Aktivis Mahasiswa Muslim UGM Kunjungi Pak Rektor

Kamis (27/7) merupakan langkah awal untuk mewujudkan UGM yang religius dan berintegritas. Empat belas orang aktivis mahasiswa muslim UGM dari berbagai Lembaga Dakwah Fakultas yang dikoordinir oleh Yarabisa Yanuar sebagai ketua Jama’ah Shalahuddin, bertemu dengan Prof. Panut Mulyono selaku Rektor Universitas Gadjah Mada. Kunjungan ini diwarnai dengan diskusi ringan mengenai kondisi kampus akhir-akhir ini. Berkaitan dengan isu-isu radikalisme yang sedang marak, Prof. Panut Mulyono menyampaikan bahwa beliau sangat senang dengan adanya forum seperti ini. “Yang kami inginkan bahwa UGM kan kampus yang mendidik, sehingga muncullah pemimpin yang memiliki karakter mulia dan mampu memimpin pada bidang-bidangnya” tutur Prof. Panut memberikan nasehat. “Alangkah baiknya mahasiswa Muslim saling rukun dan mendidik adik-adik tingkatnya. Senior kan dapat memberikan pengalaman dan tentunya membimbing dengan sukses sesuai dengan bidangnya” imbuh Rektor UGM. Sesampainya pada pertengahan diskusi, kami tiba pada pembicaraan terkait eksistensi AAI di masa yang akan datang. “Asistensi harus konotasinya baik, saya sebagai seorang pendidik, maka asistensi ya perlu. Pelajaran di kelas ada keterbatasan, sehingga asistensi itu perlu. Misal saya dosen, maka saya yang harus memilih siapa asisten nya. Sehingga harapannya satu frame dengan dosen. Tidak boleh Asisten bergerak sendiri, waktu dan tempat diatur sendiri, ini tidak boleh, harus ada controlling disini. Kalo ada AAI, dosen harus sesuai keinginan kita, bukan yang aneh-aneh. Intinya perlu ada format baku. Terkait mata kuliah agama Islam, baik dari Dosen hingga kurikulumnya.” tutur Prof. Panut menanggapi. “Tujuan kita beragama adalah Rahmatan lil Alamin, sesuai Al Quran dan Hadist” pernyataan penutup dari Prof. Panut. Setelah berdiskusi hampir 50 menit, akhirnya forum disudahi, sembari menikmati hidangan teh hangat yang telah disediakan. Tak luput juga, kami mengakhiri dengan foto bersama. Sungguh momen yang sangat penting, karena inilah langkah awal yang baik dan perlu dijaga antara Lembaga Dakwah dengan jajaran petinggi Universitas. Semoga agenda seperti ini dapat dilakukan kembali. Aamiin. Forum Dakwah Kampus UGM 27 Juli 2017 read more

Biarkan aku Bermain – Hari Anak Nasional

[Biarkan aku Bermain – Hari Anak Nasional]

“Biarkan kami bermain, karena hari masih siang dan kami tidak bisa tidur; juga burung-burung kecil terbang diangkasa dan bukit-bukit tertutup oleh domba.” William Blake.

Peringatan hari anak merupakan sebuah momentum bagi kita untuk kembali mengingat hak-hak anak khususnya yang berada di bumi pertiwi, Indonesia. Sudahkah kita memberikan itu pada mereka?

Pasalnya, saat ini banyak kita jumpai permasalahan menimpa anak-anak. Mulai dari kekerasan fisik, fenomena bullying, sampai dengan beberapa pemaksaan dan penekanan yang justru dilakukan oleh orang terdekat mereka sendiri. read more

ASEAN Islamic Student Summit 2017 – Optimizing Southeast Asia Islamic Student Movement to Face The ASEAN Challenges

