Islamophobia dan Bagaimana Seharusnya Kita Melawan

Oleh: Wardah Hafidz Mei Safaroh (Kajian Strategis)

 

Pasca terjadinya tragedi WTC 11 September 2001 silam yang merobohkan gedung kembar paling modern pada masa itu, Islam menjadi agama yang dituduh melakukan serangkaian aksi teror tersebut. Islam menjadi bagian dari isu penting yang diperbincangkan dunia di awal abad millenial. Berawal dari peristiwa WTC, pelabelan terhadap Islamsebagai agama “teroris”, “ekstrimis”, “intoleran”, dan lain-lain yang serupa mulai bermunculan.Ajaran Islam dipandang bahkan dituduh menjadi penyebab dari munculnya tindak kekerasan yang diklaim dilakukan oleh beberapa oknum kelompok Islam yang tidak bertanggungjawab. Munculnya Islamophobia, perasaan anti dan takut terhadap Islam, menjadi begitu terasa di negara-negara Amerika dan Eropa setelah tragedi WTC.Di Jerman misalnya, setidaknya ada 950 kejadian serangan kepada sejumlah umat muslim dan masjid sepanjang tahun 2017. Lalu di Spanyol, dilaporkan ada 500 kejadian yang menyasar masjid bahkan diantaranya termasuk perempuan dan anak-anak (VIVA, Maret 2018). Sementara itu di Inggris, sebanyak 80 persen umat Islam disana mengakusudah pernah menjadi korban dari isu-isu Islamophobia. Sepertiga di antaranya mengeluhkan atas diskriminasi yang sering terjadi di bandara-bandaraKerajaan Inggris (Republika, September 2014).

Phobia atau fobia dapat diartikan ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Rasa ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu tersebut berdampak pada reaksi emosional dan fisik. Islamophobia adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan kepada umat Islam dan ajarannya. Dewasa ini,Islamophobia tidak lagi hanya menyasar masyarakat Eropa dan Amerika saja, tetapi ia juga telah menyebar ke penjuru dunia, ada di sekeliling kita hari ini. Di negeri yang katanya heterogen ini, isu-isu ketakutan terhadap umat Islam dan ajarannya masih dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari. Jika Islamophobia di Barat muncul karena tragedi WTC, Islamophobia di Indonesia muncul akibat delik peristiwa Bom Bali, Sarinah, JW Mariot, Surabaya dan serangkaian peristiwa lainnya yang mengatasnamakan Islam dalam aksi teror yang mereka lakukan. Akibatnya buruk, banyak headline berita akhirnya menyudutkan Islam, menyebut Islam tidak toleran, kaku, kolot, dan tidak suka dengan orang yang tidak seiman dengan mereka. Umat muslim yang berusaha taat dicap sebagai “ekstrimis”, “fundamentalis”, “radikal”, “intoleran”, dan sederetan label yang semakna lainnya.Dan yang lebih parahnya adalah, Al Qur’an, kitab suci umat Islam, buku-buku hadist dan sejarah perjuangan sahabat nabi, penampilan fisik yang berjenggot,lulusan pondok pesantren, dan lain-lain yang mencirikan identitas umat Islam dijadikan alasan untuk memperkeruh suasana.

Sungguh miris, di negeri yang katanya mayoritas umat muslim ini, ketakutan akan ajaran Islam dan penganutnya justru berkembang di kalangan masyarakat. Islamophobia membuat umat muslim yang awam justru takut untuk belajar dan mengkaji Islam lebih mendalam. Mereka khawatir akan dicap radikal, ekstrimis, dan lain sebagainya. Padahal, sejatinya Islam adalah agama yang sempurna, agama yang damai, agama kasih sayang yang tidak ada satupun kecacatan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu…”

[QS. Al-Maidah: 3].

Dan Kami tidaklah mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

[QS. Al Anbiya: 107]

Di samping itu, Allah juga mengharamkan membunuh sesama manusia, apapun agamanya tanpa ada alasan yang jelas dan dibenarkan secara syariat. Seperti pada firman Allah berikut ini:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.”

[QS. Al-Isrâ: 33].

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

[QS. Al-Mumtahanah: 8].

Dan sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:

“Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, (maka) ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun.”

[HR al-Bukhâri, no. 2995].

Terakhir, Allah juga menciptakan manusia dengan beragam suku-suku bangsa juga bukan tanpa alasan, seperti pada firman-Nya berikut ini:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

[QS. Al Hujurot: 13].

