Sejarah

I.1. Latar Belakang Lahirnya Jama’ah dan Pokok Kebijaksanaannya.

Ada dua hal utama yang perlu diperhatikan sebagai Faktor-faktor yang mempengaruhi baik lahir maupun pokok kebijaksanaannya.

Hal Pertama adalah:   Faktor-faktor luar (Eksternal), yang berupa situasi dan kondisi dibatas Kampus UGM, serta iklim kehidupaan keagamaan dan kemasyarakatan di dalamnya.

Hal Kedua adalah:     Faktor-faktor dalam (Internal), yang berupa tuntutan keadaan yang ada dalam diri jama’ah itu sendiri, yakni karakteristik waktu studi, potensi kemampuan dan keterampilan pengelola.

I.1.1. FAKTOR-FAKTOR LUAR

Sikon kampus serta iklim kehidupan kampus saat itu, antara tahun-tahun 1972 s/d 1978, sangat diwarnai oleh bau “politik kampus”. Yakni pertentangan yang tajam antara kelompok-kelompok ideologis. Yang paling menonjol adalah dua kekuatan besar GMNI dan HMI.

Iklim yang demikian sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup keagamaan. Setiap kegiatan keagamaan selalu ditarik ke dalam term politis tersebut. Dengan demikian maka partisipasi warga muslim di luar kelompok ideologis Islam (GMNI) baik yang berada dalam kelompok maupun “masa apung” menjadi sangat kecil.

Keadaan ini dipergawat lagi dengan miskinnya kreativitas, baik jenis maupun mutu kegiatan. Kegiatan keagamaan hanya terbatas pada peringatan-peringatan hari besar Islam, dengan jenis dan tingkat penyajian dari itu ke itu juga. Dengan penyelenggara yang itu-itu juga.

Sementara itu acara-acara di luar keagamaan berlangsung meriah dan ditangani cukup baik.

Keadaan itu membawa pengaruh kepada citra bahwa kelompok Islam tidak punya kemampuan dalam pelaksana kegiatan, tumpul kreativitasnya, pandai omong tapi kerja nol besar. Kenyataan ketidakmampuan mengolah, mengatur dan menampilkan acara-acara keagamaan itu saja, sudah merupakan kenyataan yang sulit dibantah. Belum lagi bila ditinjau sepak terjang beberapa personal yang aktif dalam kepanitiaan, yang memang iklimnya agak “semrawut”, yang kadang-kadang memperkuat kesan jelek tersebut.

Usaha-usaha menembus situasi yang rawan tersebut bukan tidak ada. Akan tetapi kebanyakan kandas dihadapkan pada kekokohan “sistem politik” Kampus saat itu. Momentum tersebut baru didapat tahun 1976, ketika “JARI JEMARI ALLAH” mengatur pertemuan beberapa individu yang meski tidak saling kenal sebelumnya, namun memendam ide, kerinduan dan dambaan yang sama akan terciptanya situasi keagamaan yang lebih baik di Kampus UGM.

Diawali dengan kegiatan berlabel “MAULID POP 1976”, berlanjut dengan Pertama kali diselenggarakan Ramadhan in Campus (RIC) I, maka “kebekuan” Kampus akan gerak keagamaan mulai mencair. Tahun itu pula, di tengah acara RIC I, diresmikan nama “JAMA’AH SHALAHUDDIN” (waktu itu dicantumkan sebagai “jema’at” bukan jama’ah).

Peristiwa ini cukup penting, karena sejak saat itu proses “saling gosok” terjadi cukup intens sehingga dicapai kesepakatan untuk mengelola lebih lanjut acara-acara keagamaan di Kampus UGM, di masa-masa mendatang.

Mengacu pada dasar-dasar geraknya, kesan bahwa Islam milik golongan, tidak kreatif, jorok dan acak-acakan, pelan-pelan mampu dihapus lewat kegiatan-kegiatan yang ditampilkan secara lebih baik dan seksama. Citra jelek tentang orang Islam makin menipis. Tingkat partisipasi naik.

Kerja keras itu mulai membuahkan hasil.

I.1.2.    FAKTOR-FAKTOR DALAM

Pribadi-pribadi yang terlibat dalam kegiatan Jama’ah ini, baik yang mengelola maupun partisipan penikmat acaranya, memiliki keterbatasan serta potensi tertentu. Pertama tentu saja disebabkan kebanyakan dari mereka adalah belajar dan merampungkan proses studinya. Tentu jauh dari keinginan bahwa yang terlibat kegiatan, terutama penyelenggara, akan mengalami hambatan studi.

