyam pendidikan. Meski hanya sebatas lulusan setingkat sekolah dasar,R.A. Kartini memiliki pemikiran yang kritis. Ia beranggapan jika antara laki-laki dan wanita haruslah memiliki hak yang sama, terutama di bidang pendidikan.
Perjuangan Kartini dalam perspektif islam dapat dipahami seperti halnya konsep tahrir al-mara’ah atau pembebasan wanita dari status ekonomi sosial yang rendah dan batasan hukum yang mencegah untuk wanita melangkah maju. Jadi meskipun saat ini sudah emansipasi wanita, tetap saja wanita memiliki batasan. Mengenyam pendidikan yang tinggi bukan untuk menjadikan seorang wanita menandingi laki-laki, emansipasi di sini dimaksudkan agar para wanita kelak mampu menjadi madrasah pertama bagi generasi mereka. Kartini adalah salah satu yang wanita yang memperjuangkan hal tersebut.  read more

14Apr/17

Ulama dan Integritas Komunalnya

Oleh: Habib Haidar (Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM)

Waktu itu, di sebuah masjid besar di Kota Yogyakarta dipenuhi massa pengajian yang datang dari berbagai daerah. Kenapa mereka hadir? Mereka hadir tidak dengan tangan, hati, dan pikiran kosong, tetapi mereka hadir membawa ghirah (semangat) Quran, pikiran jernih, dan tentu sedang memenuhi panggilan hati untuk menyimak sekelumit nasehat dari Ulamanya. Hadir karena Al-Quran telah dinistakan, katanya. Mereka yang hadir layak disebut telah merasakan nikmat kuntum khoiro ummah, nikmat kamu adalah sebaik-baik umat. Apakah kita tak mau dilabel demikian? Caranya cukup dengan beramar makruf dan nahi munkar, itu saja.
Berbeda dari pengajian biasanya, animo masyarakat tak kunjung reda untuk menggelorakan kembali semangat juang dalam menjaga spirit aksi 212 akhir tahun lalu. Perlu diingat, massa yang berjumlah lebih dari tujuh juta lebih itu adalah bayaran. Pertanyaannya, partai mana yang berhasil mengumpulkan massa sebanyak itu? Ormas Islam mana yang bisa mendanai massa sebanyak itu? Menariknya, para Ulama yang mampu menggerakkan massa sebanyak itu atas izin Allah Azza Wa Jalla. Allah Maha Kaya. Allah lah yang membayar pasukan putih itu.
Selama ini, stigma yang menjangkiti kaum muslim Indonesia adalah perbedaan dan perpecahan. Perbedaan pendapat diantara sekian banyak Ulamanya, perihal penentuan awal bulan, qunut, hukum aksi (demo), kaidah sholat jumat dan furu’ fiqih lainnya. Semua seakan terbantah, ketika gelombang persatuan silih berganti mewarnai spirit kaum muslimin Indonesia dan semua itu dimulai dari cara para Ulamanya bersikap.
Kini, sungguh anggun Ulama bersikap. Soal perbedaan, alih-alih mencari perbedaan, justru Ulama menekankan persamaan akidah dan ukhuwah Islamiah diantara kaum muslimin. Suku, bahasa, usia, dan watak boleh membedakan, tapi akidah tetap sama hingga ajal. Ada kaum muda dan juga kaum sampun sepuh, tapi semua rukun. Ada orang jawa, madura, sumatera serta sumbawa, tapi semua bersaudara.
Alhamdulillah, umat muslim tak sekonyong masa penjajahan dulu yang ditutup hampir di semua lini informasi dan akses pendidikan kepada umat muslim. Kini, umat muslim dan masyarakat umumnya melek akan aturan dan isu yang berkembang. Mereka mencoba melihat secara jernih persoalan yang ada dan berbekal kaca mata Islam, sehingga menghasilkan formula yang cukup gemilang dan tak lepas dari peran Ulamanya.
Ketika para Ulama mulai menyerukan sebuah kebenaran, lantaran agama yang hanif ini seakan diobok-obok oleh oknum di luar agama yang sok-sokan tahu dan paham Islam, maka di saat yang sama masyarakat dapat menerima kebenaran itu dengan bijak. Oknum itu salah dan proses persidangan mulai berjalan di meja hijau.
Tak disangka, orang benar dan memperjuangkan kebenaran selalu punya musuh. Musuh yang tidak gandrung akan nilai-nilai kebenaran. Ulama dikriminalisasi.
Akhir-akhir ini, mencuat kabar fitnah kepada Ulama yang dituduh menistakan butir-butir Pancasila, padahal Ulama sendiri memperjuangkan Pancasila. Ada pula money laundry yang dituduhkan kepada Ulama, padahal tidak berdasar sama sekali karena dana umat adalah kembali lagi kepada umat. Menarik, biarkan proses hukum berjalan.
Tak menguras banyak pikiran, disadari dengan bijak bahwa hal tersebut menjadi ujian tersendiri bagi para Ulama kita yang tentu selalu ada balasan mulia dari Sang Pemilik Makar, Allah Azza Wa Jalla.
Masyarakat Islam Indonesia mulai sadar bahwa mereka sedang menghadapi serangkaian agenda pembodohan, sehingga tak mau dibodohi. Masyarakat Islam sadar bahwa Ulama tak hanya menjadi tempat mengadu keilmuan, namun juga menjadi pemimpin. Masyarakat Islam lebih sadar bahwa yang patut diteladani adalah Ulamanya. Masyarakat Islam semakin sadar akan jati diri Islam yang bangkit dengan bangkitnya dakwah Ulama.
Ulama kini menjadi sosok yang dikagumi. Mereka memiliki integritas komunal yang tak terbantahkan lagi. Hingga kini tak perlu ditanya lagi, bahwa Ulama adalah Ulil Amri. read more