Background

ASEAN Islamic Student Summit by Jama’ah Salahudin to create a regional model that provides both open economy and social support for less developed nations, and in turn, its poorer citizen. Ideally, a youth contribution should be able to be adapted to fit different cultural environments. This way, its reach will be much broader and bring change to more communities. Youth contributions are essential in today’s world, which still suffers from many social problems such as economic crisis, war, diseases, discrimination, displacement, homelessness, poor health and nutrition, and social exclusion to name only a few. In this context, youth movement are needed more and more. There will never be a limit on the number of youth movement needed in the world. Instead, there is always a place where such youth can make a monumental difference in the lives of others. Their drive to improve the world and their dedication to see their solutions and plans come true, act as a ripple effect. All you need is an idea, a creative and innovative mind, resources, flexibility, and an implementation plan. Youth movements are imaginative critical thinkers who strive for long-term, expansive social change. With an identified social problem, they look for solutions that can benefit society at large. read more

​2 Mei dan Segala yang Tak Lagi Seru

Oleh: Ahmad Naufal Azizi
Departemen Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM
2 Mei akan tetap seperti ini.

Ia datang sebentar, membeberkan wacana pendidikan yang lebih baik, boleh jadi muncul aksi di satu-dua tempat, lantas kemudian pergi -hilang tanpa ada pemaknaan berarti.
Tahun depan?

2 Mei boleh jadi datang lagi. Ya tentu dengan rutinitas sama seperti hari ini. Bahkan, ketika dunia hendak kiamat sekalipun, 2 Mei akan tetap jadi hiburan simbolik belaka. Sampai kapanpun, ketika kepentingan pendidikan masih berdasar sekat almamater dan kepentingan organisasi masing-masing, sampai saat itu pula perjuangan akan pendidikan yang lebih baik akan berakhir mengecewakan.
2 Mei akan tetap seperti ini. read more

Hari Kartini

Siapa yang tak mengenal sosok R.A. Kartini. Seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi wanita atau yang biasa kita kenal dengan emansipasi wanita. Sosok wanita yang fenomenal ini memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, beliau lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 dan meninggal di Rembang pada tanggal 17 September 1904. Hari kelahiran Kartini pun ditetapkan sebagai hari yang bersejarah dan diperingati untuk mengenang jasa besar dari R.A. Kartini. Seperti yang sudah pernah kita pelajari sejak sekolah dasar di mata pelajaran IPS, kita mengenal bagaimana sikap diskriminasi para penjajah saat itu yang hanya membolehkan kaum ningrat untuk mengeyam sekolah, terkhusus bagi laki-laki, sedangkan kaum dengan kasta yang rendah terutama wanita sama sekali tidak diperbolehkan bersekolah dan mendapat ilmu sedikit pun. Kaum wanita dahulu dianggap hanya boleh mengurus rumah dan anak. Hal inilah yang membuat sosok Kartini mencoba memerdekakan hak wanita yang sejatinya sama dengan kaum lelaki yaitu mengeyam pendidikan. Meski hanya sebatas lulusan setingkat sekolah dasar,R.A. Kartini memiliki pemikiran yang kritis. Ia beranggapan jika antara laki-laki dan wanita haruslah memiliki hak yang sama, terutama di bidang pendidikan.
Perjuangan Kartini dalam perspektif islam dapat dipahami seperti halnya konsep tahrir al-mara’ah atau pembebasan wanita dari status ekonomi sosial yang rendah dan batasan hukum yang mencegah untuk wanita melangkah maju. Jadi meskipun saat ini sudah emansipasi wanita, tetap saja wanita memiliki batasan. Mengenyam pendidikan yang tinggi bukan untuk menjadikan seorang wanita menandingi laki-laki, emansipasi di sini dimaksudkan agar para wanita kelak mampu menjadi madrasah pertama bagi generasi mereka. Kartini adalah salah satu yang wanita yang memperjuangkan hal tersebut.  read more

Ulama dan Integritas Komunalnya

Oleh: Habib Haidar (Kajian Strategis Jama’ah Shalahuddin UGM)