Kedua, bahwa tingkat keterampilan dan penguasaan pelaksana kerja berbeda-beda. Demikian juga pengalaman-pengalaman “kerja” yang dimilki. Hal itu akan berpengaruh dalam memilih pola mekanisme kerja dan kebijaksanaan program.

Karakter “waktu” itu seakan menentukan Shalahuddin adalah tempat singgah sesaat (terminal), di mana disaat singgah yang singkat itu ia mampu melihat kebaikan dan kebenaran Islam. Untuk selanjutnya diharap mampu memantapkan proses keterlibatannya dengan Islam ke arah yang lebih nyata.

Di samping itu, mengatur kegiatan dengan mekanisme “organisasi formal” sebagaimana yang lazim ada, kiranya hanya akan lebih mematikan gerak. Karena tetap harus diingat syarat bagi organisasi yang baik tentu dibutuhkan adanya tingkat disiplin dan kesadaran yang cukup memadai. Justru biasanya itulah masalah serius yang mesti harus diatasi pertama kali.

Oleh karena itu maka dituntut adanya karakter mekanis dari pelaksanaan kerja, yang bukan sekedar “organisasi formal” sebagaimana biasa. Hadirnya warna-warna khas yang mengarah kepada persaudaraan dan keterbukaan (solidaritas) lebih ditekankan di samping disiplin dan ketertiban.

Fungsi-fungsi inilah yang dicoba jabarkan sebagai karakteristik kelompok.

  1. GARIS POKOK KEBIJAKSANAAN GERAK DAN LANGKAH

Lahir dalam situasi dan kondisi sebagaimana diuraikan di atas, Jama’ah mencoba merumuskan garis-garis pokok kebijaksanaan yang mendasari gerak dan langkah kerja yang diprogramkan, yang memiliki relevansi dengan keinginan mendobrak iklim beku yang ada serta menciptakan iklim yang favourable bagi hidup keagamaan di Kampus UGM.

Kesepakatan dasar pertama yang mampu dicapai, tertuang dalam Rumusan 3 butir kebijaksanaan dan 4 butir sikap penjabaran. Di mana semuanya meniti pada langkah-langkah yang sederhana—realistik namun bernilai strategis dan mendasar. Ketujuh butir ini seakan-akan menjadi landasan umum dari setiap program yang dirancang kemudian.

Kesepakatan Kedua adalah tentang bidang garap yang disasar.

Kesepakatan Ketiga tentang ciri kerja dan karakteristik mekanisme “organisasi” Jama’ah.

3 Butir Kebijaksanaan : Tentang tujuan yang ingin dicapai.

  • Terjalinnya ukhuwah antara warga muslim di Kampus UGM, tanpa memandang kotak kotak kelompok ideologis.
  • Terciptanya iklim yang kreatif—inovatif dalam menggarap dan menyelenggarakan kegiatan keagamaan, menjauhi konflik politis.
  • Terwujudnya penghayatan penyelenggaraan kegiatan kerja yang :

Sungguh, ikhlas, dedikatif yang mengutamakan kerja nyata meskipun kecil dalam skala daripada omong besar namun tanpa realisasi.

II.1.2.  4 Butir Penjabaran Sikap : Untuk meletakkan di dalam diri pengelola beberapa kerangka dasar penghayatan dalam menjalankan           kegiatan.

1.2.1.   Kerja keras tanpa kenal batas status dan kelas-kelas.

1.2.2.   Kerapihan kerja dan diarahkan sempurna, terencana dan nyata, berdisiplin.

1.2.3.   Ikhlas sepi publisitas, mengarah pada Prestasi Kerja, dedikatif terhadap kelompok, bukan diri pribadi.

1.2.4.   Mengenal batas gerak, menghayati ruang—ajang dan kiprah kegiatan, menjauhi “term politis” serta menyalurkan minat politik dalam                   kegiatan- kegiatan “di luar” lingkup Jama’ah.

 

Lambang JAMA’AH SHALAHUDDIN UGM

logo js

Lambang Jama’ah Shalahuddin berupa tulisan Shalahuddin berbentuk belah ketupat yang menggunakan huruf Arab dengan jenis huruf Koufi Jalli, yang ditopang oleh trapesium siku-siku yang ditegakkan dan dicerminkan pada sisi terpendeknya. Semua terlukis dengan warna biru di atas dasar putih.