Lantas, jika Allah sendiri yang mengatakan bahwa Agama Islam adalah sempurna, penuh dengan rahmat (kasih-sayang), melarang umatnya untuk membunuh sesama tanpa ada alasan yang dibenarkan, dan memang menciptakan keberagaman di muka bumi, mengapa masih saja ada aksi teror yang mengancam nyawa seseorang? Masih saja ada yang takut dengan ajaran Islam, memperolok-oloknya dan menjadikannya lelucon atas serangkaian aksi teror? Semua itu tidak lain karena penganutnya yang tidak memahami Islam secara sempurna. Agama Islam adalah agama yang final, tidak ada revisi terkait aqidah. Akan tetapi, manusialah yang tidak sempurna, pemeluk-pemeluknya-lah yang kadang menafsirkan ajaran Islam secara parsial, menghilangkan beberapa poin penting hingga kemudian berdalih bahwa aksi teror ini adalah ajaran Tuhan. Padahal, sekali-kali tidak! Tidak ada dalam ajaran Islam perintah untuk menyakiti sesama. Agama Islam adalah agama kasih sayang, itu juga keputusan yang final.

Islamophobia adalah ‘alat’ untuk menghancurkan umat Islam, ia adalah proyek besar dari oknum yang tidak menghendaki Islam berjaya. Mereka tidak hanya membuat orang-orang non muslim membenci Islam, tetapi juga umat Islam dengan ajaran agamanya sendiri. Mereka menyasar umat Islam yang tidak banyak mengenal Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Ketahuilah, bahwa stigma-stigma negatif terhadap ajaran Islam ini hanyalah bentuk pengulangan dari sejarah. Karena sungguh hal ini juga pernah terjadi sepanjang Rasulullah berdakwah. Stigmaisasi mulai dari orang gila, tukang sihir, pembawa ajaran sesat, hinaan bahkan ancaman fisik sudah pernah dialami oleh Rasulullah. Hal itu terjadi karena ketakutan orang-orang jahiliyyah terhadap Islam dan kaum muslimin. Takut akan tersingkirnya hegemoni mereka apabila Islam menjadi pandangan hidup masyarakat dan diterapkan dalam kehidupansecara baik.

Begitu halnya dengan kita hari ini, ketika Islam distigma seolah menjadi monster yang mengerikan. Mempelajari Islam secara mendalam dianggap radikal dan ekstrimis. Bahkan orang-orang yang menyampaikan Islam dipersekusi dan diintimidasi. Framing jahat terhadap ajaran Islam dihembuskan oleh orang-orang yang benci dan khawatir akan kebangkitan Islam. Ingatlah firman Allah swt dalam QS. At-Taubah: 32, yang artinya:

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang yang kafir tidak menyukai.”

Sungguh, yakinlah Islam itu agama yang haq. Islam itu tinggi. Ajaran Islam meliputi seluruh aspek kehidupan. Tak perlu takut untuk mempelajari dan menyerukan Islam sebab mempelajari dan menyerukan Islam merupakan konsekuensi keimanan sebagai seorang muslim. Omong kosong jika mengaku beriman kepada Allah tapi masih meragukan firman-Nya. Mengaku cinta, tapi menimbang-nimbang apa yang menjadi perintah-Nya hanyalah rayuan gombal semata.

Mari kita melawan Islamophobia, bukan dengan menebar ketakutan serupa, tapi menunjukannnya dengan sikap keteladanan, sikap saling menghormati, saling menyayangi, karena sekali lagi, Islam adalah agama yang final –tidak dapat direvisi walau sesenti.

Wallahu a’lam bishowwab

 

 

Daftar Rujukan:

Kiblat (2017) Islamophobia di Amerika Meningkat 1000% Sejak Trump Menjabat. 28 April. Diakses dari: https://www.kiblat.net/2017/04/28/islamophobia-di-amerika-meningkat-1000-sejak-trump-menjabat/ [Diakses pada 27 Mei 2018].

Republika (2014) Ini Hasil Survei Islamophobia di Inggris. 1 Septembar. Diakses dari: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/09/01/nb6mku-ini-hasil-survei-soal-islamophobia-di-inggris [Diakses pada 27 Mei 2018].

Siswoyo, H. (2018) Fenomena Islamophobia Meningkat, Uangkap Riset. Viva.co.id 6 Maret. Diakses dari: https://www.viva.co.id/berita/dunia/1013176-fenomena-islamophobia-meningkat-ungkap-riset [Diakses pada 27 Mei 2018].

https://almanhaj.or.id/4293-membunuh-dosa-besar.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X