Waktu itu, di sebuah masjid besar di Kota Yogyakarta dipenuhi massa pengajian yang datang dari berbagai daerah. Kenapa mereka hadir? Mereka hadir tidak dengan tangan, hati, dan pikiran kosong, tetapi mereka hadir membawa ghirah (semangat) Quran, pikiran jernih, dan tentu sedang memenuhi panggilan hati untuk menyimak sekelumit nasehat dari Ulamanya. Hadir karena Al-Quran telah dinistakan, katanya. Mereka yang hadir layak disebut telah merasakan nikmat kuntum khoiro ummah, nikmat kamu adalah sebaik-baik umat. Apakah kita tak mau dilabel demikian? Caranya cukup dengan beramar makruf dan nahi munkar, itu saja.
Berbeda dari pengajian biasanya, animo masyarakat tak kunjung reda untuk menggelorakan kembali semangat juang dalam menjaga spirit aksi 212 akhir tahun lalu. Perlu diingat, massa yang berjumlah lebih dari tujuh juta lebih itu adalah bayaran. Pertanyaannya, partai mana yang berhasil mengumpulkan massa sebanyak itu? Ormas Islam mana yang bisa mendanai massa sebanyak itu? Menariknya, para Ulama yang mampu menggerakkan massa sebanyak itu atas izin Allah Azza Wa Jalla. Allah Maha Kaya. Allah lah yang membayar pasukan putih itu.
Selama ini, stigma yang menjangkiti kaum muslim Indonesia adalah perbedaan dan perpecahan. Perbedaan pendapat diantara sekian banyak Ulamanya, perihal penentuan awal bulan, qunut, hukum aksi (demo), kaidah sholat jumat dan furu’ fiqih lainnya. Semua seakan terbantah, ketika gelombang persatuan silih berganti mewarnai spirit kaum muslimin Indonesia dan semua itu dimulai dari cara para Ulamanya bersikap.
Kini, sungguh anggun Ulama bersikap. Soal perbedaan, alih-alih mencari perbedaan, justru Ulama menekankan persamaan akidah dan ukhuwah Islamiah diantara kaum muslimin. Suku, bahasa, usia, dan watak boleh membedakan, tapi akidah tetap sama hingga ajal. Ada kaum muda dan juga kaum sampun sepuh, tapi semua rukun. Ada orang jawa, madura, sumatera serta sumbawa, tapi semua bersaudara.
Alhamdulillah, umat muslim tak sekonyong masa penjajahan dulu yang ditutup hampir di semua lini informasi dan akses pendidikan kepada umat muslim. Kini, umat muslim dan masyarakat umumnya melek akan aturan dan isu yang berkembang. Mereka mencoba melihat secara jernih persoalan yang ada dan berbekal kaca mata Islam, sehingga menghasilkan formula yang cukup gemilang dan tak lepas dari peran Ulamanya.
Ketika para Ulama mulai menyerukan sebuah kebenaran, lantaran agama yang hanif ini seakan diobok-obok oleh oknum di luar agama yang sok-sokan tahu dan paham Islam, maka di saat yang sama masyarakat dapat menerima kebenaran itu dengan bijak. Oknum itu salah dan proses persidangan mulai berjalan di meja hijau.
Tak disangka, orang benar dan memperjuangkan kebenaran selalu punya musuh. Musuh yang tidak gandrung akan nilai-nilai kebenaran. Ulama dikriminalisasi.
Akhir-akhir ini, mencuat kabar fitnah kepada Ulama yang dituduh menistakan butir-butir Pancasila, padahal Ulama sendiri memperjuangkan Pancasila. Ada pula money laundry yang dituduhkan kepada Ulama, padahal tidak berdasar sama sekali karena dana umat adalah kembali lagi kepada umat. Menarik, biarkan proses hukum berjalan.
Tak menguras banyak pikiran, disadari dengan bijak bahwa hal tersebut menjadi ujian tersendiri bagi para Ulama kita yang tentu selalu ada balasan mulia dari Sang Pemilik Makar, Allah Azza Wa Jalla.
Masyarakat Islam Indonesia mulai sadar bahwa mereka sedang menghadapi serangkaian agenda pembodohan, sehingga tak mau dibodohi. Masyarakat Islam sadar bahwa Ulama tak hanya menjadi tempat mengadu keilmuan, namun juga menjadi pemimpin. Masyarakat Islam lebih sadar bahwa yang patut diteladani adalah Ulamanya. Masyarakat Islam semakin sadar akan jati diri Islam yang bangkit dengan bangkitnya dakwah Ulama.
Ulama kini menjadi sosok yang dikagumi. Mereka memiliki integritas komunal yang tak terbantahkan lagi. Hingga kini tak perlu ditanya lagi, bahwa Ulama adalah Ulil Amri. read more