Lambang Jama’ah Shalahuddin bermakna:

  1. Berisi tulisan Shalahuddin.
  2. Arti tulisan harfiahnya adalah pelurus agama.
  3. Merupakan salah seorang pahlawan perang salib.
  4. Dibentuk dalam dimensi geometris berwujud kotak yang melambangkan kekompakan.
  5. Pasangan bentuk kotak yang melambangkan suatu wadah yang kokoh bagi pembinaan jama’ah/ummat islam.
  6. Konstruksi logo menggunakan garis-garis yang tegas, melambangkan ketegasan sikap dan berpikir Jama’ah Shalahuddin.

 

Berikut Merupakan Daftar Ketua Umum Jama’ah Shalahuddin UGM Sepanjang Sejarah:

1397 H / 1976-1977 M : Muslich Zainal Asikin (FT-Sipil)

1398 H / 1977-1978 M : Muslich Zainal Asikin (FT-Sipil)

1399 H / 1978-1979 M : Ahmad Fanani (FT-Arsitektur)

1400 H / 1979-1980 M : Syamhari Baswedan (FE)

1401 H / 1980-1981 M : Muhammad Thoyibi (Kedokteran)

1402 H / 1981-1982 M : Mansyur Romi (Kedokteran)

1403 H / 1982-1983 M : Fauzar Rohani (Pertanian)

1404 H / 1983-1984 M : Sujud Hernowo (FKT-alm)

1405 H / 1984-1985 M : Sujud Hernowo (FKT-alm)

1406 H / 1985-1986 M : Agus Priyono (FE)

1407 H / 1986-1987 M : Ahmad Bahrodin (FS)

1408 H / 1987-1988 M : Cholid Mahmud (FT-Sipil)

1409 H / 1988-1989 M : Cholid Mahmud (FT-Sipil)

1410 H / 1989-1990 M : Thonthowi Djauhari (FNT-alm)

1411 H / 1990-1991 M : Muhammad Wasis Wildan (FT-Mesin)

1412 H / 1991-1992 M : Muhammad Wajdi Rahman (Fisipol)

1413 H / 1992-1993 M : Triyatmo (FT-Mesin)

1414 H / 1993-1994 M : Syamsul Mua’arif Husda (FT-Mesin)

1415 H / 1994-1995 M : Sri Harjono (Fisipol)

1416 H / 1995-1996 M : Suhartono (Fisipol)

1417 H / 1996-1997 M : Hasto Karyantoro (Fisipol)

1418 H / 1997-1998 M : Muhammad Arif Rahman (FT-Nuklir)

1419 H / 1998-1999 M : Maschun Syarifuddin (Kedokteran)

1420 H / 1999-2000 M : Muhammad Hermawan Eriadi (MIPA-Fisika)

1421 H / 2000-2001 M : Fitrian Adhi Prabawa (FT-Sipil)

1422 H / 2001-2002 M : Budhi Handoyo Nugroho (MIPA-Statistik)

1423 H / 2002-2003 M : Hafidh Zaini (Kedokteran)

1424 H / 2003-2004 M : Yanuar Reza Yulias (TP)

1425 H / 2004-2005 M : Miftahul Huda (MIPA)

1426 H / 2005-2006 M : Sirojuddin Latif (TP)

1427 H / 2006-2007 M : Andi Prabowo (Hukum)

1428 H / 2007-2008 M : Nia Suryana (Pertanian)

1429 H / 2008-2009 M : Edi Nugroho (Hukum-Ilmu Hukum)

1430 H / 2009-2010 M : Syahril Aditya Ginanjar (Teknik-Teknik Elektro)

1431 H / 2010-2011 M : Aqil Wilda Arief (Teknik-Teknik Sipil)

1432 H / 2011-2012 M : Akhmad Arwyn Imamurrozi (Teknik-Teknik Nuklir)

1433 H / 2012-2013 M : Arif Nurhayanto (Psikologi-Psikologi)

1434 H / 2013-2014 M : Efri Dian Kusuma (Geografi-Geografi)

1434 H / 2013-2014 M : Muhammad Ali (Teknik-Teknik Nuklir)

1435 H / 2014-2015 M : Abdullah Arif (Filsafat)

1436 H / 2015-2016 M : Wisnu Al Amin (Ilmu Sosial dan Politik-Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan)

1437 H / 2016-2017 M : Aldy Pradhana (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam-Fisika)

1438 H / 2017-2018 M : Yarabisa Yanuar (Teknik- Teknik Mesin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *