28Jul/17

Aktivis Mahasiswa Muslim UGM Kunjungi Pak Rektor

Kamis (27/7) merupakan langkah awal untuk mewujudkan UGM yang religius dan berintegritas. Empat belas orang aktivis mahasiswa muslim UGM dari berbagai Lembaga Dakwah Fakultas yang dikoordinir oleh Yarabisa Yanuar sebagai ketua Jama’ah Shalahuddin, bertemu dengan Prof. Panut Mulyono selaku Rektor Universitas Gadjah Mada. Kunjungan ini diwarnai dengan diskusi ringan mengenai kondisi kampus akhir-akhir ini. Berkaitan dengan isu-isu radikalisme yang sedang marak, Prof. Panut Mulyono menyampaikan bahwa beliau sangat senang dengan adanya forum seperti ini. “Yang kami inginkan bahwa UGM kan kampus yang mendidik, sehingga muncullah pemimpin yang memiliki karakter mulia dan mampu memimpin pada bidang-bidangnya” tutur Prof. Panut memberikan nasehat. “Alangkah baiknya mahasiswa Muslim saling rukun dan mendidik adik-adik tingkatnya. Senior kan dapat memberikan pengalaman dan tentunya membimbing dengan sukses sesuai dengan bidangnya” imbuh Rektor UGM. Sesampainya pada pertengahan diskusi, kami tiba pada pembicaraan terkait eksistensi AAI di masa yang akan datang. “Asistensi harus konotasinya baik, saya sebagai seorang pendidik, maka asistensi ya perlu. Pelajaran di kelas ada keterbatasan, sehingga asistensi itu perlu. Misal saya dosen, maka saya yang harus memilih siapa asisten nya. Sehingga harapannya satu frame dengan dosen. Tidak boleh Asisten bergerak sendiri, waktu dan tempat diatur sendiri, ini tidak boleh, harus ada controlling disini. Kalo ada AAI, dosen harus sesuai keinginan kita, bukan yang aneh-aneh. Intinya perlu ada format baku. Terkait mata kuliah agama Islam, baik dari Dosen hingga kurikulumnya.” tutur Prof. Panut menanggapi. “Tujuan kita beragama adalah Rahmatan lil Alamin, sesuai Al Quran dan Hadist” pernyataan penutup dari Prof. Panut. Setelah berdiskusi hampir 50 menit, akhirnya forum disudahi, sembari menikmati hidangan teh hangat yang telah disediakan. Tak luput juga, kami mengakhiri dengan foto bersama. Sungguh momen yang sangat penting, karena inilah langkah awal yang baik dan perlu dijaga antara Lembaga Dakwah dengan jajaran petinggi Universitas. Semoga agenda seperti ini dapat dilakukan kembali. Aamiin. Forum Dakwah Kampus UGM 27 Juli 2017 read more

23Jul/17

Biarkan aku Bermain – Hari Anak Nasional

[Biarkan aku Bermain – Hari Anak Nasional]

“Biarkan kami bermain, karena hari masih siang dan kami tidak bisa tidur; juga burung-burung kecil terbang diangkasa dan bukit-bukit tertutup oleh domba.” William Blake.

Peringatan hari anak merupakan sebuah momentum bagi kita untuk kembali mengingat hak-hak anak khususnya yang berada di bumi pertiwi, Indonesia. Sudahkah kita memberikan itu pada mereka?

Pasalnya, saat ini banyak kita jumpai permasalahan menimpa anak-anak. Mulai dari kekerasan fisik, fenomena bullying, sampai dengan beberapa pemaksaan dan penekanan yang justru dilakukan oleh orang terdekat mereka sendiri. read more

23Jul/17

ASEAN Islamic Student Summit 2017 – Optimizing Southeast Asia Islamic Student Movement to Face The ASEAN Challenges

Background

ASEAN Islamic Student Summit by Jama’ah Salahudin to create a regional model that provides both open economy and social support for less developed nations, and in turn, its poorer citizen. Ideally, a youth contribution should be able to be adapted to fit different cultural environments. This way, its reach will be much broader and bring change to more communities. Youth contributions are essential in today’s world, which still suffers from many social problems such as economic crisis, war, diseases, discrimination, displacement, homelessness, poor health and nutrition, and social exclusion to name only a few. In this context, youth movement are needed more and more. There will never be a limit on the number of youth movement needed in the world. Instead, there is always a place where such youth can make a monumental difference in the lives of others. Their drive to improve the world and their dedication to see their solutions and plans come true, act as a ripple effect. All you need is an idea, a creative and innovative mind, resources, flexibility, and an implementation plan. Youth movements are imaginative critical thinkers who strive for long-term, expansive social change. With an identified social problem, they look for solutions that can benefit society at large. read more

02Mei/17

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini. read more

21Apr/17

Hari Kartini

Siapa yang tak mengenal sosok R.A. Kartini. Seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi wanita atau yang biasa kita kenal dengan emansipasi wanita. Sosok wanita yang fenomenal ini memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, beliau lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 dan meninggal di Rembang pada tanggal 17 September 1904. Hari kelahiran Kartini pun ditetapkan sebagai hari yang bersejarah dan diperingati untuk mengenang jasa besar dari R.A. Kartini. Seperti yang sudah pernah kita pelajari sejak sekolah dasar di mata pelajaran IPS, kita mengenal bagaimana sikap diskriminasi para penjajah saat itu yang hanya membolehkan kaum ningrat untuk mengeyam sekolah, terkhusus bagi laki-laki, sedangkan kaum dengan kasta yang rendah terutama wanita sama sekali tidak diperbolehkan bersekolah dan mendapat ilmu sedikit pun. Kaum wanita dahulu dianggap hanya boleh mengurus rumah dan anak. Hal inilah yang membuat sosok Kartini mencoba memerdekakan hak wanita yang sejatinya sama dengan kaum lelaki yaitu mengeyam pendidikan. Meski hanya sebatas lulusan setingkat sekolah dasar,R.A. Kartini memiliki pemikiran yang kritis. Ia beranggapan jika antara laki-laki dan wanita haruslah memiliki hak yang sama, terutama di bidang pendidikan.
Perjuangan Kartini dalam perspektif islam dapat dipahami seperti halnya konsep tahrir al-mara’ah atau pembebasan wanita dari status ekonomi sosial yang rendah dan batasan hukum yang mencegah untuk wanita melangkah maju. Jadi meskipun saat ini sudah emansipasi wanita, tetap saja wanita memiliki batasan. Mengenyam pendidikan yang tinggi bukan untuk menjadikan seorang wanita menandingi laki-laki, emansipasi di sini dimaksudkan agar para wanita kelak mampu menjadi madrasah pertama bagi generasi mereka. Kartini adalah salah satu yang wanita yang memperjuangkan hal tersebut.  read more