​Sabar dan Salat: Obat Hati Seorang Muslim

Oleh: Muhammad Adnan/ Nindy Oktavia

“When you’re surrounded by all these people, it can be lonelier than when you are by yourself. You can be in a huge crowd, but if you don’t feel like you can trust anyone or talk to anybody, you feel like you’re really alone.” -Fiona Apple

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang jatuh pada setiap tanggal 7 April merupakan gagasan WHO (World Health Organization) sebagai media untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu kesehatan yang dihadapi dunia saat ini. Setiap tahunnya, tema-tema yang diangkat pun berbeda, misalnya pada tahun 2015 World Health Day memiliki tema seputar keamanan makanan, lalu pada tahun 2016 tema yang diangkat mengenai penyakit diabetes. read more

Kunjungan ROHIS AL-IZZAH

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Kerohanian Islam (ROHIS) SMAN 1 PATI telah melakukan kunjungan ke Jamaah Shalahuddin pada hari Sabtu, 1 April 2017. Kunjungan yang dilakukan dalam rangka rihlah ini diikuti 19 peserta ikhwan, 17 peserta akhwat, 5 guru Agama Islam, dan 4 perwakilan dari Forum Pemuda Pelajar (FPP).
Selama berada di lingkungan Jamaah Shalahuddin, peserta melakukan kegiatan-kegiatan berikut :

1. Sambutan Jamaah Shalahuddin

2. Penyampaian profil Jamaah Shalahuddin read more

Racun-Racun Hati #2

oleh : Ust. Rudi Hudzaifah, S.Pd.I dalam i-Lecture Kamis Sore

1. Lisan

Racun hati yang berasal dari lisan ada tiga, yaitu ghibah, namimah (mengadu domba), dan pujian.

Memuji seseorang merupakan hal yang seringkali kita lakukan. Namun perlu kita ketahui bahwa saat memuji seseorang hendaknya harus berhati-hati, jangan terlalu berlebihan karena hal itu dapat menjerumuskan orang lain ke dalam perasaan sombong.

Seperi saat Rasulullah SAW. mendengar seorang muslim memuji saudaranya dengan sangat berlebihan, beliau pun berkata “Celaka engkau ! engkau sedang menggorok leher saudaramu.” (HR Bukhori). read more

HARI FILM NASIONAL :

diilustrasikan oleh Bagus Faza Mujtaba

Keberadaan film di Indonesia sudah ada sejak lama, bahkan sejak saat masa penjajahan. Tepatnya bermula sekitar tahun 1926. Sejarah dari dunia perfilman Indonesia terbilang cukup panjang dan berliku selain bersaing dengan film asing.  Kualitas sebuah film juga mempengaruhi minat penonton. Tahun 1980-an dapat dikatakan sebagai tahun keemasan bagi dunia perfilman Indonesia karena pada tahun ini banyak film tanah air yang berkualitas memenuhi beberapa bioskop lokal. Namun memasuki tahun 1990-an Indonesia mengalami sedikit kemunduran di bidang film karena banyaknya produksi film dengan konten dewasa dan industri film barat juga mulai memasuki bioskop-bioskop di tanah air. Tapi disela-sela persaingan film-film tersebut, beberapa film dengan konten petualangan anak-anak dan percintaan remaja pun muncul dan cukup membawa angin segar pada dunia perfilman. Seiring berjalannya waktu, minat penonton berubah dan membuat para sineas atau film maker berlomba membuat sebuah film dengan konten yang positif agar dapat merangkul semua kalangan. Genre keluarga, remaja, dan adaptasi dari sebuah novel menjadi andalan para sutradara. Bahkan beberapa industri film kini mulai memproduksi film dengan konsep islami sebagai sarana dakwah walaupun masih banyak rintangan dan tantangan dalam pembuatan dan promosinya. read more