Saat Hujan Turun

hujan

Hujan yang akhir-akhir ini sering melanda kota-kota besar di Indonesia dan juga kota kecil di dekatnya tentunya, beragam tanggapan yang muncul di balik limpahan rahmat dari Allah SWT ini. Mungkina ada dari kita yang ngomel-ngomel kare hujannya gak reda-reda sehingga acara special yang sudah lama kita persiapkan gagal terlaksana atau mungkin kita malah bersuka cita karena akhirnya punya alasan tuk tidak datang kuliah dan melanjutkan bobok siang kita.

Beda respon saat hujan seperti ini jatuh diatas atap toko bangunan dimana sepasang pengantin baru berteduh emperannya.

“romantis ya mas?” tanya si istri. Senyum manis tercoreng di wajahnya.

“He em” jawab sang suami sambil terus memandangi wajah istrinya.

“Dek, kalau hujan gini jadi ingat puisi yang mas bikin buat adek dulu, belum sempat aku sampaikan, ee… malah kita nikah duluan”

“ Aku pengen denger mas” rayu sang istri dengan penuh harap, padahal sih gak perlu dirayu suaminya bakalan ngomong sendiri. Maklum cowok, lagak sok-sokannya sering kumat kalau lagi deket ma cewek.

“Jika kamu jadi hujan, aku rela jadi gotnya, agar aku bisa menampung semua yang ada pada dirimu dan menemanimu kembali ke laut” cukup romantic, tapi mengapa harus jadi got? Ketahuan ni anak jorok banget.

Pipi sang istri memerah. Marah kale ya masa disamain dengan ujan.

“Kalau kamu jadi angin putting beliung, aku ingin jadi atap seng rumah kontrakan kita, agar saat kamu melintas aku bisa ikut terbang dan menyatu bersamamu di angkasa” ini puisi atau mau nyindir yang punya kontrakan karena atapnya yang rusak lama gak diperbaiki.

Mending kita ganti topik daripada dengerin puisi yang gak jelas sanadnya gitu. Saya jadi ingat kisah yang pernah diceritakan seorang ustad saat kajian di masjid kampus UGM. Seorang laki-laki basah kuyup berjalan menembus hujan sambil memeluk erat bungkusan nasi goring di dadanya. Kita yang melihat kejadian itu mungkin akan memiliki rasa kasian melihatnya, ikut merasakan betapa kedinginannya ia harus berbasah-basahan di malam hari yang dingin. Tapi coba kita melihat dari sudut pandang lelaki itu. Ia merasa sangat bahagia dapat membawa sebungkus makanan tuk anak dan istrinya di rumah. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Hujan yang dingin dia anggap sebagai hadiah dari Allah untuknya.

Yah, setiap peristiwa, berita, sikap atau apapun yang terjadi di dunia ini maknanya bukan terletak pada peristiwa itu sendiri tetapi pada sudut pandang orangnya. Meletusnya Gunung Merapi yang dianggap musibah bagi sebagian orang tetapi sebgian yang lain menganggapnya sebagai limpahan rizki. “ lumayan, pasir gratis” seperti itu mungkin pikirnya.

Jadi, agar kita selalu mendapat bahagia dari setiap kejadian yang kita alami, cobalah tuk melihat dari semua sudut pandang lalu kita ambil sudut pandang terbaik. Nilai kuliah yang jeblok ( curhat ni ye…) mungkin bukan karena kesalahan kita tetapi karena kita gak belajar ( yeee… sama aja). Atau mungkin kita diberi kesempatan mengulang agar kita bisa kuliah bersama adik angkatan kita. Sapa tau dapet jodoh, amiiinnn ^_^. He…he…

Dengan melihat dari berbagai sudut pandang memberi kita pilihan tentang sikap apa yang akan kita lakukan. Jangan sampai hanya karena kita hanya memiliki satu sudut pandang kita jadi salah mengambil keputusan yang tidak hanya merugikan kita bahkan kita bisa juga malah mendzalimi orang lain. Semoga saja dengan melakukan ini kita bisa jadi lebih memaknai hidup dan membuatnnya jadi lebih indah.

Oleh : Roni Eka Arrohman

Jurusan Teknik Fisika UGM 2007

Sekretaris Eksekutif Jamaah Shalahuddin 1431 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

X