07Apr/17

​Sabar dan Salat: Obat Hati Seorang Muslim

Oleh: Muhammad Adnan/ Nindy Oktavia

“When you’re surrounded by all these people, it can be lonelier than when you are by yourself. You can be in a huge crowd, but if you don’t feel like you can trust anyone or talk to anybody, you feel like you’re really alone.” -Fiona Apple

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang jatuh pada setiap tanggal 7 April merupakan gagasan WHO (World Health Organization) sebagai media untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu kesehatan yang dihadapi dunia saat ini. Setiap tahunnya, tema-tema yang diangkat pun berbeda, misalnya pada tahun 2015 World Health Day memiliki tema seputar keamanan makanan, lalu pada tahun 2016 tema yang diangkat mengenai penyakit diabetes. read more

29Mar/17

Fitnah Akhir Zaman : Ujian Menyongsong Kejayaan Islam

Dahsyat. Sebuah kata yang mewakili betapa besarnya fitnah yang dialami oleh umat akhir zaman sekarang ini. Kenikmatan yang menipu, kenikmatan yang melalaikan dan segala tipu daya yang berasal dari syaithan menyerbu manusia. Seakan-akan itu sebuah kenikmatan pada awalnya, akan tetapi akan berubah kesengsaraan di akhirnya. Itulah fitnah Duhaima’1, fitnah yang datang setelah fitnah ahlas dan fitnah sara’. Dalam buku Huru-Hara Irak, Syiria dan Mesir karya ustadz Abu Fatiah Al-Adnani dijelaskan ada beberapa perbedaan pendapat ulama mengenai perbedaaan wujud dan kapan terjadinya fitnah tersebut. Ada pendapat ulama yang mengenai media massa yang meracuni akal pikir para pemuda Islam sekarang ini dan tidak luput juga pendapat mengenai konspirasi dibalik perang melawan terorisme global, yang memperkuat hegemoni kaum zionis internasional. Ada pendapat menarik yang membuat kita tercengang yaitu bentuk lain dalam fitnah tersebut ialah paham demokrasi yang hampir dari seluruh sendi-sendi masyarakat dipaksa untuk menganut paham tersebut. read more

26Okt/16

Menanti Peran Muslimah sebagai Konstruktor Peradaban

img_0709

Oleh Egia Astuti
Departemen Kajian dan Strategi Jamaah Shalahuddin UGM

Tidak bisa dipungkiri bahwa umat muslim hari ini tengah berada dalam masa kegelapan. Tidak ubahnya seperti keadaan sebelum datangnya Islam. Kemiskinan, kriminalitas, dan kerusakan moral tak dapat dibendung di negeri mayoritas muslim semisal Indonesia. Di saat yang sama, umat muslim di Timur Tengah, Rohingya dan daerah-daerah lain mengalami penindasan dari para musuh Allah. Miris. Namun, inilah fakta yang hari ini betul-betul terjadi di tubuh umat muslim yang tengah tercerai-berai ini. read more

