Budaya Afwan

maaf

Suasana sore itu tak jauh berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Beberapa kelompok mahasiswa asik berdiskusi di sudut-sudut bangunan berbentuk segi delapan itu. Penuh semangat mereka mengeluarkan usulan dan argumen-argumen untuk meyakinkan anggota syuro yang lain agar mengikuti apa yang dia usulakan. Pemandangan agak berbeda terlihat di salah satu sudut ruangan sebelah utara, sesosok lelaki muda duduk sendirian memainkan spidol hitam ditangan kanannya dengan raut muka agak cemas berulang kali melirik ke arah tempat parkir motor menanti kedatangan teman-temannya.

Beberapa saat kemudian, satu persatu teman yang dinanti pun datang. Memasang setting wajah tak berdosa lalu mengucapkan “Afwan telat”, dua kata ajaib yang terucap setelah salam, menganggap kata itu sudah cukup menjadi tebusan atas keterlambatannya. Beberapa sms yang baru masuk pun berisi 2 kata ajaib itu diiringi dengan keterangan waktu di belakangnya, 10 menit lah, 15 menit, bahkan ada yang tega menulis 30 menit. Mereka yang baru tiba itu duduk manis dengan masih memasang tampang tak berdosa seolah-olah tak ada kesalahan apa pun yang telah diperbuatnya. Sedangkan lelaki yang dari tadi menunggu berusaha untuk tersenyum semanis mungkin dan berusaha menghapus kekesalannya.

Syuro pun dimulai. Ba’da salam, syukur, shalawat dan basmalah, pemimpin syuro membacakan 1 surat dari Kitabullah, Surat Al-‘Ashr 1-3:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan saling berpesan dengan kebenaran, dan saling berpesan dengan kesabaran. (QS Al-‘Ashr:1-3)

Tepat sekali menusuk relung hati peserta syuro, mereka saling berpandangan dan tersenyum, mereka mengerti mengapa surat itu yang dipilih oleh pemimpin syuro tuk mengawali syuro sore itu. Lelaki yang duduk disebelah papan tulis putih itu pun menganggap tak perlu lagi menjelaskan makna Firman Allah yang baru saja dibacakannya. Dia tahu teman-temannya sudah cukup cerdas tuk paham akan makna yang terkandung didalamnya.

Syuro dilanjutkan, masing-masing peserta dipersilahkan untuk melaporkan perkembangan amanah yang dipikulnya. Sudah sesuai rencanakah atau malah lebih cepat dari rencana awal.

“Gimana akh?” tanya lelaki pemimpin syuro.” Proposalnya sudah disebar ke sponsor?”

“Afwan akh” kata itu lagi yang terucap. “ Ane sudah hubungi staff ane tuk membuat desainnya, tapi katanya dia masih menunggu format proposalnya dari sekreteris kegiatan dan baru kemarin formatnya diserahkan ke staff ane”

Raut muka kekecewaan tergores di wajah pemimpin syuro. Perlahan raut kekecewaan itu berubah menjadi kekhawatiran akan acara besar yang akan diselenggarakan oleh lembaganya. Apakah akan sukses atau hanya berjalan apa adanya. Atau bahkan gagal total. Ketakutan itu terus membayangi pikirannya. Bahkan sampai muncul kekhawatiran akan kelanjutan organisasinya kelak jika para kadernya seperti ini.

Mungkin kebanyakan dari kita sering mengalami kejadian seperti tadi, kedatangan yang telat, penyelesaiaan akan tugas yang terabaikan, atau lainnya, yang menyebabkan kata “afwan” seperti sebilah pedang yang mengoyak rencana-rencana besar kita. Atau bahkan mungkin kitalah pelaku utama pelontar kata “afwan” tersebut. Memang sih sangat ringan dan terlewat mudah kita mengucapkan kata itu tetapi pernahkah kita memikirkan perasaan orang yang telah lama menanti kedatangan kita dengan cemas, perasaan seseorang yang begitu mempercayakan suatu amanah kepada kita lalu kita mentelantarkannya, atau pernahkah kita mempikirkan rencana besar apa yang harus gagal karena anggapan remeh kita terhadap waktu maupun amanah kecil yang diberikan kepada kita.

Sebagian besar dari penderita “syndrome afwan” tidak pernah berfikir sejauh itu, mereka terlalu berkosentrasi untuk mempertahankan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan muncul akibat dari ketidaksadaran mereka akan pentingnya tugas dan amanah yang diberikan. Penderita syndrome afwan akan sibuk mencari jutaan alasan pembenaran akan kesalahan-kesalahannya. Dan si penanya pun akan bosan mendengar alasan yang sudah berulang kali ia dengar.

Oleh : Roni Eka Arrohman

Jurusan Teknik Fisika

Sekretaris Eksekutif Jamaah Shalahuddin 1431 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X