20Okt/16

Kari Massaman dan Komunitas Muslim pada Era Ayutthaya, Siam

dsc_1047

Oleh Nur Hidayati
Staff Kajian dan Aksi Strategis Jamaah Shalahuddin

Massaman Curry atau “Kari Massaman” adalah salah satu makanan khas dari Thailand. Pada tahun 2011 , website www.CNNGO.com memasukkan kari massaman sebagai “World’s 50 Most Delicious Foods.”(50 makanan paling lezat di dunia) . Kari massaman terbuat dari ayam, daging yang dibungkus oleh rempah-rempah bumbu kari ini terdiri dari bawang bombay, bawang putih, jahe, kulit jeruk lemon parut. Kuah khasnya yang kental santan dan taburan kacang membuat kari massaman disukai semua orang. Di samping kelezatannya sebagai salah satu makanan Thailand, munculnya kari massaman ada kaitannya dengan perdagangan, politik dan agama di Thailand abad ke-17. Kata Massaman bukanlah berasal dari kalimat Thailand melainkan dari Bahasa Persia Musulmán/Mosalmán (مسلمان‎‎)  yang berarti Muslim [1] . read more

13Okt/16

Menginfakkan Diri

Oleh : Muhammad Fahmi Mubarak

Staf Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin

Telah banyak narasi tentang konsep infak dan sedekah, tentang bagaimana kita mengeluarkan sedikit-banyak-nya harta yang diikhlaskan untuk bermacam kebaikan di jalan-Nya, tentang teori dan implikasi ketika kita menginfakkan harta, yang kesemuanya bermuara pada satu hasil yang senada: imbalan dari-Nya akan berlipat ganda. Percaya atau tidak, ribuan manusia telah membuktikannya, bahwa teori itu bukan sekedar teori. Infak bagai sinar yang dibiaskan ke segala arah dan dipantulkan kembali oleh cermin-cermin. Cahaya yang dihasilkan menjadi berlipat ganda. read more

26Sep/16

Bahan Berbahaya Beracun (B3)

Oleh Habib Haidar
Tim Gelanggang Jamaah Shalahuddin

Pernahkah Anda mendengar soal Bahan Berbahaya Beracun, atau yang biasa disingkat dengan B3? Atau Anda juga pernah mendengar soal Ateisme? Apabila belum, barangkali kita perlu lebih banyak berdiskusi lebih lanjut. Mari kita sejenak berliterasi madani.

Kesadaran akan menjaga kebersihan menjadi sangat penting bagi kita sebagai umat manusia. Identifikasi B3 patut kita sadari dan antisipasi. Terkadang dalam hal yang sederhana pun kita lalai, seperti sisa obat-obatan yang sudah tidak terpakai, akan tetapi dibuang begitu saja. Akibatnya, sisa obat-obatan tersebut akan mencemari lingkungan kita. Ada dua solusi yang ditawarkan di sini untuk persoalan lingkungan, antara lain: read more

23Sep/16

Muslimahs Role as Peacemakers (2): Women and Terrorism

Oleh Raka Nur Wijayanto

Sekretaris Umum Jama’ah Shalahuddin

“So throughout history, women have participated in violent uprisings, performing strategic, supportive and even combat roles in a wide range of violent movements. Today, as Sjoberg, et al (2011:2) have noted, “women’s active involvement in militant and terrorist organizations – as support personnel, as logistics personnel, as kinetic resources, as attackers, kidnappers and hijackers and as martyrs – has grown substantially and become a matter of public attention and record across the globe.”. While this has become problematic and has generated questions about the frequency, importance, uniqueness and meaning of women’s terrorist activities, it is becoming very clear that the relationship between women, gender and terrorism cannot be ignored any longer. Questions about the motivations of the women who become active in these organizations are been raised –do they participate on strictly religious, political or personal reasons and which of these are more important as guiding and motivating their decisions?” read more